Mahāsatipaṭṭhana Sutta DN 22

33

Dīgha Nikāya

Mahāvagga

Mahāsatipaṭṭhana Sutta

22. Khotbah Panjang Tentang Landasan-landasan Perhatian

Demikianlah Yang Kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di antara penduduk Kuru. Di sana terdapat sebuah pemukiman-pasar yang disebut Kammāsadhamma. Dan di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: ‘Para bhikkhu!’ ‘Bhagavā’, mereka menjawab, dan Sang Bhagavā berkata:

‘Ada, para bhikkhu, satu jalan ini untuk memurnikan makhluk-makhluk, untuk mengatasi dukacita dan kesusahan, untuk melenyapkan kesakitan dan kesedihan, untuk memperoleh jalan benar, untuk mencapai Nibbāna:—yaitu, empat landasan perhatian.

‘Apakah empat ini? Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani , tekun, dengan kesadaran jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan kerinduan dan kegelisahan terhadap dunia; ia berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan …; ia berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran; ia berdiam merenungkan objek-pikiran sebagai objek-pikiran, tekun, dengan kesadaran jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan kerinduan dan kegelisahan dunia.’

Perenungan jasmani

1. Perhatian Pada Pernafasan

‘Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani? Di sini seorang bhikkhu, setelah pergi ke hutan, atau ke bawah pohon, atau ke tempat sunyi, duduk bersila, menegakkan tubuhnya, setelah menegakkan perhatian di depannya. Dengan penuh perhatian ia menarik nafas, dengan penuh perhatian ia mengembuskan nafas. Menarik nafas panjang, ia mengetahui bahwa ia menarik nafas panjang, dan mengembuskan nafas panjang, ia mengetahui bahwa ia mengembuskan nafas panjang. Menarik nafas pendek, ia mengetahui bahwa ia menarik nafas pendek, dan mengembuskan nafas pendek, ia mengetahui bahwa ia mengembuskan nafas pendek. Ia melatih dirinya, dengan berpikir: “Aku akan menarik nafas, menyadari seluruh jasmani.” Ia melatih dirinya, dengan berpikir: “Aku akan mengembuskan nafas, menyadari seluruh jasmani.” Ia melatih dirinya, dengan berpikir: “Aku akan menarik nafas, dengan menenangkan seluruh proses jasmani.” Ia melatih dirinya, dengan berpikir: “Aku akan mengembuskan nafas, dengan menenangkan seluruh proses jasmani.” Bagaikan seorang akrobatik terampil atau pembantunya, ketika melakukan putaran panjang, tahu bahwa ia melakukan putaran panjang, atau ketika melakukan putaran pendek, tahu bahwa ia melakukan putaran pendek, demikian pula seorang bhikkhu, dalam menarik nafas panjang, tahu bahwa ia menarik nafas panjang … dan demikianlah ia melatih dirinya, dengan berpikir: “Aku akan mengembuskan nafas, dengan menenangkan seluruh jasmani.”’

Pandangan terang

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal, merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal dan eksternal. Ia berdiam merenungkan munculnya fenomena di dalam jasmani. Ia berdiam merenungkan lenyapnya fenomena di dalam jasmani. Ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya fenomena di dalam jasmani. Atau, penuh perhatian bahwa “ada jasmani” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan kesadaran. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

2. Empat Postur

‘Kemudian, seorang bhikkhu, ketika sedang berjalan, mengetahui bahwa ia sedang berjalan, ketika sedang berdiri, mengetahui bahwa ia sedang berdiri, ketika sedang duduk, mengetahui bahwa ia sedang duduk, ketika sedang berbaring, mengetahui bahwa ia sedang berbaring. Dalam cara bagaimanapun jasmaninya diposisikan, ia mengetahuinya sebagaimana adanya.

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, secara eksternal, dan secara internal maupun eksternal … Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

3. Kesadaran Jernih

‘Kemudian, seorang bhikkhu, ketika berjalan maju atau mundur, sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan, ketika melihat ke depan atau ke belakang ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan, ketika menunduk dan menegakkan badan ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan, ketika membawa jubah dalam dan luarnya dan mangkuknya ia sadar atas apa yang sedang ia lakukan, ketika makan, minum, mengunyah dan menelan ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan, dalam buang air atau kecil ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan, ketika berjalan, berdiri, duduk, jatuh tertidur dan terjaga dari tidur, ketika berbicara atau berdiam diri, ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan.

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, secara eksternal, dan secara internal maupun eksternal … Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

4. Perenungan Kejijikan: Bagian-bagian Tubuh

‘Kemudian, seorang bhikkhu memeriksa jasmani ini dari telapak kaki ke atas dan dari kulit kepala ke bawah, terbungkus oleh kulit dan dipenuhi kotoran: “Di dalam jasmani ini terdapat rambut-kepala, bulu-badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum, ginjal, jantung, hati, sekat rongga dada, limpa, paru-paru, selaput pengikat organ dalam, usus, isi perut, tinja, empedu, dahak, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak, ludah, ingus, cairan sendi, air kencing.” Bagaikan ada sebuah karung, yang terbuka di kedua ujungnya, penuh dengan berbagai jenis biji-bijian seperti beras-gunung, padi, kacang hijau, kacang merah, wijen, beras merah, dan seorang yang berpenglihatan baik membuka karung itu dan memeriksanya, dapat mengatakan: “Ini adalah beras-gunung, padi, kacang hijau, kacang merah, wijen, beras tanpa sekam”, demikian pula seorang bhikkhu memeriksa jasmani ini: “Di dalam jasmani ini terdapat rambut kepala … air kencing.”

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, secara eksternal, dan secara internal maupun eksternal … Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

5. Empat Unsur

‘Kemudian, seorang bhikkhu memeriksa jasmani ini, bagaimanapun posisinya, dalam hal unsur-unsur: “Terdapat dalam jasmani ini, unsur-tanah, unsur-air, unsur-api, unsur-angin.” Bagaikan seorang tukang daging yang terampil atau pembantunya, setelah menyembelih seekor sapi, duduk di persimpangan jalan dengan daging yang telah dibagi dalam beberapa bagian, demikianlah seorang bhikkhu memeriksa jasmani ini … dalam hal unsur-unsur: “Terdapat dalam jasmani ini, unsur-tanah, unsur-air, unsur-api, unsur-angin.”

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal … Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’
(6. Sembilan Perenungan Tanah Pemakaman)

‘Kemudian, seorang bhikkhu, seolah-olah ia melihat mayat yang dibuang di tanah pemakaman, satu, dua atau tiga hari setelah meninggal dunia, membengkak, berubah warna, membandingkan jasmani ini dengan mayat itu, berpikir: “Jasmani ini memiliki sifat yang sama, jasmani ini akan menjadi seperti mayat itu, jasmani ini tidak terbebas dari takdir itu.”

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, secara eksternal, dan secara internal maupun eksternal. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

‘Kemudian, seorang bhikkhu, seolah-olah ia melihat mayat di tanah pemakaman, dibuang, dimakan oleh burung gagak, elang atau hering, oleh anjing atau serigala, atau berbagai binatang lainnya, membandingkan jasmani ini dengan mayat itu, berpikir: “Jasmani ini memiliki sifat yang sama. Jasmani ini akan menjadi seperti mayat itu, jasmani ini tidak terbebas dari takdir itu.”

‘Kemudian, seorang bhikkhu, seolah-olah ia melihat mayat di tanah pemakaman, dibuang, kerangka tulang-belulang dengan daging dan darah, dirangkai oleh urat, … kerangka tulang-belulang tanpa daging berlumuran darah, dirangkai oleh urat, … kerangka tulang-belulang yang tanpa daging dan darah, dirangkai oleh urat, … tulang-belulang yang tersambung secara acak, berserakan di segala penjuru, tulang-lengan di sini, tulang-kaki di sana, tulang-kering di sini, tulang-paha di sana, tulang-panggul di sini, tulang-punggung di sini, tulang tengkorak di sana, membandingkan jasmani ini dengan mayat itu …

‘Kemudian, seorang bhikkhu, seolah-olah ia melihat mayat di tanah pemakaman, dibuang, tulangnya memutih, terlihat seperti kulit-kerang …, tulang-belulangnya menumpuk, setelah setahun …, tulang-belulangnya hancur menjadi bubuk, membandingkan jasmani ini dengan mayat itu, berpikir: “Jasmani ini memiliki sifat yang sama, jasmani ini akan menjadi seperti mayat itu, jasmani ini tidak terbebas dari takdir itu.”

Pandangan terang

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal, berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal dan eksternal. Ia berdiam merenungkan munculnya fenomena dalam jasmani, merenungkan lenyapnya fenomena dalam jasmani, ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya fenomena dalam jasmani. Atau, penuh perhatian bahwa “ada jasmani” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan kesadaran. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

Perenungan perasaan

‘Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan? Di sini, seorang bhikkhu yang sedang merasakan perasaan menyenangkan mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan menyenangkan; merasakan perasaan menyakitkan, ia mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan menyakitkan; merasakan perasaan yang bukan menyenangkan juga bukan menyakitkan ia mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan yang bukan menyenangkan juga bukan menyakitkan; merasakan perasaan indria yang menyenangkan ia mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan indria yang menyenangkan; merasakan perasaan non-indria yang menyenangkan ia mengetahui bahwa ia merasakan perasaan non-indria yang menyenangkan; merasakan perasaan indria yang menyakitkan …; merasakan perasaan non-indria yang menyakitkan …; merasakan perasaan indria yang bukan menyakitkan juga bukan menyenangkan …; merasakan perasaan non-indria yang bukan menyakitkan juga bukan menyenangkan ia mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan non-indria yang bukan menyakitkan juga bukan menyenangkan.’

Pandangan terang

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan secara internal. Ia merenungkan perasaan sebagai perasaan secara eksternal … Ia berdiam merenungkan munculnya fenomena dalam perasaan, lenyapnya fenomena serta muncul dan lenyapnya fenomena dalam perasaan. Atau, penuh perhatian bahwa “ada perasaan” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan kesadaran. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan.’

Perenungan pikiran

‘Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berrdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran? Di sini, seorang bhikkhu mengetahui pikiran penuh nafsu sebagai penuh nafsu, pikiran yang bebas dari nafsu sebagai pikiran yang bebas dari nafsu; pikiran membenci sebagai pikiran membenci, pikiran yang bebas dari kebencian sebagai pikiran yang bebas dari kebencian; pikiran yang terdelusi sebagai pikiran yang terdelusi, pikiran yang tidak terdelusi sebagai pikiran yang tidak terdelusi; pikiran mengerut sebagai pikiran mengerut, pikiran kacau sebagai pikiran kacau, pikiran terkembang sebagai pikiran terkembang, pikiran yang tidak terkembang sebagai pikiran yang tidak terkembang; pikiran yang terlampaui sebagai pikiran terlampaui, pikiran tidak terlampaui sebagai pikiran tidak terlampaui; pikiran terkonsentrasi sebagai pikiran terkonsentrasi, pikiran tidak terkonsentrasi sebagai pikiran tidak terkonsentrasi; pikiran terbebas sebagai pikiran terbebas, pikiran tidak terbebas sebagai pikiran tidak terbebas.’

Pandangan terang

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran secara internal. Ia merenungkan pikiran sebagai pikiran secara eksternal … Ia berdiam merenungkan munculnya fenomena dalam pikiran … Atau, penuh perhatian bahwa “ada pikiran” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan kesadaran. Dan ia berdiam terlepas, tidak menggenggam pada apapun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran.’

Perenungan objek-objek pikiran

‘Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran?’

1. Lima Rintangan

‘Di sini, seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan lima rintangan. Bagaimanakah ia melakukannya? Di sini, para bhikkhu, jika keinginan-indria hadir dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui bahwa keinginan-indria hadir. Jika keinginan-indria tidak ada dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui bahwa keinginan-indria tidak ada. Dan ia mengetahui bagaimana keinginan-indria yang belum muncul itu muncul, dan ia mengetahui bagaimana menyingkirkan keinginan-indria yang telah muncul, dan ia mengetahui bagaimana ketidak-munculan di masa depan atas keinginan-indria yang telah disingkirkan.

‘Jika kebencian hadir dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui bahwa kebencian hadir … Dan ia mengetahui bagaimana ketidak-munculan di masa depan atas kebencian yang telah disingkirkan.

‘Jika ketumpulan dan kelambanan hadir dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui bahwa ketumpulan dan kelambanan hadir … Dan ia mengetahui bagaimana ketidak-munculan di masa depan atas ketumpulan dan kelambanan yang telah disingkirkan.

‘Jika kekhawatiran dan kegelisahan hadir dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui bahwa kekhawatiran dan kegelisahan hadir … Dan ia mengetahui bagaimana ketidak-munculan di masa depan atas kekhawatiran dan kegelisahan yang telah disingkirkan.

‘Jika keragu-raguan hadir dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui bahwa keragu-raguan hadir. Jika keragu-raguan tidak ada dalam dirinya, ia mengetahui bahwa keragu-raguan tidak ada. Dan ia mengetahui bagaimana keragu-raguan yang belum muncul itu muncul, dan ia mengetahui bagaimana menyingkirkan keragu-raguan yang telah muncul, dan ia mengetahui bagaimana ketidak-munculan di masa depan atas keragu-raguan yang telah disingkirkan.

Pandangan terang

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran secara internal … Ia berdiam merenungkan munculnya fenomena dalam objek-objek pikiran … Atau, penuh perhatian bahwa “ada objek-objek pikiran” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan kesadaran. Dan ia berdiam terlepas, tidak menggenggam pada apapun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan lima rintangan.’

2. Lima Kelompok Unsur

‘Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sehubungan dengan lima kelompok unsur kemelekatan. Bagaimanakah ia melakukannya? Di sini, seorang bhikkhu berpikir: “Demikianlah bentuk, demikianlah munculnya bentuk, demikianlah lenyapnya bentuk; demikianlah perasaan, demikianlah munculnya perasaan, demikianlah lenyapnya perasaan; demikianlah persepsi, demikianlah munculnya persepsi, demikianlah lenyapnya persepsi; demikianlah bentukan-bentukan pikiran, demikianlah munculnya bentukan-bentukan pikiran, demikianlah lenyapnya bentukan-bentukan pikiran; demikianlah kesadaran, demikianlah munculnya kesadaran, demikianlah lenyapnya kesadaran.’

Pandangan terang

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran secara internal … Dan ia berdiam terlepas, tidak menggenggam pada apapun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan lima kelompok unsur kemelekatan.’

3. Enam Landasan Indria Internal dan Eksternal

‘Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sehubungan dengan enam landasan-indria internal dan eksternal. Bagaimanakah ia melakukannya? Di sini seorang bhikkhu mengetahui mata, mengetahui objek-objek penglihatan, dan ia mengetahui belenggu apapun yang muncul dengan bergantung pada kedua hal ini. Dan ia mengetahui bagaimana belenggu yang belum muncul itu muncul, dan ia mengetahui bagaimana melepaskan belenggu yang telah muncul, dan ia mengetahui bagaimana ketidak-munculan di masa depan atas belenggu yang telah dilepaskan itu. Ia mengetahui telinga dan suara-suara … Ia mengetahui hidung dan bau-bauan … Ia mengetahui badan dan objek-objek sentuhan … Ia mengetahui pikiran dan mengetahui objek-objek pikiran, dan ia mengetahui belenggu apapun yang muncul bergantung pada kedua hal ini. Dan ia mengetahui bagaimana belenggu yang belum muncul itu muncul, dan ia mengetahui bagaimana melepaskan belenggu yang telah muncul, dan ia mengetahui bagaimana ketidak-munculan di masa depan atas belenggu yang telah dilepaskan itu.

Pandangan terang

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran secara internal … Dan ia berdiam terlepas, tidak menggenggam pada apapun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan enam landasan indria internal dan eksternal.’

4. Tujuh Faktor Penerangan Sempurna

‘Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sehubungan dengan tujuh faktor penerangan sempurna. Bagaimanakah ia melakukannya? Di sini, para bhikkhu, jika faktor penerangan sempurna perhatian hadir dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui kehadirannya. Jika faktor penerangan sempurna perhatian tidak hadir dalam dirinya, ia mengetahui ketidak-hadirannya. Dan ia mengetahui bagaimana faktor penerangan sempurna perhatian yang belum muncul itu muncul, dan ia mengetahui bagaimana kesempurnaan dari pengembangan faktor penerangan sempurna perhatian itu muncul. Jika faktor penerangan sempurna penyelidikan-kondisi-kondisi hadir dalam dirinya … Jika faktor penerangan sempurna kegigihan hadir dalam dirinya … Jika faktor penerangan sempurna kegembiraan hadir dalam dirinya … Jika faktor penerangan sempurna ketenangan hadir dalam dirinya … Jika faktor penerangan sempurna konsentrasi hadir dalam dirinya … jika faktor penerangan sempurna keseimbangan hadir dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui kehadirannya. Jika faktor penerangan sempurna keseimbangan tidak hadir dalam dirinya, ia mengetahui ketidak-hadirannya. Dan ia mengetahui bagaimana faktor penerangan sempurna keseimbangan yang belum muncul itu muncul, dan ia mengetahui bagaimana kesempurnaan dari pengembangan faktor penerangan sempurna keseimbangan itu muncul.

Pandangan terang

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran secara internal … Dan ia berdiam terlepas, tidak menggenggam pada apapun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan tujuh faktor penerangan sempurna.’

5. Empat Kebenaran Mulia

‘Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sehubungan dengan Empat Kebenaran Mulia. Bagaimanakah ia melakukannya? Di sini, seorang bhikkhu mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah penderitaan”; ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah asal-mula penderitaan”; ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah lenyapnya penderitaan”; ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.”

’Dan apakah, para bhikkhu, Kebenaran Mulia Penderitaan? Kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan, dukacita adalah penderitaan, ratapan adalah penderitaan, kesakitan adalah penderitaan, kesedihan dan kesusahan adalah penderitaan. Berkumpul dengan yang tidak dicintai adalah penderitaan, berpisah dari yang dicintai adalah penderitaan, tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan. Singkatnya, lima kelompok unsur kemelekatan adalah penderitaan.

‘Dan apakah, para bhikkhu, kelahiran? Makhluk apapun juga, kelompok makhluk apapun juga, ada kelahiran, penjelmaan, kedatangan, kemunculan kelompok-kelompok unsur, mendapatkan enam landasan. Itu, para bhikkhu, adalah yang disebut kelahiran.

‘Dan apakah penuaan? Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apapun juga, mengalami penuaan, jompo, gigi tanggal, rambut memutih, kulit keriput, mengerut seiring usia, indria-indria melemah, itu, para bhikkhu, disebut penuaan.

‘Dan apakah kematian? Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apapun juga, ada mengalami kematian, musnah, terputus, lenyap, meninggal dunia, sekarat, berakhir, terputusnya kelompok-kelompok unsur, lepasnya jasmani, itu, para bhikkhu, disebut kematian.

‘Dan apakah dukacita? Ketika, karena kemalangan apapun juga, seseorang terpengaruh oleh sesuatu yang bersifat menyakitkan, berduka, berkabung, bersusah hati, kesedihan, kesengsaraan, itu, para bhikkhu, disebut dukacita.

‘Dan apakah ratapan? Ketika, karena kemalangan apapun juga, seseorang terpengaruh oleh sesuatu yang bersifat menyakitkan dan menjadi menangis, mengeluh, meraung karena sedih, meratap, itu, para bhikkhu, disebut ratapan.

‘Dan apakah kesakitan? Perasaan sakit apapun pada jasmani, perasaan tidak menyenangkan pada jasmani, perasaan sakit atau tidak menyenangkan yang muncul dari kontak jasmani, itu, para bhikkhu, disebut kesakitan.

‘Dan apakah kesedihan? Perasaan sakit apapun pada pikiran, perasaan tidak menyenangkan pada pikiran, perasaan sakit atau tidak menyenangkan yang muncul dari kontak pikiran, itu, para bhikkhu, disebut kesedihan.

‘Dan apakah kesusahan? Ketika, karena kemalangan apapun juga, seseorang terpengaruh oleh sesuatu yang bersifat menyakitkan, bersusah hati, kesusahan besar, didera oleh kesusahan, oleh kesusahan besar, itu, para bhikkhu, disebut kesusahan.

‘Dan apakah, para bhikkhu, berkumpul dengan yang tidak dicintai? Di sini, siapapun yang tidak diinginkan, tidak disukai, objek-penglihatan, bau-bauan, rasa kecapan, objek sentuhan atau objek pikiran yang tidak menyenangkan, atau siapapun yang bertemu dengan orang yang mengharapkan kemalangannya, orang yang mengharapkan kecelakaannya, ketidak-nyamanannya, ketidak-amanannya, yang dengannya mereka berkumpul, bergaul, berhubungan, bergabung, itu, para bhikkhu, disebut berkumpul dengan yang tidak dicintai.

‘Dan apakah, para bhikkhu, berpisah dengan yang dicintai? Di sini, siapapun yang diinginkan, disukai, objek-penglihatan, bau-bauan, rasa kecapan, objek sentuhan atau objek pikiran yang menyenangkan, atau siapapun yang bertemu dengan orang yang mengharapkan kesejahteraannya, orang yang mengharapkan kebaikannya, kenyamanannya, keamanannya, ibu atau ayah atau saudara laki-laki atau perempuan atau sanak saudara atau sahabat atau kerabat sedarah, dan kemudian direnggut dari kebersamaan, pergaulan, hubungan, gabungan demikian, itu, para bhikkhu, disebut berpisah dari yang dicintai.

‘Dan apakah tidak mendapatkan apa yang diinginkan? Dalam diri makhluk-makhluk yang mengalami kelahiran, para bhikkhu, keinginan ini muncul: “Oh, sendainya kita tidak mengalami kelahiran, seandainya kita tidak dilahirkan!” Tetapi hal ini tidak mungkin dicapai hanya dengan menginginkan. Ini adalah tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Dalam diri makhluk-makhluk yang mengalami penuaan, penyakit, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan dan kesusahan muncul keinginan ini: “Oh, seandainya kita tidak mengalami penuaan, …, kesusahan, seandainya kita tidak bertemu dengan hal-hal ini!” Tetapi hal-hal ini tidak mungkin dicapai hanya dengan menginginkan. Ini adalah tidak mendapatkan apa yang diinginkan.

‘Dan bagaimanakah, para bhikkhu, singkatnya, lima kelompok unsur kemelekatan adalah penderitaan? Yaitu sebagai berikut: kelompok unsur kemelekatan bentuk, kelompok unsur kemelekatan perasaan, kelompok unsur kemelekatan persepsi, kelompok unsur kemelekatan bentukan-bentukan pikiran, kelompok unsur kemelekatan kesadaran. Ini adalah, singkatnya, lima kelompok unsur kemelekatan adalah penderitaan. Dan itu, para bhikkhu, disebut Kebenaran Mulia Penderitaan.

‘Dan apakah, para bhikkhu, Kebenaran Mulia Asal-mula Penderitaan? Yaitu, ketagihan yang memunculkan kelahiran, yang bergabung dengan kesenangan dan nafsu, mencari kenikmatan baru di sana-sini: dengan kata lain ketagihan akan kenikmatan-indria, ketagihan akan penjelmaan, dan ketagihan akan tanpa-penjelmaan.

‘Dan di manakah ketagihan ini muncul dan mengokohkan dirinya? Di manapun di dunia ini terdapat hal-hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, di sana ketagihan ini muncul dan mengokohkan dirinya.

‘Dan apakah di dunia ini hal-hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati? Mata di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, telinga …, hidung …, lidah …, badan …, pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana ketagihan ini muncul dan mengokohkan dirinya. Pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana ketagihan ini muncul dan mengokohkan dirinya.

‘Kesadaran-mata, kesadaran-telinga, kesadaran-hidung, kesadaran-lidah, kesadaran-badan, kesadaran-pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana ketagihan ini muncul dan mengokohkan dirinya.

‘Kontak-mata, kontak-telinga, kontak-hidung, kontak-lidah, kontak-badan, kontak-pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana ketagihan ini muncul dan mengokohkan dirinya.

‘Perasaan yang muncul dari kontak-mata, kontak-telinga, kontak-hidung, kontak-lidah, kontak-badan, kontak-pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana ketagihan ini muncul dan mengokohkan dirinya.

‘Persepsi penglihatan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana ketagihan ini muncul dan mengokohkan dirinya.

‘Kehendak sehubungan dengan penglihatan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana ketagihan ini muncul dan mengokohkan dirinya.

‘Keinginan akan pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana ketagihan ini muncul dan mengokohkan dirinya.

‘Pemikiran yang tertuju pada pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana ketagihan ini muncul dan mengokohkan dirinya.

‘Pertimbangan yang tertuju pada pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul dan mengokohkan dirinya. Dan itu, para bhikkhu, disebut Kebenaran Mulia Asal-mula Penderitaan.

‘Dan apakah, para bhikkhu, Kebenaran Mulia Lenyapnya Penderitaan? Yaitu peluruhan total dan padamnya ketagihan ini, melepaskan dan meninggalkan, kebebasan darinya, terlepas darinya. Dan bagaimanakah ketagihan ini ditinggalkan, bagaimanakah lenyapnya ini terjadi?

‘Di manapun di dunia ini terdapat hal-hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, di sana lenyapnya ini terjadi. Dan apakah di dunia ini hal-hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati?

‘Mata di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat din