The Four Authentics ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

9

The Four Authentics ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Setting out on a spiritual path is a little like planning a trip — to Machu Picchu, for example. Some travellers will approach the project by investing a lot of time in reading travel books or Googling Internet sites about the best route to take and where to stay — a method that works, but only to a certain extent. Other travellers prefer a much simpler and safer method: to ask someone they know and trust who has already been to Machu Picchu to go with them and show them the way. Similarly, those wishing to follow the Buddhist path to enlightenment should rely on what are called in the teachings the “four authentics”: the authentic words of the Buddha (his teachings); the authentic clarification of the teachings that can be found in the shastras (commentaries) written by great masters of the past; the further clarification that is the result of authentic personal experience; and for this experience to find expression, an authentic guru.

 

from the book Not for Happiness: A Guide to the So-Called Preliminary Practices

source: http://www.shambhala.com/blog/dharma/the-four-authentics

 

Empat Otentisitas ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Menetapkan jalur spiritual sedikit mirip seperti merencanakan perjalanan – misalnya ke Machu Picchu. Beberapa pelancong akan mendekati proyek tersebut dengan menginvestasikan banyak waktu untuk membaca buku perjalanan atau googling situs Internet tentang rute terbaik untuk ditempuh dan mau tinggal dimana – metode ini berhasil, namun hanya sampai batas tertentu. Pelancong lain lebih memilih metode yang lebih sederhana dan lebih aman: meminta seseorang yang mereka kenal dan percayai  yang telah pergi ke Machu Picchu untuk pergi bersama mereka dan menunjukkan jalannya kepada mereka. Demikian pula, mereka yang ingin mengikuti jalur Buddhis menuju pencerahan harus bergantung pada apa yang disebut dalam ajaran "empat otentisitas": kata-kata otentik Sang Buddha (ajarannya); Klarifikasi otentik tentang ajaran yang dapat ditemukan di dalam shastras (komentar) yang ditulis oleh para master masa lalu; Klarifikasi lebih lanjut yang merupakan hasil dari pengalaman pribadi yang otentik; Dan untuk mengalami pengalaman yang otentik, dibutuhkan seorang guru yang otentik.

 

Dari buku Not for Happiness: A Guide to the So-Called Preliminary Practices

Sumber: http://www.shambhala.com/blog/dharma/the-four-authentics