The mind simply knows ~ Ajahn Chah

41

The mind simply knows ~ Ajahn Chah

Meditation means to make the mind peaceful in order to let wisdom arise. This requires that we practise with body and mind in order to see and know the sense impressions of form, sound, taste, smell, touch and mental formations. To put it shortly, it’s just a matter of happiness and unhappiness. Happiness is pleasant feeling in the mind, unhappiness is just unpleasant feeling. The Buddha taught to separate this happiness and unhappiness from the mind. The mind is that which knows. Feeling2 is the characteristic of happiness or unhappiness, like or dislike. When the mind indulges in these things we say that it clings to or takes that happiness and unhappiness to be worthy of holding. That clinging is an action of mind, that happiness or unhappiness is feeling.

When we say the Buddha told us to separate the mind from the feeling, he didn’t literally mean to throw them to different places. He meant that the mind must know happiness and know unhappiness. When sitting in samādhi, for example, and peace fills the mind, then happiness comes but it doesn’t reach us, unhappiness comes but doesn’t reach us. This is to separate the feeling from the mind. We can compare it to oil and water in a bottle. They don’t combine. Even if you try to mix them, the oil remains oil and the water remains water, because they are of different density.

The natural state of the mind is neither happiness nor unhappiness. When feeling enters the mind then happiness or unhappiness is born. If we have mindfulness then we know pleasant feeling as pleasant feeling. The mind which knows will not pick it up. Happiness is there but it’s ‘outside’ the mind, not buried within the mind. The mind simply knows it clearly.

If we separate unhappiness from the mind, does that mean there is no suffering, that we don’t experience it? Yes, we experience it, but we know mind as mind, feeling as feeling. We don’t cling to that feeling or carry it around. The Buddha separated these things through knowledge. Did he have suffering? He knew the state of suffering but he didn’t cling to it, so we say that he cut suffering off. And there was happiness too, but he knew that happiness, if it’s not known, is like a poison. He didn’t hold it to be himself. Happiness was there through knowledge, but it didn’t exist in his mind. Thus we say that he separated happiness and unhappiness from his mind.
source: http://www.ajahnchah.org/book/Peace_Beyond1.php

 

Batin hanya tahu ~ Ajahn Chah

Meditasi berarti membuat batin menjadi damai sehingga kebijaksanaan bisa muncul. Supaya kebijaksanaan bisa muncul, kita harus berlatih dengan tubuh dan batin untuk melihat dan mengetahui kesan indra bentuk, suara, rasa, aroma, sentuhan dan formasi mental. Singkatnya, ini hanya masalah kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Kebahagiaan adalah perasaan yang menyenangkan dalam batin, ketidakbahagiaan adalah perasaan yang tidak enak. Sang Buddha mengajarkan untuk memisahkan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan ini dari batin. Batin adalah yang tahu. Perasaan adalah karakteristik kebahagiaan atau ketidakbahagiaan, suka atau tidak suka. Ketika batin memanjakan diri dalam hal-hal yang disukai, kita mengatakan bahwa batin melekat pada atau membuat kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu layak untuk dipegang. Kemelekatan itu adalah tindakan dari batin, sedangkan kebahagiaan atau ketidakbahagiaan adalah perasaan.

Ketika kita mengatakan bahwa Sang Buddha menyuruh kita untuk memisahkan batin dari perasaan itu, ia tidak secara harfiah bermaksud untuk melemparkan mereka ke tempat yang berbeda. Maksudnya, batin harus tahu kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Saat duduk dalam samādhi, misalnya, kedamaian memenuhi batin, maka kebahagiaan datang tapi tidak sampai kepada kita, ketidakbahagiaan datang namun tidak sampai kepada kita. Ini untuk memisahkan perasaan dari batin. Kita bisa membandingkannya dengan minyak dan air dalam botol. Mereka tidak tergabung jadi satu. Bahkan jika Anda mencoba mencampurnya, minyak tetap minyak dan airnya tetap air, karena memiliki kerapatan yang berbeda.

Keadaan batin yang alami bukanlah kebahagiaan maupun ketidakbahagiaan. Saat perasaan memasuki batin maka kebahagiaan atau ketidakbahagiaan terlahir. Jika kita memiliki energi perhatian penuh maka kita tahu perasaan menyenangkan sebagai perasaan yang menyenangkan. Batin yang tahu tidak akan mengambilnya. Kebahagiaan ada tapi itu 'di luar' batin, tidak terkubur di dalam batin. Batin hanya mengetahuinya dengan jelas.

Jika kita memisahkan ketidakbahagiaan dari batin, apakah itu berarti tidak ada penderitaan, karena kita tidak mengalaminya? Ya, kita mengalaminya, tapi kita tahu batin adalah batin, perasaan adalah perasaan. Kita tidak berpegang pada perasaan itu atau membawanya berkeliling. Sang Buddha memisahkan hal-hal ini melalui pengetahuan. Apakah Buddha memiliki penderitaan? Buddha tahu kondisi penderitaan tapi Buddha tidak melekat pada hal itu, jadi kita katakan bahwa Buddha telah memotong habis penderitaan. Dan ada juga kebahagiaan, tapi dia tahu kebahagiaan itu, kalau tidak mengetahuinya, itu seperti racun. Dia tidak melekat pada kebahagiaan supaya kebahagiaan menjadi miliknya. Kebahagiaan ada disana dan diketahui lewat pengetahuan, tapi itu tidak eksis dalam batinnya. Jadi kita katakan bahwa Buddha memisahkan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan dari batinnya.

 

Sumber: http://www.ajahnchah.org/book/Peace_Beyond1.php