Beyond nonviolence and meditation ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

4

Beyond nonviolence and meditation ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Over time I have come to realize that people often associate Buddhism and Buddhists with peace, meditation, and nonviolence. In fact many seem to think that saffron or maroon robes and a peaceful smile are all it takes to be a Buddhist. As a fanatical Buddhist myself, I must take pride in this reputation, particularly the nonviolent aspect of it, which is so rare in this age of war and violence, and especially religious violence. Throughout the history of humankind, religion seems to beget brutality. Even today religious-extremist violence dominates the news. Yet I think I can say with confidence that so far we Buddhists have not disgraced ourselves. Violence has never played a part in propagating Buddhism. However, as a trained Buddhist, I also feel a little discontented when Buddhism is associated with nothing beyond vegetarianism, nonviolence, peace, and meditation. Prince Siddhartha, who sacrificed all the comforts and luxuries of palace life, must have been searching for more than passivity and shrubbery when he set out to discover enlightenment.

from the book What Makes You Not a Buddhist

Melampaui tanpa kekerasan dan meditasi ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa orang sering menyamakan Buddhisme dan Buddhis dengan damai, meditasi, dan tanpa kekerasan. Sebenarnya banyak yang menganggap bahwa safron atau jubah merah marun dan senyum yang  damai adalah semua syarat yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Buddhis. Sebagai seorang Buddha yang fanatik, saya harus bangga dengan reputasi ini, terutama aspek tanpa kekerasan darinya, yang sangat langka di zaman perang dan kekerasan ini, dan terutama kekerasan agama. Sepanjang sejarah umat manusia, agama mempertontonkan kebrutalan. Bahkan saat ini kekerasan agama-ekstremis mendominasi berita – berita. Namun saya pikir saya dapat mengatakan dengan percaya diri bahwa sejauh ini umat Buddha tidak mempermalukan diri sendiri. Kekerasan tidak pernah menjadi bagian dalam menyebarkan Buddhisme. Namun, sebagai seorang Buddhis yang terlatih, saya juga merasa sedikit tidak puas saat Buddhisme disamakan dengan vegetarisme, non-kekerasan, perdamaian, dan meditasi karena buddhisme melampaui itu semuanya. Pangeran Siddhartha, yang mengorbankan semua kenyamanan dan kemewahan kehidupan istana, pastilah telah mencari sesuatu yang lebih dari sekadar pasif dan ruwet saat dia bertekad untuk menemukan pencerahan.

Dari buku What Makes You Not a Buddhist