Matahari yang Bersinar Terang – Bodhicaryāvatāra – Patrul Rinpoche

27
Dza Patrul Rinpoche

Matahari yang Bersinar Terang

Panduan Bertahap untuk Memeditasikan Bodhicaryāvatāra

Oleh Patrul Rinpoche

Dengan rasa bakti aku memberi penghormatan pada para Buddha yang telah mencapai kebahagiaan sempurna,

Kepada tubuh Dharma mereka, pewaris mereka yang mulia dan semua yang layak menerima penghormatan.

Sesuai dengan naskah-naskah suci, aku sekarang akan jelaskan dengan singkat Bagaimana membina perilaku yang tepat, sesuai dengan cara pewaris para Buddha. 1

Disini terdapat empat bagian:

  1. Praktisi, yang merupakan pendukung;
  2. Perilaku yang akan dilatih;
  3. Pelatihan itu sendiri; dan
  4. Buah dari Pelatihan tersebut.

PRAKTISI

Yang pertama, orang yang merupakan pendukung dari pelatihan adalah seseorang yang mempunyai semua kebebasan dan kekayaan, dan mereka yang mempunyai keyakinan dan welas asih.

PERILAKU YANG AKAN DILATIH

Yang kedua, Bodhicitta mempunyai dua aspek, yaitu: aspirasi dan aksi.

  1. Aspirasi

Mengenai hal ini, dikatakan:

Membangkitkan Bodhicitta adalah: demi manfaat makhluk lain, Merindukan untuk merealisasi pencerahan sempurna.2

Dengan kata lain, Bodhicitta Aspirasi adalah niat untuk mencapai pencerahan sempurna demi manfaat makhluk lain.

  1. Aksi

Aspek yang kedua adalah Bodhicitta aksi/tindakan yaitu komitmen untuk berlatih dalam jalur pelatihan para Bodhisattva.

Mengambil Ikrar Bodhisattva

Untuk mengambil bodhicitta jenis ini dalam arus batin kita, kita dapat menerima ikrar Bodhisattva dari seorang guru, yang diberikan dengan mengikuti prosedur ritual tertentu, apakah dari Chittamatra (Hanya Batin) atau Madhamika (Jalan Tengah). Namun di sini akan dibahas bagaimana kita dapat melakukan ini sendiri.

Untuk melakukan ini, terdapat tiga tahapan: (a) persiapan, (b) bagian utama, (c) kesimpulan.

  1. Persiapan

Persiapan terdiri dari tiga bagian: (i) membangkitkan antusiasme, (ii) latihan tujuh cabang, dan (iii) latihan batin.

(i)            Membangkitkan Antusiasme

Bangkitkan antusiasme terhadap manfaat dari bodhicitta, seperti yang telah dijelaskan dalam bab pertama dari teks Pengantar Menuju Jalan Bodhisattva.

[4]          Wujud manusia yang bebas dan istimewa ini sulit didapat.

Sekarang setelah kita memiliki kesempatan untuk merealisasi pontensi yang manusia seutuhnya,

Jika kesempatan ini tidak digunakan dengan baik, Bagaimana kita dapat berharap untuk mendapatkannya lagi?

[5]          Bagai kilatan petir di malam yang gelap dan berawan,

Yang meskipun singkat, memancarkan cahaya yang benderang, Meskipun sangat jarang terjadi, melalui kekuatan para Buddha,

Batin kebajikan terbit untuk waktu yang singkat pada makhluk di dunia.

[6]          Semua kebajikan yang biasa selamanya akan lemah, Sementara kenegatifan kuat dan susah ditahan —

Namun bagi batin yang berniat untuk merealisasi Kebuddhaan Sempurna, Kebajikan lain apa yang mampu menandinginya?

[7]          Merenungkan dengan bijak selama berkalpa-kalpa,

Para Buddha yang perkasa telah melihat manfaatnya yang luar biasa: Batin demikian membantu makhluk hidup yang tak terhingga jumlahnya Dengan mudah mencapai kondisi tertinggi dari kebahagiaan.

[8]          Bagi siapapun yang merindukan kemenangan atas derita kehidupan, Dan berharap untuk mengakhiri penderitaan yang lain,

Bagi mereka yang ingin mengalami sukacita melimpah — Buatlah mereka jangan sampai pernah berpaling dari bodhicitta.

[9]          Segera ketika bodhicitta lahir

Pada para makhluk yang lelah terperangkap dan diperbudak dalam samsara, Mereka disebut pewaris Buddha yang telah mencapai kebahagiaan sempurna. Dihormati para dewa, manusia, dan dunia.

[10]        Sama seperti ramuan ajaib para alkemis,

Bodhicitta mengambil tubuh manusia yang biasa, tidak murni ini

Dan mengubahnya menjadi tubuh Buddha yang tak ternilai — Demikianlah Bodhicitta itu: mari kita memegangnya erat!

[11]        Dengan kebijaksanaan mereka yang tanpa terbatas, satu-satunya pemandu para makhluk

Setelah menyelidiki secara menyeluruh dan dan melihat nilainya.

Jadi, siapapun yang merindukan kebebasan dari keadaan yang terkondisi Harus menggenggam bodhicitta yang sangat berharga ini dan menjaganya dengan baik.

[12]        Kebajikan yang lain adalah seperti pohon pisang raja: Mereka berbuah dan kemudian habis.

Namun pohon Bodhicitta yang menakjubkan terus menerus Menghasilkan buah, dan tidak berkurang, melainkan terus tumbuh.

[13]        Meskipun seseorang telah melakukan kejahatan yang berat, Melalui bangkitnya bodhicitta, seketika mereka terbebas,

Seperti seorang sahabat yang berani yang melenyapkan semua ketakutan — Jika demikian mengapa ‘kaum bijaksana’ gagal meyakininya?

[14]        Sama seperti api yang besar di akhir jaman,

Bodhicitta memusnahkan banyak perbuatan salah seketika. Demikianlah manfaatnya yang tak terukur,

Seperti yang dijelaskan Maitreya kepada Sudhana.

[15]        Pahamilah bahwa, dikatakan, Bodhicitta mempunyai dua aspek:

Batin yang beraspirasi untuk terjaga-bangun, Dan bodhicitta yang diterapkan.

[16]        Sama seperti orang yang mengerti perbedaan Antara ingin pergi dan mulai berangkat.

Yang bijaksana perlu mengerti dua hal ini, Mengenali perbedaan dan urutan keduanya.

[17]        Bodhicitta aspirasi membawa hasil yang luar biasa Meskipun kita masih tetap berputar dalam samsara;

Namun itu tidak menghasilkan aliran sungai kebajikan yang tak pernah berhenti, Karena aliran tersebut hanya muncul dari bodhicitta yang aktif.

[18]        Dimulai sejak kita secara bersungguh-sungguh mengambil Sikap yang permanen ini —

Batin yang beraspirasi untuk membebaskan sepenuhnya Makhluk-makhluk di alam-alam yang tak terbatas jumlahnya,

[19]        Sejak saat itu, meskipun saat kita tidur, Ataupun saat kehilangan perhatian,

Kekuatan kebajikan yang berlimpah dan tiada habisnya ini Akan meningkat, hingga seluas angkasa.

[20]        Ini dijelaskan oleh Buddha, Bersamaan dengan alasan pendukungnya,

Dalam pengajaran atas permintaan dari Subāhu

Demi mereka yang lebih tertarik pada jalur yang lebih rendah.

[21]        Jika kebajikan yang tak terbatas datang kepada siapa saja, Yang dengan maksud untuk bermanfaat,

Memiliki niat untuk meringankan sakit Dari mereka yang sakit kepala,

[22]        Tidaklah perlu lagi untuk menjelaskan harapan

Untuk mengusir penderitaan yang tak terhingga dari semua makhluk, Atau kerinduan agar mereka semua dapat mencapai

Kualitas-kualitas pencerahan yang tak terbatas.

[23]        Apakah para ayah dan ibu kita Mempunyai kemurahan hati seperti ini? Apakah para dewa atau petapa?

Atau bahkan Dewa Brahma yang kuasa?

[24]        Jika makhluk-makhluk itu bahkan tidak pernah Mempunyai aspirasi ini bagi diri mereka sendiri — Tidak juga dalam mimpi mereka — bagaimana mungkin Mereka membuat aspirasi ini bagi yang lain?

[25]        Pikiran seperti ini — menginginkan bagi yang lain

Apa yang bahkan mereka tidak inginkan bagi diri sendiri — Adalah kondisi pikiran yang luar biasa dan berharga.

Dan kemunculannya ajaib tidak seperti yang lain!

[26]        Sumber sukacita bagi mereka yang mengembara dalam eksistensi ini, Merupakan ramuan ajaib yang menyembuhkan penderitaan semua makhluk, Permata dalam batin yang tak ternilai ini—

Bagaimana mungkin kebajikan ini dapat diukur?

[27]        Jika harapan yang sederhana untuk memberi manfaat bagi yang lain, Melampaui persembahan untuk para Buddha,

Apakah perlu dijelaskan lebih lanjut seberapa bernilai

Berjuang demi kesejahteraan semua makhluk tanpa terkecuali?

[28]        Meskipun ingin menghindari penderitaan, Namun mereka malah berlari ke arah penderitaan. Mereka rindu kebahagiaan, namun bodohnya

Malah menghancurkan kebahagiaan layaknya musuh mereka.

[29]        Untuk memuaskan dengan segala bentuk sukacita, Dan memotong semua penderitaan

Bagi mereka yang tidak memiliki kebahagiaan sejati, Dan ditindas oleh belenggu penderitaan.

[30]        Untuk mengakhiri semua delusi mereka — Kebajikan apa yang dapat dibandingkan dengan ini? Teman mana yang dapat melakukan sebanyak ini? Apa lagi yang lebih bajik dari ini?

[31]        Meskipun mereka melakukan perbuatan baik sebagai balas budi masa lalu

Layak mendapatkan pujian, Apalagi menyebutkan Bodhisattva,

Yang tindakan sempurnaNya dilakukan tanpa diminta?

[32]        Ada mereka yang terkadang mempersembahkan, dan hanya kepada sedikit orang saja;

Persembahan mereka, tidak lebih dari makanan yang hanya dibuat sesaat, Dan dengan sikap yang tidak hormat, untuk gizi yang hanya setengah hari — Namun orang seperti itu dipuji dunia sebagai orang bajik.

[33]        Bagaimana ini dibandingkan dengan mereka yang telah memberi Selama berkalpa-kalpa lamanya kepada makhluk hidup yang tak terbatas. Terus menerus mengabulkan setiap harapan mereka:

Yaitu: Kebahagiaan tak tertandingi yang lahir dari kebuddhaan?

[34]        Dan mereka yang justru mengembangkan permusuhan Kepada para penolong ini, pewaris para Buddha,

Akan merana di neraka, seperti yang dikatakan oleh para bijaksana, Selama berkalpa-kalpa sesuai dengan lamanya kebencian mereka.

[35]        Sebaliknya, menghormati para pewaris tersebut dengan baik, Akan mendapatkan manfaat yang lebih besar.

Bahkan dalam situasi sulit, para pewaris Buddha

Tidak berbahaya, melainkan hanya kebajikan terus meningkat secara alami.

[36]        Aku membungkuk hormat kepada mereka yang memiliki Batin paling suci dan paling berharga!

Aku berlindung pada sumber sukacita agung itu,

Yang membawa kebahagiaan bahkan kepada yang menyakiti mereka.

(ii)           Latihan Tujuh Cabang

Sebelum mempraktikkan latihan tujuh cabang untuk praktik akumulasi, pikirkanlah bahwa Anda dan semua makhluk lain berkumpul bersama dalam kehadiran yang sesungguhnya di ladang kebajikan, dimana meliputi para Buddha sang pemenang, dan para Bodhisattva pewaris mereka, dan pikirkan kualitas-kualitas mereka yang menakjubkan.

Cabang Persembahan

Tata persembahan bunga, dupa yang wangi, pelita, air bersih, makanan dan minuman, sebanyak yang Anda bisa. Dan bayangkan gunung yang dipenuhi permata, hutan indah yang menarik, dan semua tempat yang belum terjamah yang memiliki keindahan alami yang luar biasa di dunia. Persembahan ini dikenal dengan “persembahan yang tidak Anda miliki”. Persembahkan keduanya — yang Anda miliki dan yang tidak dimiliki — dengan lantunan bait-bait berikut:

[1]          Agar aku bisa memiliki permata batin yang berharga ini,

Sekarang kubuat persembahan-persembahan terbaik kepada para Buddha, Dan Dharma yang suci — harta yang paling langka dan tanpa cacat —

Dan juga kepada para pewaris Buddha yang kualitas-kualitasNya tak terbatas.

[2]          Kupersembahkan aneka jenis bunga dan buah,

Setiap jenis obat yang menyembuhkan,

Setiap permata berharga yang dihasilkan dunia, Dan semua air murni dan paling segar.

[3]          Setiap pegunungan yang penuh dengan permata berharga, Dan hutan-hutan rimba yang terisolasi dan menginspirasi, Pepohonan surgawi yang dihiasi bunga-bunga bermekaran, Dan pepohonan yang cabangnya sarat dipenuhi buah terbaik.

[4]          Aroma wewangian dari alam dewa dan alam lainnya,

Dupa dan pohon yang mengabulkan harapan dan menghasilkan permata ajaib, Hasil panen yang tumbuh secara spontan tanpa perawatan petani,

Dan semua hal indah yang layak dipersembahkan.

[5]          Danau-danau dan kolam-kolam yang dihiasi oleh bunga-bunga teratai, Dimana suara merdu angsa terdengar,

Semua barang serta tempat indah yang tak bertuan, Meluas tanpa batas memenuhi seluruh ruang.

[6]          Kubayangkan itu semua dalam batinku, dan untuk Buddha terunggul Dan para Bodhisattva, aku memberi hadiah yang sempurna.

Pikirkanlah aku dengan cinta, Oh penakluk yang mulia dan penuh welas asih, Dan terimalah semua persembahan yang aku persembahkan ini.

[7]          Kurangnya timbunan kebajikan, aku melarat,

Dan tidak punya apapun lagi untuk dipersembahkan.

Oh pelindung, yang hanya memikirkan manfaat makhluk lain, Dalam kekuatanMu yang besar, terimalah ini demi diriku.

Dengan lantunan bait berikut, persembahkanlah Tubuh, Ucapan dan Batinmu dengan rasa bakti:

[8]          Kepada para Buddha dan pewaris mereka, para Bodhisattva,

Aku persembahkan tubuhku sekarang dan di kehidupan-kehidupan berikutnya. Yang penuh dengan keberanian teragung, terimalah aku seluruhnya,

Karena dengan rasa bakti aku akan menjadi pelayanMu.

[9]          Jika Engkau menerima dan membawaku sepenuhnya dalam perlindunganMu, Aku tidak akan takut dengan samsara seraya ku persembahkan bantuan kepada makhluk lain.

Semua perbuatan buruk yang telah aku lakukan semuanya sudah lampau, Dan mulai dari sekarang, aku berjanji tiada lagi perbuatan buruk.

Pada bait-bait berikutnya persembahkan persembahan kreasi imajinasi Anda:

[10]        Ke rumah permandian yang penuh dengan wewangian menenangkan, Dengan lantai kristal yang berkilau terang,

Dan pilar-pilar yang dipenuhi batu berharga,

Dimana menggantung kanopi mutiara yang gemerlap,

[11]        Aku mengundang para Buddha dan Bodhisattva.

Kumohon kepadamu: Datanglah mandi dengan air wewangian ini, Yang tercurahkan mengalir dari bejana terbuat dari permata istimewa,

Diiringi dengan musik dan lagu.

[12]        Lalu izinkanlah aku mengeringkanMu dengan kain tiada banding, Tak bernoda dan dilapisi dengan wewangian.

Dan mengenakanMu pakaian yang terbuat dari bahan terbaik Yang wangi dan berwarna cerah.

[13]        Kupersembahkan pakaian yang terbuat dari kain halus kualitas terbaik, Dan ratusan perhiasan indah,

Untuk menghiasi tubuh dari Samantabhadra yang mulia, Mañjughosa, Lokeśvara, dan lainnya.

[14]        Dengan parfum harum yang terbaik,

Yang meresap dengan lembut menyelimuti miliaran dunia, Aku akan mengurapi tubuh semua Buddha,

Yang berkilau cemerlang, bagai emas murni yang mengkilap.

[15]        Kepada para bijaksana yang perkasa, penerima sempurna persembahanku, Akan kusajikan teratai merah, dan tanaman surgawi mandarava,

Bunga utpala biru dan bunga-bunga wangi lainnya, Dirangkai indah dalam karangan bunga berwarna cerah.

[16]        Aku juga persembahkan gelombang-gelombang awan pedupaan, Dengan aroma manis yang menarik batin,

Dan perjamuan yang kaya dengan makanan dan minuman yang banyak, Bagaikan keanggunan hidangan-hidangan para dewa.

[17]        Kupersembahkan barisan demi barisan pelita berharga, Yang dibuat sempurna bagai teratai emas,

Dan ku taburkan kelopak-kelopak bunga yang indah Di permukaan yang ditaburi dupa.

[18]        Kupersembahkan istana-istana surgawi yang bergema lagu-lagu pujian, Berkilau dengan mutiara dan batu permata berharga,

Struktur terindah diseluruh angkasa —

Semua ini kupersembahkan kepada mereka yang hakikatnya adalah welas asih.

[19]        Payung-payung berlapis permata dengan gagang terbuat dari emas, Pinggirannya diwarnai dengan desain-desain indah,

Tegak mengarah ke atas, proporsional dan sedap dipandang.

Sekarang dan selamanya, aku persembahkan ini kepada semua Buddha.

Kemudian lakukan persembahan ini melalui kekuatan aspirasi dengan lantunan bait berikut ini:

[20]        Semoga persembahan-persembahan lainnya dalam jumlah besar, Ditemani dengan musik yang indah,

Dibuat dalam iring-iringan awan-awan yang luar biasa banyaknya, Untuk melegakan penderitaan makhluk hidup.

[21]        Semoga hujan permata berharga dan bunga-bunga Turun bagaikan hujan yang tak pernah berhenti mengalir, Kepada semua permata dari Dharma mulia,

Dan monumen-monumen dan lambang-lambang suci.

[22]        Sama seperti Mañjugosha dan lainnya Membuat persembahan kepada semua Buddha,

Demikian pula aku akan mempersembahkan kepada yang-telah-menyeberang dan pewaris-pewaris mereka, para Bodhisattva.

[23]        Bersama dengan pujian seluas samudra dengan melodi indah, Aku memuliakan kualitas-kualitas kebaikan seluas samudra ini. Semoga awan-awan pujian yang manis dan lembut

Meningkat tanpa henti di hadapan mereka.

Dan dengan bait-bait berikut ini persembahkan penghormatan dan doa Anda:

[24]        Melipatgandakan tubuhku sebanyak atom-atom di seluruh semesta, Aku bernamaskara dan membungkuk hormat di hadapan

Para Buddha dari masa lalu, sekarang dan mendatang, Dharma dan Persamuan agung.

[25]        Kepada semua pendukung bodhicitta, Dan semua stupa, aku bernamaskara, Dan kepada pembimbing dan guru,

Dan semua yang berlatih kedisiplinan.

Untuk semua delapan jenis persembahan ini,4 renungkan makna dari kata-katanya dan persembahkan secara tulus dari hati yang terdalam.

Dan semua persembahan ini dipersembahkan di hadapan Tiga Permata, yang merupakan ladang yang murni. Bahan persembahannya itu sendiri adalah murni, karena mereka tidak tercemar oleh perbuatan buruk dan kekikiran. Dan motivasinya juga murni, karena tidak ada pengharapan untuk mendapatkan sesuatu atau pahala karma.

Mengambil Perlindungan

Renungkan bahwa anda berlindung kepada objek-objek yang istimewa ini — tiga permata yang langka dan tiada banding dari kendaraan besar yang tidak biasa — dan anda melakukannya juga dengan motivasi luar biasa — demi memberi manfaat kepada semua makhluk — hingga anda mencapai pencerahan sempurna, dan baca bait 26 ini sebayak tiga kali:

[26]        Hingga aku merealisasi esensi pencerahan, Aku berlindung pada Buddha,

Dan juga pada Dharma,

Serta persamuan Bodhisattva.

Mengakui Perbuatan Negatif

[27]        Dihadapan para Buddha dan Bodhisattva yang sempurna, Yang ada di setiap penjuru ruang,

Dan yang merupakan perwujudan welas asih agung, Aku merangkapkan kedua telapak tangan dan berdoa:

Dengan bait ini, kita berdoa kepada mereka yang akan menerima penyesalan kita dan memohon pengertian mereka. Renungkan:

  • Perbuatan buruk di masa lalu kita seperti racun di dalam tubuh kita;
  • Tiga Permata, yang merupakan pendukung kita seperti dokter yang dapat menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh racun.
  • Obat penawar, yang adalah Dharma yang sakral, seperti obat.
  • Dan tekad yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan serupa di masa depan adalah seperti tumbuhan Ambrosia yang memulihkan tubuh kembali kuat seperti sedia kala.

Setelah membangkitkan 4 gagasan di atas, dengan ayat 28-46 olah kekuatan penyesalan:

[28]        Di kehidupan ini dan kehidupan lain yang tak terhingga jumlahnya, Dihabiskan mengembara dalam samsara tanpa awal.

Dalam ketidaktahuanku, aku telah melakukan kesalahan Dan mendorong yang lainnya untuk melakukan yang sama.

[29]        Dikuasai oleh delusi ketidaktahuan,

Aku merayakan kejahatan yang telah dilakukan.

Namun sekarang aku melihat semua itu dilakukan dengan keliru, Dan di hadapan Buddha, dengan tulus kuakui.

[30]        Apapun yang telah aku lakukan menentang Tiga Permata, Orang tuaku, guru-guruku atau orang lainnya.

Melalui kekuatan kekotoran batin, Dengan tubuh, ucapan dan batinku,

[31]        Semua kesalahan yang aku, yang jahat ini, telah lakukan. Kesalahan-kesalahan yang melekat padaku dari banyak kesalahanku, Dan kejahatan besar yang telah kulakukan,

Dengan terbuka aku akui di hadapanmu, para pembimbing seluruh dunia.

[32]        Sebelum semua kenegatifanku terpurifikasi, Hidupku mungkin akan berakhir.

Jadi aku berdoa sekarang: Anugerahkanlah perlindunganmu, Secepatnya, untuk memastikan aku terbebaskan!

[33]        Raja Kematian tak menentu, tidak layak dipercayai.

Tidak peduli tugas kehidupan selesai atau tidak, dia tidak akan menunggu. Bagi yang sakit ataupun yang sehat,

Hidup yang sejenak ini bukanlah sesuatu yang dapat kita andalkan

[34]        Ketika kita pergi, kita harus meninggalkan semuanya, Namun aku telah gagal untuk memahami hal ini, sehingga Demi teman-teman serta musuh-musuhku,

Aku melakukan banyak perbuatan jahat.

[35]        Musuh-musuhku akan tak tersisa lagi, Teman-temanku akan tak ada lagi,

Aku sendiri akan pergi dari kehidupan ini,

Dan semuanya pada akhirnya akan menghilang.

[36]        Seperti pengalaman-pengalaman dalam mimpi, Segala sesuatu yang aku gunakan dan nikmati, Nantinya akan berubah menjadi kenangan memudar, Dan setelah lewat tak akan terlihat lagi.

[37]        Dalam kehidupan ini, yang walaupun seketika, Beberapa teman dan musuh sudah tiada,

Tetapi tidak dengan kejahatan yang telah kulakukan untuk mereka — Akibatnya yang tak tertahankan tetap akan datang.

[38]        Tidak pernah terpikir bahwa aku juga Akan cepat berlalu.

Dalam delusiku, nafsu dan kebencian,

Aku telah melakukan begitu banyak kejahatan.

[39]        Tidak pernah berhenti, siang ataupun malam, Hidupku selalu menyelinap pergi,

Setelah pergi, hidup tidak dapat diperpanjang lagi,

Jadi bagaimana mungkin orang-orang seperti saya tidak akan mati?

[40]        Saat aku terbaring di atas ranjang terakhirku, Teman dan keluarga mungkin ada disisiku menemani, Tapi hanya aku sendirilah

Yang akan merasakan terputusnya semua ikatan kehidupan.

[41]        Saat aku ditangkap oleh utusan maut,

Apa bantuan yang bisa diberikan keluarga atau teman?

Saat itu, hanya jasa kebajikan satu-satunya yang dapat melindungiku. Namun pada saat itu, sayangnya, aku telah gagal.

[42]        Oh para Pelindung! aku lalai

Tidak menyadari kengerian momen kematian ini, Dan semua demi kehidupan yang sesaat ini, Ditimbun oleh begitu banyak perbuatan jahat.

[43]        Ketika digiring ke tempat penyiksaan, Dimana tubuhnya akan segera hancur terkoyak, Manusia berubah karena ketakutannya;

Mulutnya menjadi kering, matanya sakit seperti tertusuk.

[44]        JIka demikian, betapa putus asa aku nantinya, Ketika tersungkur dan sekarat juga ketakutan, Ketika ditangkap oleh utusan maut

Dan dalam wujud yang mengerikan dan menakutkan?

[45]        Adakah seseorang yang benar-benar dapat menolongku Dari nasib yang mengerikan ini?

Menatap dalam kengerian dengan melotot,

Aku akan mencari di sekelilingku tempat perlindungan.

[46]        Ketika tidak kulihat adanya suatu tempat yang aman, Hatiku akan tenggelam, depresi, aku akan menyerah.

Jika tidak ada suaka untuk aku kembali,

Pilihan apa lagi yang kupunya? Apa yang bisa kulakukan?

Dan dengan bait 47 hingga 53 pikirkanlah kekuatan pendukung:

[47]        Oleh karena itu, mulai hari ini aku berlindung Di dalam para Buddha, para pelindung dunia,

Yang bekerja untuk melindungi dan untuk manfaat kita semua, Yang kekuatan luar biasaNya dapat menghalau setiap ketakutan.

[48]        Demikian pula, aku dengan tulus berlindung Di dalam Dharma yang telah mereka realisasi, Yang menghilangkan teror samsara,

Dan juga kepada persamuan para Bodhisattva.

[49]        Sepenuhnya ketakutan dan dicengkram rasa takut, Aku menyerahkan diri kepada Samantabhadra;

Dan juga kepada Mãnjugosha, Kupersembahkan tubuh ini untuk pelayanan.

[50]        Kepada sang pelindung Avalokitesvara,

Yang mengandung welas asih di setiap tindakanNya, Aku menjerit dari dalam keputus-asaan,

“Berikanlah aku perlindunganMu, aku yang jahat ini!”

[51]        Kepada para Bodhisattva agung, Akāśgarbha dan Ksitigarbha,

Dan semua raja welas asih agung,

Dari hatiku, aku memohon perlindunganmu.

[52]        Dan aku berlindung kepada Vajrapāni, Yang di hadapanNya, utusan maut

Dan semua yang mengancam kita akan lari Ketakutan tercerai berai ke segala penjuru.

[53]        Di masa lampau, aku mengabaikan kata-kataMu,

Namun sekarang, aku telah menyaksikan hal yang mengerikan ini, Maka aku berlindung kepadaMu:

Segeralah musnahkan segala ketakutanku, aku berdoa!

Dengan bait 54 sampai 65 mantapkanlah kekuatan dari perbuatan sebagai penawar:

[54]        Ketika diperingatkan oleh penyakit-penyakit yang umum saja, Aku harus mengikuti nasihat dokter yang bijak,

Apalagi ketika aku berulang kali

Disiksa oleh nafsu dan kesalahan-kesalahan lainnya.

[55]        Jika salah satu dari ini saja membawa kehancuran Bagi semua yang tinggal di dunia,

Dan di manapun tidak dapat ditemukan,

Adanya obat lain yang dapat menyembuhkannya.

[56]        Maka niat untuk tidak mengikuti

Nasehat dari dokter yang maha tahu,

Yang ucapannya menghancurkan segala jenis penyakit Adalah ketidakwarasan, layak dicela.

[57]        Jika aku perlu ekstra hati-hati ketika berada Di ketinggian yang tidak seberapa,

Maka betapa aku harus lebih menghindari Yang kedalamannya jatuh ribuan mil?

[58]        Tidak masuk akal untuk bersantai dan berpikir:

“Hari ini, paling tidak aku tidak akan mati,”

Karena sudah pasti suatu saat akan tiba waktunya Dimana hidupku akan berakhir.

[59]        Siapa yang dapat memberiku jaminan?

Bagaimana aku bisa yakin bahwa aku tidak perlu takut? Jika sudah pasti bahwa aku akan mati,

Bagaimana aku masih bisa tetap tenang?

[60]        Dari pengalaman-pengalamanku di masa lalu,

Apa yang tersisa untukku? Apa yang masih tertinggal sekarang? Namun dengan mencengkram secara obsesif terhadap itu semua, Aku telah melanggar kata-kata guruku.

[61]        Sama halnya dimana pada akhirnya aku harus meninggalkan kehidupan ini, Demikian pula aku akan meninggalkan kerabat dan sahabat.

Saat aku harus menempuh perjalanan kematian yang tidak menentu sendirian, Buat apa aku mempersoalkan semua musuh dan sekutu ini?

[62]        Bagaimana aku bisa membebaskan diriku dari ketidakbajikan, Sumber munculnya penderitaan?

Sepanjang siang dan malam,

Inilah yang seharusnya menjadi perhatian utamaku.

[63]        Semua kesalahan yang telah kulakukan, Dalam ketidaktahuan dan kebutaan— Apakah perbuatan yang jelas-jelas negatif, Atau perbuatan yang melanggar ikrar,

[64]        Di hadapan para Buddha, aku merangkapkan kedua telapak tangan, Dan, ketakutan akan penderitaan mengerikan yang akan tiba,

Aku bernamaskara ke lantai berulang-kali, Mengakui semua dan setiap perbuatan burukku.

[65]        Aku memanggilMu, pemandu seluruh dunia, Terimalah diriku, dan kesalahan yang telah kulakukan.

Dan dengan dua baris terakhir bait 65, baktikan diri Anda pada kekuatan tekad dari kedalaman hati Anda:

Dan perbuatan-perbuatan ini, karena mereka tidak bajik, Aku berjanji, mulai sekarang, tidak akan mengulanginya lagi.

Bersukacita

Olah sebuah perasaan sukacita yang tulus dan rayakanlah segala sumber-sumber kebajikan dan buah-buahnya, baik yang duniawi maupun yang-melampaui-duniawi, dengan mengucapkan bait-bait berikut:

[1]          Dengan sukacita aku merayakan semua perbuatan baik Yang meringankan penderitaan alam-alam rendah,

Dan turut bersukacita saat mereka yang menderita Menemukan kebahagiaan.

[2]          Aku bersukacita atas akumulasi kebajikan Yang merupakan penyebab pencerahan,

Dan merayakan pembebasan sejati dari para makhluk Dari penderitaan samsara.

[3]          Aku bersukacita atas pencerahan para Buddha,

Dan tingkatan bhumi yang dicapai oleh para Bodhisattva.

[4]          Dengan gembira, aku bersukacita atas lautan kebajikan tak terbatas, Yang merupakan niat mulia bodhicitta,

Berharap untuk mengukuhkan kebahagiaan para makhluk, Dan bertindak dalam cara yang memberi manfaat bagi semua.

Untuk cabang ke-5 yaitu permohonan untuk memutarkan roda Dharma, cabang ke-6 memohon agar tidak memasuki nirvāna dan yang ke-7 dedikasi, pikirkanlah makna dari bait-bait berikut:

[5]          Sekarang aku merangkapkan kedua telapak tangan dan berdoa, Kepadamu, para Buddha di semua alam:

Pancarkanlah lampu Dharma pada kami,

Karena kami menderita dalam kegelapan dari ketidaktahuan!

[6]          Dengan kedua telapak tangan merangkap di depan dada, Aku mendesak semua Buddha yang mendambakan nirvana: Jangan tinggalkan kami yang buta dan sendirian,

Tapi tetaplah bersama kami untuk waktu yang tak terhingga!

[7]          Melalui kebajikan apapun yang telah kukumpulkan, Dengan semua tindakan yang kulakukan sekarang ini, Semoga penderitaan semua makhluk hidup Dimurnikan seluruhnya, tak pernah kembali lagi.

[8]          Bagi semua makhluk yang sedang sakit di dunia ini, Sampai penyakit mereka sembuh,

Semoga aku menjadi dokter dan obat penyembuhnya, Dan semoga aku merawat mereka sampai kembali sehat.

[9]          Menurunkan hujan makanan dan minuman, Semoga aku mengusir derita kehausan dan kelaparan, Dan ketika masa kekurangan dan kelaparan,

Semoga diriku mewujud sebagai makanan dan minuman.

[10]        Bagi semua makhluk yang papa dan miskin,

Semoga aku menjadi harta karun yang tidak pernah habis, Sumber dari segala yang mereka butuhkan,

Tersedia selalu dan dekat.

[11]        Tubuhku sendiri dan segala yang kumiliki,

Kebajikan masa lalu, masa sekarang, dan masa mendatang— Kulimpahkan semuanya, tanpa menyembunyikan apapun, Demi manfaat makhluk hidup.

[12]        Dengan melepaskan semuanya, aku akan mencapai nirvāna, Keadaan melampaui kesengsaraan yang kucari,

Karena segalanya pada akhirnya akan ditinggalkan, Akan lebih baik jika aku berikan semuanya.

[13]        Tubuhku ini telah kuserahkan sekarang, Sepenuhnya demi kesenangan yang hidup. Biarkan mereka bunuh, pukul dan siksa, Untuk selamanya melakukan sesuka mereka.

[14]        Dan jika mereka memperlakukannya seperti sebuah mainan, Atau sebuah objek ejekan dan celaan,

Jika aku telah memberikannya, Mengapa aku harus menjadi kesal?

[15]        Biarkan mereka melakukannya padaku sesuka mereka, Apapun yang tidak mencelakai mereka;

Dan ketika siapapun melihatku,

Semoga yang ada hanya manfaat bagi mereka.

[16]        Jika dengan melihatku menginspirasi orang lain Baik pikiran-pikiran marah ataupun bakti,

Semoga kondisi batin demikian menjadi penyebab

Bagi terpenuhinya keinginan-keinginan mereka untuk selamanya.

[17]        Semoga mereka yang menghinaku didepanku, Atau yang mencelakaiku dalam cara apapun,

Bahkan mereka yang merendahkanku secara diam-diam, Semoga keberuntungan mereka terbangun.

[18]        Semoga aku menjadi pelindung bagi yang tidak memilikinya, Pemandu bagi semua yang bepergian di jalan,

Semoga aku menjadi perahu, rakit atau jembatan, Bagi semua yang ingin menyeberang.

[19]        Semoga aku menjadi pulau bagi yang menginginkan pendaratan, Dan sebuah lampu bagi yang menginginkan cahaya,

Semoga aku menjadi sebuah ranjang bagi yang membutuhkan istirahat, Dan seorang pelayan bagi semua yang hidupnya membutuhkan.

[20]        Semoga aku menjadi sebuah permata pengabul harapan, sebuah vas ajaib,

Sebuah mantra yang sakti dan obat ajaib,

Semoga aku menjadi sebuah pohon ajaib yang mengabulkan setiap harapan, Dan seekor sapi yang menopang berlimpah seluruh dunia.

[21]        Bagaikan bumi dan elemen-elemen besar lainnya,

Dan bagaikan ruang itu sendiri, semoga aku berdiam selamanya, Untuk mendukung kehidupan makhluk yang tanpa batas, Dengan menyediakan semua yang mereka butuhkan.

[22]        Demikian juga, diseluruh alam kehidupan, Sejauh ruang menyelimuti,

Semoga aku menjadi sumber dari semua yang dibutuhkan kehidupan, Hingga makhluk melampaui penderitaan samsara.

  1. Bagian Utama

Kedua, untuk bagian utama, mulai dengan memohon kepada para Buddha dan Bodhisattva untuk memberikan perhatian Mereka:

KepadaMu Buddha yang berdiam di sepuluh penjuru, KepadaMu Bodhisattva agung di kesepuluh tingkat, KepadaMu para guru agung, pemegang vajra,

Aku berdoa mohon alihkan batinMu kepadaku!

Lalu buatlah ikrar aspirasi dan perbuatan secara bersamaan, dengan melafalkan ayat- ayat berikut ini tiga kali:

[23]        Sebagaimana para Sugata dimasa lalu Membangkitkan bodhicitta

Dan meneguhkan diri mereka melalui tahapan Dalam pelatihan Bodhisattva,

[24]        Demikian juga, demi manfaat para makhluk Aku akan membangkitkan bodhicitta

Dan juga aku akan melatih

Secara bertahap dalam disiplin tersebut.

  1. Kesimpulan

Olah sukacita untuk diri sendiri dengan bait-bait dari 26 sampai 33 dan sukacita untuk yang lain dengan bait 34

[26]        Hari ini, kelahiranku telah bermanfaat

Aku telah dengan baik memperoleh keberadaan manusia. Hari ini aku terlahir ke dalam keluarga para Buddha:

Aku telah menjadi seorang putra atau putri Buddha.

[27]        Mulai sekarang, bagaimanapun caranya,

Aku akan melakukan perbuatan yang sesuai dengan keluargaku. Aku tidak akan menjadi noda

Pada keluarga mulia yang tanpa cela ini.

[28]        Seperti halnya orang buta

Menemukan permata tak ternilai pada tumpukan sampah,

Jadi, melalui kebetulan-kebetulan yang menguntungkan, Bodhicitta telah lahir dalam diriku.

[29]        Ini adalah nektar keabadian yang sempurna, Yang melaluinya, Raja Kematian diatasi.

Ini adalah harta kekayaan yang tak ada habisnya, Untuk mengusir kemiskinan semua yang hidup.

[30]        Ini adalah obat terbaik

Yang menyembuhkan penyakit dunia,

Dan pohon yang menaungi semua yang mengembara Kelelahan di sepanjang jalur eksistensi.

[31]        Ini adalah jembatan universal menuju kebebasan, Memimpin kita semua dari alam lebih rendah,

Dan merupakan bulan yang bersinar dalam batin, Untuk mendinginkan gairah semua makhluk hidup.

[32]        Ini adalah matahari perkasa yang cahayanya mengusir Kegelapan ketidaktahuan dalam batin kita.

Dan merupakan mentega bentuk termurni Dihasilkan dari susu Dharma suci.

[33]        Bagi makhluk yang mengembara dalam jalur kehidupan, Dan mencari rasa sukacita tertinggi,

Ini akan memuaskan pengembaraan tak henti mereka,

Dengan menganugerahkan mereka bentuk kebahagiaan tertinggi.

[34]        Hari ini, dalam kehadiran seluruh pelindung,

Aku mengundang semua makhluk pada keadaan Sugata, Dan, sementara itu, atas kesenangan dan kebahagiaan: Para Dewa, asura dan yang lain—bersukacita!

Setelah ini, doa aspirasi berikut ini yang dalam satu bait dapat dilafalkan: Oh, bodhicitta agung dan berharga,

Semoga bangkit bagi yang belum membangkitkannya;

Semoga tidak akan pernah merosot bagi yang telah membangkitkannya, Melainkan terus meningkat, lagi dan lagi!

Itu menutup bagian dari mengambil sikap bodhicitta dalam arus batin seseorang.

LATIHANNYA: CARA MENGIKUTI PELATIHAN SEORANG BODHISATTVA

Seluruh praktik-praktik Bodhisattva termasuk di dalam 6 paramita, yang pada dasarnya adalah sebagai berikut:

  • Sikap memberi yang dilengkapi dengan empat ciri khusus.
  • Sikap menahan diri yang dilengkapi dengan empat ciri khusus.
  • Sikap keseimbangan batin yang dilengkapi dengan empat ciri khusus.
  • Sikap antusias yang dilengkapi dengan empat ciri khusus.
  • Perhatian yang tidak terganggu yang dilengkapi dengan empat ciri khusus.
  • Pemahaman yang tepat tentang hal dan peristiwa yang dilengkapi dengan empat ciri khusus.

Apa saja empat ciri khusus ini? Seperti dikatakan:

Kedermawanan dimana faktor-faktor yang merugikan telah hilang, Dianugerahi dengan kebijaksanaan yang tanpa-konsep, Sepenuhnya mengabulkan semua harapan,

Dan membawa semua makhluk menuju kematangan di tiga tingkatan.

Faktor-faktor yang merugikan bagi paramita adalah kekikiran, ketidakdisiplinan, kemarahan, kemalasan, distraksi, dan kecerdasan yang disalahgunakan5 .

Berbagai cara dimana hal-hal ini mangabulkan harapan para makhluk adalah sebagai berikut:

  • Kedermawanan membawa pada pemberian harta dan pemberian lainnya;
  • Kedisiplinan adalah inspirasi bagi orang lain;
  • Kesabaran memungkinkan kita menghadapi situasi-situasi yang berbahaya;
  • Ketekunan membantu kita melakukan apa yang perlu;
  • Konsentrasi menghasilkan kesaktian dan persepsi supernatural yang menginspirasi yang lain;
  • Dan kebijaksanaan memungkinkan kita menunjukkan apa yang perlu dilakukan dan yang perlu ditinggalkan.

Paramita ini mengabulkan semua yang diharapkan, dan membawa para makhluk menuju kematangan, secara langsung maupun tidak, dengan mengarahkan mereka pada pencerahan, sebagai Sravaka, Pratyekabuddha atau Buddha yang sepenuhnya tercerahkan.

Bagaimana Paramita ini dibawa kedalam Praktik Pelatihan Batin

  1. Paramita Kedermawanan

Pertama, pelatihan kedermawanan dimana kita merenungkan kerugian-kerugian dari tidak memberikan tubuh, kepemilikan dan jasa kebajikan kita dari masa lalu, masa sekarang dan masa akan datang, dan kemudian manfaat-manfaat dari benar-benar memberikannya, dan juga pada alasan mengapa semua itu perlu diberikan, dan seterusnya.

  1. Paramita Kedisiplinan

Kedua, dalam hal disiplin, ada penjelasan dari (1) cara menjaga kedisiplinan, dan kemudian (2) bagaimana menjaga kedisiplinan melalui cara tersebut.

  1. Cara menjaga kedisiplinan

Cara menjaga kedisiplinan yaitu:

  • Ketelitian (Tib. ba yö), yang adalah perhatian yang cermat terhadap apa yang dilakukan dan apa yang dihindari;
  • Perhatian penuh (Tib. drenpa), yang berarti tidak melupakan apa yang perlu

dilakukan dan ditinggalkan;

  • Dan kewaspadaan (Tib. shé shyin), meliputi pemeriksaan terus menerus kondisi tubuh, ucapan dan batin kita.
  1. Bagaimana menjaga kedisiplinan melalui cara tersebut

Pertama, melalui perhatian penuh, kita tidak melupakan apa yang perlu dilakukan atau yang perlu ditinggalkan. Kemudian kedua, karena kita memeriksa kondisi tubuh, ucapan dan batin kita dengan kewaspadaan, kita mengenali setiap situasi, saat kita tergoda untuk menghindari sesuatu yang bajik atau untuk melakukan sesuatu yang negatif. Pada saat itu, karena ketelitian kita, kita mengingat manfaat perbuatan bajik dan melakukan hal itu, atau mengingat kesalahan dari tindakan negatif, dari perbuatan tidak bajik lalu menghindarinya.

Karena sebab yang mendasari semua ini adalah keyakinan penuh pada akibat karma, kita perlu mengikuti pernyataan yang valid dari Buddha dan mengembangkan keyakinan. Kita perlu mengembangkan keyakinan penuh akan penderitaan samsara dengan mempertimbangkan apabila kita bertindak secara negatif, ini pasti akan membawa kita pada kondisi sengsara, dan begitu kita terlahir dalam situasi yang tidak menguntungkan ini, kita akan menghadapi penderitaan yang tidak hanya membuat kita gagal dalam memberi manfaat demi yang lain, bahkan kita tidak mampu mengamankan kesejahteraan diri sendiri!

Terdapat banyak kategori kedisiplinan yang perlu dipelihara, tetapi ada tiga prinsip hal yang harus dihindari, yang berlawanan dengan bodhicitta aspirasi yaitu:

  • secara mental meninggalkan makhluk hidup;
  • mengembangkan sikap mental Sravaka atau Pratyekabuddha;
  • dan empat praktik tidak murni.

Empat praktik tidak murni disebutkan dalam bait berikut:

Menipu mereka yang layak dihormati, penyesalan yang salah tempat, Mencela makhluk agung, dan menipu orang biasa –

Tinggalkan keempat praktik tidak murni ini dan lakukan kebalikannya, Yaitu empat dharma murni.

Faktor-faktor bagi bodhicitta aspirasi adalah:

  • aspirasi yang tulus pada hasil dari pencerahan sempurna dan penyebabnya yaitu perilaku yang tercerahkan;
  • sukacita simpatik dan apresiasi yang tulus atas semua kebaikan yang dilakukan oleh yang lain;
  • dedikasikan seluruh kebajikan mendasar ini untuk pencerahan sempurna bagi manfaat yang lainnya.

Kita perlu menanamkan ketiga meditasi Mahayana ini ke dalam hati.

Faktor-faktor yang tidak sesuai dengan bodhicitta tindakan, secara umum dikatakan bahwa seseorang harus melepaskan semua tindakan yang mencelakai yang lain, berikut dengan yang mendasarinya. Khususnya, kesalahan terbesar dari semuanya adalah seperti mencuri barang-barang Tiga Permata, memfitnah Bodhisattva, atau mencampakkan Dharma. Itu harus dijaga dengan sangat hati-hati, seperti ketika kita akan mengambil setiap langkah untuk mengamankan nyawa kita.

Untuk faktor pendukung, kita tidak boleh mengabaikan sedikitpun perbuatan positif, dan harus memastikan berlatih dengan tiga prinsip mulia.

  1. Paramita Kesabaran

Terdapat berbagai situasi yang membutuhkan kesabaran kita, dimulai dengan empat hal ini:

Ketika seseorang memperlakukan kita dengan hina, Berbicara kepada kita dengan kata-kata kasar, Memfitnah kita dibelakang,

Atau menyakiti kita.

Dan sama halnya, ketika keempat hal ini dilakukan pada guru, teman, atau keluarga kita.

Atau:

Saat musuh kita dan mereka yang menentang kita menemukan kesenangan dan kesejahteraan,

Saat mereka mendapatkan kehormatan dan penghargaan, Saat mereka dipuji,

Atau saat orang-orang berbicara hal baik tentang mereka.

Sebagai tambahan, ada juga situasi-situasi yang berlawanan (dengan yang diatas), dua belas keadaan yang diinginkan, dicegah untuk muncul, menjadi total dua- puluh-empat kesempatan bagi kita untuk berlatih kesabaran.

Saat satu dari hal ini terjadi, kita jangan berkecil hati atas peristiwa itu atau atas penderitaan yang ditimbulkannya, dan sebaliknya menerima penderitaan tersebut. Kita tidak boleh marah pada mereka yang terlibat, tapi abaikanlah hal buruk yang mereka lakukan pada kita, dan bawalah batin ke dalam meditasi pada realitas kesunyataan yang mendalam.

Dengan begitu, dengan mengalikan setiap hal tiga kali, membuatnya menjadi tujuh- puluh-dua jenis latihan kesabaran.

Ada tiga alasan untuk menerima penderitaan. 6

  1. Penderitaan dapat menguras perbuatan negatif kita, sehingga kita perlu menerimanya dengan pemahaman bahwa itu seperti sapu yang menyapu bersih perbuatan salah kita.
  2. Melalui penderitaan, kita mengembangkan pelepasan atas samsara, welas asih bagi makhluk hidup lainnya, dan keinginan untuk melakukan perbuatan bajik dan menghindari perbuatan buruk. Jadi kita perlu menerimanya dengan pengertian bahwa itu akan memacu kita dalam kebajikan.
  3. Penderitaan menundukkan kesombongan kita, menghilangkan iri hati, mengatasi kekuatan nafsu dan kemelekatan, dan membawa kita pada pencapaian. Sehingga kita perlu menerimanya dengan pandangan bahwa itu adalah perhiasan dari batin.

Kesabaran dari mengabaikan hal buruk yang dilakukan pada kita, dapat

ditumbuhkembangkan melalui tiga alasan berikut:

  1. Dengan memandang mereka yang mencelakai kita sebagai objek welas asih: Jika kita berpikir makhluk hidup yang terdelusi bahkan akan mencelakai diri sendiri melalui pengaruh emosi pengganggu, apakah mengherankan jika mereka melakukannya pada orang lain?
  2. Dengan menyalahkan seluruh kesalahan pada diri sendiri: Pikirkan bagaimana seluruh keburukan yang dilakukan pada diri kita sekarang, pasti datang dari karma masa lalu kita, dan bagaimana kita bersikap dalam situasi tersebut.
  3. Dengan berpikir hanya melalui bantuan musuh kita sehingga kita bisa mendapatkan jasa kebajikan dari berlatih kesabaran, mereka malahan menjadi pendukung bagi aktifitas Bodhisattva. Dalam cara ini, kita menganggap musuh sebagai teman yang sesungguhnya membawa manfaat bagi kita.

Kesabaran dapat ditumbuhkan dengan merenungkan ajaran yang mendalam dengan keyakinan penuh, dalam tiga cara berikut:

  1. Mengingat kebenaran tertinggi dari kesunyataan, melampaui uraian konseptual apapun, kita dapat menumbuhkembangkan kesabaran dengan merenungkan bagaimana hal buruk yang telah dilakukan kepada kita dan orang yang melakukannya, keduanya tidak memiliki realitas sejati apapun.
  2. Mengingat kebenaran relatif atas ke-saling-tergantungan yang magis, kita dapat menumbuhkan kesabaran dengan menyadari bagaimana, baik si pelaku kejahatan ataupun penderitaan itu sendiri, tidaklah berdiri sendiri.
  3. Mengingat kemanunggalan tak terpisahkan dari hakikat batin, kita dapat menumbuhkan kesabaran dengan mengenali amarah kita adalah murni dan tidak memiliki dasar atau asal-mula.
  1. Paramita Ketekunan

Disini ada dua bagian: (i) mengatasi faktor-faktor yang bertentangan dengan ketekunan, yaitu tiga jenis kemalasan, dan (ii) menumbuhkan faktor yang kondusif, yaitu enam kekuatan.

  1. Mengatasi Faktor-Faktor yang Bertentangan
  • Didorong oleh pemahaman akan ketidakkekalan, kita dapat mengatasi kemalasan dari tidak melakukan apa-apa.
  • Kemalasan dari kemelekatan pada perilaku negatif dapat diatasi dengan memikirkan sukacita atas Dharma yang sakral.
  • Kemalasan dari keputusasaan dapat diatasi dengan mendorong diri kita sendiri dan meningkatkan kepercayaan diri kita.
  1. Mengembangkan Faktor-Faktor yang Kondusif

[1]          Persiapan, yaitu kekuatan dari aspirasi, adalah aspirasi untuk berlatih Dharma yang timbul dari merenungkan manfaat kebajikan dan kerugian dari perbuatan buruk.

[2]          Bagian utama, yaitu kekuatan keyakinan-diri, adalah komitmen yang stabil, yang lahir dari kekuatan hati, yang memastikan bahwa begitu perbuatan bajik mulai

dilakukan, akan sampai selesai. Ini terdiri dari tiga aspek:

(a)          Pertama adalah keyakinan-diri dari perbuatan. Sebagai contoh matahari yang terbit: ini menunjukkan bagaimana kita perlu menghindari menjadi mangsa rintangan-rintangan atau terpengaruh oleh keadaan. Ambil contoh matahari bergerak sendiri: ini mengindikasikan bagaimana kita perlu mengalahkan kekuatan Mara oleh diri kita sendiri, tanpa mengandalkan yang lain, dan dengan melakukannya, kita mencapai pencerahan sempurna. Akhirnya sebagaimana contoh dari matahari menyinari cahayanya ke seluruh dunia: telah diberkahi oleh kebijaksanaan, welas asih dan aspirasi para Bodhisattva, kita sendiri dapat mendukung kehidupan para makhluk. Dengan kata lain, dengan sungguh- sungguh kita berusaha membawa manfaat bagi makhluk hidup dimanapun, diseluruh ruang yang tanpa batas.

(b)          Keyakinan-diri atas kapasitas, artinya menganggap diri kita sebagai kapasitas superior dan bertekad untuk tidak akan dicemari oleh kemunduran apapun, baik besar maupun kecil.

(c)           Keyakinan-diri dalam menghadapi emosi negatif, artinya memandang emosi negatif sebagai tidak signifikan dan tidak mempedulikan kesulitan.

[3]          Kekuatan dari sukacita yang spesial, berarti mempraktikkan kebajikan dengan penuh sukacita, penuh antusias, tetapi tanpa berharap sedikitpun pada hasil yang positif, kita merayakan segala hal baik yang kita lakukan.

[4]          Kekuatan tidak-berlebihan, berarti membersihkan rintangan dengan beristirahat sejenak disaat kita lelah secara fisik atau saat berkecil hati, agar dapat segera melanjutkan dengan semangat baru sesudahnya.

[5]          Kekuatan penerapan yang tulus, artinya mengatasi apa yang harus ditinggalkan, mengabdikan diri pada penaklukkan emosi penganggu dengan menggunakan perhatian penuh dan kewaspadaan.

[6]          Kekuatan penguasaan, berarti melatih diri kita di semua kedisiplinan, mengingat nasihat tentang ketelitian, dan terus menjaga kendali atas tubuh, ucapan dan batin kita.

  1. Paramita Konsentrasi Meditatif

Ini terdiri dari dua bagian: (i) meninggalkan faktor yang tidak kondusif bagi konsentrasi dan (ii) berlatih dengan objek meditasi samatha.

  1. Meninggalkan Faktor-Faktor yang Bertentangan

Dibagian pertama, melepaskan faktor-faktor yang bertentangan, terdapat dua sub bagian: (a) melepaskan urusan duniawi, dan (b) melepaskan pemikiran yang melompat- lompat.

(a)          Melepaskan Urusan Duniawi

Berkenaan dengan melepaskan urusan duniawi, batin kita tidak akan pernah bisa terpusat selama berada dalam pengaruh kemelekatan pada orang tua, kerabat dan teman ataupun pelayan. Jadi kita harus melepaskan semua kebiasaan dari keasyikan dan kesibukan kita, dan tetap sendirian ditempat terpencil yang cocok untuk meditasi.

Melekat pada penghargaan dan penghormatan atau reputasi baik, ataupun kebutuhan sepele dan kemudian mengejar itu semua hanya akan menghalangi jalur yang sejati, sehingga kita harus memotong segala pengharapan dan kegelisahan atas hal tersebut, dan melatih rasa puas dengan apapun yang ada pada kita.

(b)          Melepaskan Pemikiran yang Melompat-lompat

Meskipun kita mungkin berada ditempat terpencil, tidak mencari kepemilikan dan yang semacamnya sampai batas manapun, jika batin kita jatuh dalam kekuatan nafsu keinginan, kondisi sejati dari konsentrasi meditatif tidak akan timbul dalam diri kita, dan batin kita tidak akan bisa berdiam dalam pencerapan. Oleh karena itu pemikiran nafsu perlu dilepaskan. Mengalihkan pikiran kita dari kemelekatan pada hal yang diinginkan, sangatlah penting untuk mendapatkan tingkatan konsentrasi khusus yang lebih tinggi, sehingga kita perlu mengalihkan batin kita dari kemelekatan pada kelompok lawan jenis, dengan merenungkan sebabnya, fakta bahwa mereka tidak mudah didapat; hakikatnya, yakni tidak murni; dan hasilnya, yang meliputi banyak bahaya, dan sebagainya.

Terlebih lagi, kita perlu memahami bahwa delapan urusan duniawi dan segala pemikiran atas kehidupan sekarang adalah musuh sejati kita. Untuk itu, kita perlu merenungkan untuk waktu tertentu tentang masalah-masalah yang disebabkan oleh pikiran negatif dari nafsu, dan mengembangkan martabat dari dalam, membuat upaya sepenuh hati untuk meninggalkan pikiran-pikiran tersebut, tidak peduli seberapa banyak yang mungkin muncul.

  1. Memfokuskan pada Objek-Objek Latihan

Berkenaan dengan latihan utama dari konsentrasi meditatif, terdapat banyak metode meditasi, tetapi disini latihannya adalah mengembangkan bodhicitta. Ini terdiri dari dua aspek: (a) meditasi menyamakan diri dengan yang lainnya, dan (b) meditasi menukar diri dengan yang lainnya.

(a)          Menyamakan Diri dan Lainnya

Kita harus menyadari bagaimana tidak beralasannya bahwa kita hanya peduli pada diri sendiri dan tidak pada yang lain, karena kita sama seperti yang lainnya dalam menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan. Oleh karenanya, meditasikan kesamaan diri dengan yang lainnya.

Seperti dikatakan:

Pemikiran atas kesamaan diri dengan lainya Diolah diawal dengan usaha keras.

Karena kita semua sama dalam hal kebahagiaan dan penderitaan,

Kita perlu memperhatikan yang lain seperti memperlakukan diri sendiri.7

Seperti yang dinyatakan, diawal meditasikan bodhicitta yang menyamakan diri dengan yang lainnya. Dilakukan dengan cara berikut:

Makhluk hidup tak terbatas bagaikan ruang, dan tidak ada satu makhluk-pun yang belum pernah menjadi ayah, ibu atau teman dekat kita. Seperti yang dikatakan guru Nagarjuna:

Jika setiap ibu dari garis keturunan para ibu Dianggap seukuran biji jinten,

Seluruh bumi tidak akan bisa menampung jumlah mereka.8

Dengan kutipan demikian dan melalui penalaran, kita dapat memastikan bahwa semua makhluk pernah berhubungan dekat dengan kita.

Lalu setiap kita mengalami kebahagiaan, kita dapat menumbuhkembangkan pemikiran ini dari lubuk hati terdalam: “Semoga semua makhluk menemukan kebahagiaan dan sebab-sebab kebahagiaan!” Dan demikian juga, kapanpun kita mengalami penderitaan, kita kembangkan harapan berikut dari inti tulang kita: “Semoga saya dan semua makhluk terbebas dari penderitaan dan sebab-sebabnya.“

Ditahapan ini, mungkin akan timbul rintangan dalam pemikiran kita: kita mungkin mengembangkan sikap mental seorang Shravaka, dengan berpikir: “Aku akan melenyapkan penderitaanku sendiri, tanpa berharap apapun dari yang lain, tetapi aku tidak akan bekerja untuk melenyapkan penderitaan makhluk lainnya.“

Namun seperti yang Pengantar Menuju Jalan Bodhisattva, katakan: Mengapa menjaga rasa sakit mendatang,

Jika tidak membahayakan aku sekarang? (VIII, 97)

Seperti yang dikatakan, mengapa kita mengupayakan diri mendapatkan kesehatan, makanan, pakaian dan lain sebagainya yang baik untuk masa mendatang? Kita sesungguhnya berakhir setiap saat, dan di momen berikutnya kita sudah menjadi “yang lain”. Dipoin ini, dikarenakan kebiasaan dari ketidaktahuan, kita mungkin berpikir bahwa masa mendatang juga adalah kita, namun itu hanyalah delusi. Seperti yang dikatakan di Pengantar Menuju Jalan Bodhisattva:

Anda mengatakan,“Tapi aku yang akan menderita,” Tetapi salah jika berpikir demikian.

“Aku” ini akan berakhir disaat ini,

Dan kemudian, aku yang lain akan terlahir. (VIII, 98)

Contohnya, orang bodoh berpikir,”Disinilah arus sungai dimana aku kehilangan jaketku

tahun lalu,” atau, ”Ini adalah sungai yang kuseberangi kemarin,” tetapi air tahun lalu yang menyapu jaket itu adalah “sudah lain” dari air disaat ini, dan air yang diseberangi kemarin juga berbeda. Dalam cara yang sama, batin masa lalu bukanlah kita, dan batin masa mendatang juga bukanlah kita, tetapi sesuatu yang berbeda.

Dititik ini kita mungkin berpikir: “Ya, batin mendatang bukanlah ’aku’ yang sekarang, tetapi merupakan kelanjutan dari batinku, jadi aku akan bekerja demi manfaat diriku sendiri!” dalam hal ini, kita perlu bertindak untuk manfaat yang lain dengan pemikiran bahwa walaupun semua makhluk bukanlah kita, tapi mereka adalah makhluk hidup kita.

Jika kita berpikir:”Setiap orang perlu berkerja demi manfaatnya sendiri, seperti bagaimana mereka menyingkirkan salju dari kepala sendiri,9 Tapi tidaklah mungkin bagi setiap orang untuk saling menolong,” maka pertimbangkan ini dari Pengantar Menuju Jalan Bodhisattva:

Sakit yang dirasakan dikaki bukanlah ditangan,

Jika demikian mengapa, kenyataannya, seseorang melindungi bagian tubuh yang lainnya? (VIII, 99)

Seperti yang dikatakan, mengapa tangan menghilangkan sakit kaki yang tertusuk duri? Sama juga dengan tangan dengan debu di mata, atau orang tua yang menolong anak mereka, atau tangan yang memasukkan makanan ke mulut. Ini perlu dilakukan semua demi manfaat mereka sendiri.

Singkatnya, jika tidak ada kolaborasi dengan semuanya dalam bekerja demi manfaat yang lain, dan sebaliknya setiap orang hanya bekerja demi kepentingan sendiri, maka akan sangat sulit untuk dapat mencapai apapun. Oleh karenanya, dengan pemahaman ini, kita perlu bertindak bagi manfaat makhluk hidup.

(b)          Menukar diri dengan yang lainnya

Kedua, terdapat meditasi bodhicitta dengan menukar diri dengan lainnya. Pengantar Menuju Jalan Bodhisattva mengatakan:

Jika aku tidak memberikan kebahagiaanku, Menukarnya dengan penderitaan yang lain, Kebuddhaan tidak akan pernah dicapai,

Dan bahkan dalam samsara, Aku tidak akan menemukan sukacita. (VIII, 131)

Seperti dikatakan, kita perlu memberikan kebahagiaan kita kepada makhluk hidup dan mengambil penderitaan mereka ke diri kita. Untuk visualisasi, juga dikatakan:

Tempatkan diri Anda diposisi yang lebih rendah dan seterusnya, Dan anggap diri Anda sebagai orang lain,

Dan, dengan batin terbebas dari pemikiran lain,

Tumbuhkembangkan perasaan iri, persaingan dan keangkuhan.(VIII, 140) Maknanya adalah:

Dalam meditasi pertama, yang ‘lain’ adalah seseorang yang posisinya lebih rendah dari diri kita, dimana kita adalah seseorang berstatus yang lebih tinggi. Dari sudut pandang mereka yang lebih rendah, kita melatih rasa iri hati pada diri superior kita. Saat kita menyelesaikan latihan, perasaan demikian akan timbul:

“Lihatlah bahkan dalam berlatih seperti ini, jika aku yang superior dan mereka lebih rendah merasa iri menyebabkan kesengsaraan yang seperti ini! Apa gunanya iri pada orang lain?” Dengan ini, keirihatian kita akan mereda.

Demikian pula, terdapat meditasi persaingan yang terfokus pada mereka yang memiliki kedudukan yang sama dengan diri kita. Dalam hal ini, kita mengambil posisi ‘orang lain’ dengan status yang sama, dan dari sudut pandang mereka menganggap diri kita sebagai lawan. Kemudian, sebagai pihak lain, kita memupuk sikap persaingan terhadap diri kita dari berbagai sisi. Ketika kita melepaskan meditasi ini, perasaan berikut akan muncul:

“Jika menganggap diriku sebagai musuh dan membayangkan sikap buruk dan kompetitif orang lain menyebabkan kesengsaraan yang seperti itu, lalu apa gunanya berpikiran menyakiti orang lain dan merasakan persaingan?” Dengan ini, persaingan kita secara alami akan reda.

Sekali lagi, mengikuti prinsip yang sama, ada praktik menumbuhkan kesombongan, di mana kita berada pada posisi yang lebih rendah, dan yang lain adalah atasan kita.

Sebagai superior, kita menumbuhkan perasaan bangga atas keluarga kita yang superior, pendidikan yang lebih baik dan seterusnya. Ketika kita menyelesaikan meditasi, kita akan berpikir, “Jika mempertimbangkan keangkuhan yang dirasakan orang lain terhadapku menciptakan banyak kesengsaraan, maka bagaimana saya bisa merasakan kesombongan terhadap orang lain?” Dengan ini, kesombongan kita akan secara alami mereda.

Kita dapat latih hal-hal ini melalui penjelasan mendetil yang dijelaskan dalam Pengantar Menuju Jalan Bodhisattva.

Jika kita tidak dapat melakukan meditasi ini, dan kita ingin melakukan bentuk latihan singkat, kita dapat mempertimbangkan kutipan dari Untaian yang Berharga:

Semoga perbuatan salah mereka matang pada diriku, Dan seluruh kebajikanku matang pada mereka.

Selama ada makhluk hidup dimanapun yang belum terbebaskan, Semoga aku menetap demi manfaat makhluk tersebut Walaupun jika aku telah mencapai pencerahan tak tertandingi Jika jasa kebajikan dari mengucapkan hal ini

Memiliki bentuk, bentuknya tidak akan pernah bisa ditampung Di dunia yang jumlahnya sebanyak jumlah pasir sungai Gangga. Ini dinyatakan oleh Buddha,

Dan juga menjadi jelas melalui penalaran.10

Dan dalam Pengantar Menuju Jalan Bodhisattva dikatakan:

Semoga penderitaan makhluk- makhluk hidup Semua matang sepenuhnya pada diriku.

Dan semoga Sangha Bodhisattva Membawa kebahagiaan bagi semua (X, 56)

Kita dapat memeditasikan makna kutipan-kutipan ini, dan bahkan membacanya dengan lantang jika kita mau. Cara memeditasikan menyamakan dan menukar diri dengan lainnya ini adalah sama dengan metode yang ditemukan dalam tulisan Sakya Pandita. Walaupun ada sedikit perbedaan dengan apa yang ditemukan di kebanyakan ulasan- ulasan, kita dapat melatihnya dengan cara yang paling cocok dengan batin kita.

  1. Paramita Kebijaksanaan

Kebijaksanaan pertama di identifikasi, dan kemudian diterapkan pada topik ketiadaan- diri.

  1. Mengindentifikasi Kebijaksanaan

Pertama-tama, kebijaksanaan diidentifikasi sebagai pengenalan bahwa segala fenomena adalah kosong selama sesi meditasi formal, dan bahwa segala fenomena tidak nyata, bagaikan ilusi magis atau mimpi selama fase sesudah-meditasi.

  1. Menerapkan Kebijaksanaan pada Ketiadaan-diri

Kedua, kebijaksanaan ini diterapkan pada topik ketiadaan-diri. Dalam hal ini ada 2 meditasi: Ketiadaan-diri pada individu, dan ketiadaan-diri pada fenomena.

Ketiadaan-diri pada Individu

Pertama, kita meninjau betapa bodohnya orang memberikan label pada seseorang yang mengakumulasi karma dari perbuatan dan mengalami hasilnya itu sebagai diri, seorang individu, seseorang atau makhluk hidup. Kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah label seperti ini diberikan untuk tubuh, ucapan atau batin, atau sesuatu yang berbeda? Pada yang bernyawa atau yang tidak bernyawa? Pada yang kekal atau tidak kekal? Dan seterusnya.

Dengan menyelidiki baris-baris kalimat tersebut, kita akan tiba pada kesimpulan bahwa walaupun kita mencengkram pada sebuah “diri” dari tiada-diri dan mencengkram“yang lain” dari tiada-yang-lain, ini dikarenakan kekuatan delusi batin, dan kenyataannya tidak ada yang dikatakan sebagai “diri” atau “makhluk hidup” yang terbentuk dari dirinya sendiri.

Ketiadaan ‘Diri’ dalam Fenomena

Kedua, ketika tiba pada ketiadaan diri pada fenomena, ada empat penerapan perhatian penuh.

(i)            Penerapan Perhatian Penuh pada Tubuh

Segala fenomena kemunculan dan eksistensi – samsara dan nirvana – hanyalah tampilan yang muncul dalam batin kita sendiri, dan tidak memiliki sedikitpun eksistensi yang terpisah dari atribut yang kita berikan padanya melalui batin kita. Batin ini juga bergantung pada tubuh, jadi kita juga harus menganalisa tubuh fisik ini dengan mengajukan pertanyaan, seperti:

             Apakah yang kita sebut “tubuh” adalah sama atau berbeda dengan kumpulan dari bagian-bagiannya?

             Darimana tubuh berasal?

             Dimana berdiamnya?

             Kemana perginya pada akhirnya?

Akhirnya, kita perlu beristirahat dalam meditasi pada objek ketidaknyataan dari tubuh ini.

Setiap kali kita mengalami nafsu keinginan fisik atau kemelekatan, kita perlu memeditasikan ketidakmurnian dan ‘keilusian’ dari tubuh kita dan tubuh orang lain, dan kita akan mengatasi kemelekatan atas tubuh fisik.

(ii)           Penerapan Perhatian Penuh pada Perasaan

Perasaan senang dan sakit adalah dasar bagi keadaan batin yang negatif seperti hasrat dan kemelekatan, jadi kita harus menyelidiki apakah mereka sama atau berbeda dari batin, dan seterusnya. Meditasikan ketidaknyataan perasaan, dan lihatlah bagaimana semua perasaan-perasaan lainnya (seperti perasaan netral)11

secara hakiki adalah penderitaan, tanpa inti, dan seterusnya.

(iii)          Penerapan Perhatian Penuh pada Batin

Lihatlah batin yang terdiri dari ‘enam kelompok kesadaran’ dan selidiki apakah arus kesadaran ini, muncul dalam berbagai aspek (momen sebelum dan setelahnya, keadaan batin positif dan negatif, dan seterusnya) adalah sesuatu yang tunggal atau beberapa hal yang berbeda. Kajilah apakah berbagai kondisi batin yang muncul – suka dan tidak suka, kepercayaan atau kurang percaya, kondisi yang sesuai dengan Dharma dan yang tidak sesuai, kebahagiaan dan kesedihan, kemelekatan dan kebencian, dan seterusnya – adalah sama atau berbeda. Jika kita memutuskan bahwa mereka adalah satu, kajilah apa sebabnya batin yang tunggal bisa muncul beraneka-ragam, seperti bahagia, sedih, bernafsu, marah dan seterusnya. Jika kita berpikir bahwa kondisi ini muncul karena situasi sementara, lalu kajilah seperti apakah batin pada esensinya, ketika tidak terpengaruh sedikitpun oleh kondisi-kondisi dan tidak kontak dengan objek apapun.

Apakah eksis? Atau tidak eksis? Kekal atau tidak kekal? Analisa batin berulang kali dengan pemikiran seperti ini, hingga tiba pada keyakinan tertentu bahwa batin tidak memiliki dasar atau asal.

(iv)          Penerapan Perhatian Penuh pada Fenomena

Kenali dengan pasti bagaimana seluruh fenomena selain tubuh, perasaan dan batin (semuanya termasuk dalam tiga kategori persepsi, formasi dan tidak berkondisi) juga muncul melalui kesalingtergantungan sebab dan kondisi, dan oleh karenanya tidak memiliki realitas sejati. Kenali mereka hanyalah sunyata melampaui segala uraian konseptual.

  1. HASIL DARI BERLATIH DALAM CARA INI

Dengan melihat bahwa secara relatif hanyalah sebuah tampilan yang bagaikan ilusi magis atau pengalaman-pengalaman dalam mimpi, kita akan berlatih dalam tujuh aktifitas pencerahan yang luas dimana tujuh jenis kemelekatan12 dilepaskan. Dan dengan pemahaman bahwa dalam tingkatan absolut segala sesuatu dan segala peristiwa bahkan tidak memiliki eksistensi sejati bahkan sampai ke tingkat atom terkecil, kita akan menanamkan latihan ini ke dalam hati tanpa melekat pada apapun.

Semoga Dharma, satu-satunya penyembuh penderitaan, Dan sumber seluruh kebahagiaan sejati,

Selalu dihargai dan dihormati,

Dan bertahan lama dimasa mendatang!13

Ini diucapkan oleh Ragged Abu.

Semoga segalanya menjadi bajik dan menguntungkan!!

  1. Bodhicaryāvatāra, I, 1.
  1. Abhisamayālaṃkāra, I, 18.
  1. Patrul Rinpoche berharap peserta ajarannya terbiasa dengan Bodhicaryāvatāra atau membacanya bersama teks ini. Setiap beliau mengutip tulisan Santideva, beliau hanya memberikan beberapa kalimat awal dari bait. Namun untuk penerjemahan ini, kami berikan keseluruhan baitnya.
  1. Delapan jenis persembahan adalah persembahan akan hal yang nyata, meliputi (1) kepemilikan sendiri, (ii) sesuatu yang tidak bertuan, (iii) dan tubuh sendiri; persembahan yang diciptakan melalui imajinasi, termasuk

(iv) pemandian seremonial, (v) zat-zat yang menyenangkan; (vi) persembahan yang dibuat melalui kekuatan aspirasi; (vii) persembahan yang tiada banding; dan (viii) pujian bermelodi.

  1. Alak Zenkar Rinpoche memberikan contoh dari menyalahgunakan kecerdasan kita saat kita merenungkan bagaimana semua makhluk pernah menjadi ayah dan ibu kita dimasa lalu. Melalui berpikir seperti ini dalam cara salah, kita mungkin memutuskan bahwa seluruh makhluk hidup pernah mencelakakan kita dimasa lalu, sehingga mereka semua adalah musuh kita! Ini adalah cara penggunaan kecerdasan yang salah.
  1. Alasan-alasan ini diberikan dalam Bodhicaryāvatāra, VI, 21.
  1. Tidak teridentifikasi
  1. Suhrllekha, v 68.
  1. Alak Zenkar Rinpoche mengatakan analogi modern untuk ini adalah seperti membersihkan salju untuk jalan kita sendiri, tapi tidak untuk orang lain.
  1. Untuk penerjemahan alternatif, baca Hopkins, J. Buddhist Advice for Living and Liberation, Snow Lion, hal.162
  1. Menurut Alak Zenkar Rinpoche, ini berarti perasaan netral. Ini masih merupakan penderitaan dalam cakupan terluas, karena perasaan ini masuk dalam kategori penderitaan yang meliputi segala keberadaan yang berkondisi.
  1. Menurut ulasan dari Arya Asanga dalam Mahāyānasūtrālamkāra, mereka dijelaskan dalam hubungannya dengan Paramita Kedermawanan, tujuh jenis kemelekatan adalah: (1) kemelekatan pada kepemilikan, (2) menunda latihan,

(3) puas dengan hanya sedikit latihan, (4) mengharapkan sesuatu sebagai imbalan, (5) hasil-hasil karma, (6) keadaan-keadaan yang merugikan, dan (7) gangguan.

  1. Bodhicaryāvatāra, X, 57. ↩

Diterjemahkan oleh Tim Tergar Indonesia