Humble Gurus ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

4

Humble Gurus ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

It’s usually safer to go with a guru who is not interested in fame. There is a chance that some gurus might be madly designing and printing pamphlets and buttons for the sake of all sentient beings. Not all lamas who are zealously promoting themselves and sitting on the highest thrones have an ulterior motive; some might actually be humble. But the greatest teachers of recent times said repeatedly and with complete conviction that they were not enlightened. They claimed to be totally ordinary beings, and they exhibited their humble devotion to their own gurus and teachers again and again. For example, when I asked Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche for his treasure teachings, his response was that there are so many great treasure teachings and that his were completely useless. He said I should not be wasting my time pursuing him. Instead, most of the time all he talked about was his devotion to his own teachers.

from the book: The Guru Drinks Bourbon?

Guru – Guru yang rendah hati ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Biasanya lebih aman berlatih dibawah seorang guru yang tidak tertarik pada ketenaran. Ada kemungkinan secara tidak masuk akal, beberapa guru bisa merancang dan mencetak pamflet untuk kebahagiaan semua makhluk. Tidak semua Lama (bhiksu) yang dengan giat mempromosikan diri mereka dan duduk di takhta tertinggi, memiliki motif tersembunyi; Beberapa mungkin benar-benar rendah hati. Namun, akhir – ahir ini, Guru – guru yang hebat berulang kali mengatakannya dan dengan keyakinan penuh bahwa mereka tidak tercerahkan. Mereka mengaku sebagai makhluk biasa, dan mereka terus menerus menunjukkan devosi secara rendah hati kepada guru – guru mereka. Sebagai contoh, ketika saya bertanya kepada Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche atas ajaran – ajarannya yang berharga, tanggapannya adalah bahwa ada begitu banyak ajaran berharga diluar sana dan Ajaran berharga yang Beliau miliki sama sekali tidak berguna. Dia bilang seharusnya aku tidak menyia-nyiakan waktuku untuk mendekatinya. Sebaliknya, sebagian besar waktu yang dia bicarakan hanyalah devosinya kepada gurunya sendiri.

Dari buku: The Guru Drinks Bourbon?