Paṭṭhāna – 12 Āsevanapaccayo (Kondisi pengulangan)

25
Buddha

12 Āsevanapaccayo (Kondisi pengulangan)

Karena merupakan pengulangan, maka haruslah yang sejenis. Terdapat tiga jenis āsevana: kusala citta, akusalacitta dan kiriyābyākata citta. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Kusala citta sangat bersih dan bebas dari kesalahan. Ketika membuahkan hasil, hanya menghasilkan akibat yang baik. Akusala dikotori oleh lobha, dosa, issā, macchariya, dan sebagainya. Ketika membuahkan hasil, hanya menghasilkan akibat yang buruk. Kiriyābyākata bukan kusala bukan pula akusala. Ia hanya muncul pada seorang Arahat dan Sang Buddha, dan ia tidak menghasilkan akibat. Oleh sebab itu, āsevana paccaya hanya terdiri dari 7 javana saja.

Āsevana seyogianya dipahami dengan perumpamaan demikian : sehelai kain yang diresapi dengan kayu cendana akan beraroma harum, atau bangkai ikan yang dibungkus dengan sehelai kain, maka kainnya akan beraroma bau. Pada hari pertama diresapi aroma yang harum atau bau, aroma pada kain hanya sedikit, tetapi hari demi hari, aroma pada kain semakin lama menjadi semakin kuat.

Demikian pula, ketika kusala, akusala atau kiriyābyākata bekerja, 7 javana muncul dalam sebuah vīthi (rangkaian kesadaran). Vīthi muncul berulang-ulang hingga lebih dari 1 triliun kali dalam satu detik atau satu jentikan jari, jadi terdapat banyak javana yang muncul dalam banyak vīthi. Karena merupakan citta yang sejenis dan didukung oleh javana sebelumnya, javana berikutnya menjadi semakin kuat dan semakin kuat. Di antara 7 javana dalam setiap vīthi, javana pertama adalah yang paling lemah, karena ia tidak mendapatkan dukungan dari javana sebelumnya. Javana pertama disebut diṭṭhadhammavedanīya kamma yang hanya dapat membuahkan hasil pada kehidupan ini saja. Akibat yang dihasilkan oleh javana pertama disebut diṭṭhadhammavipāka. Mengenai kamma dan akibatnya akan dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan kamma paccaya dan vipāka paccaya.

Saya akan menceritakan sebuah kisah sehubungan dengan diṭṭhadhammavedanīya kamma yang disebabkan oleh javana pertama. Pada masa Buddha Kassapa, terdapat seorang pria yang sangat miskin bernama Mahāduggata. Mahāduggata berarti orang yang sangat menderita. Ia hanya dapat makanan yang cukup untuk sehari dari uang yang dihasilkannya dengan bekerja seharian. Bayangkan betapa miskinnya dia. Suatu hari masyarakat mengundang semua Saṅghā yang dipimpin oleh Sang Buddha untuk mempersembahkan makanan pada keesokan harinya. Seorang penyiar kemudian mengumumkan dan mendorong masyarakat untuk mempersembahkan makanan. Ia mencatat daftar keluarga mana yang bertanggungjawab untuk 10 Saṅghā, keluarga mana yang bertanggung jawab terhadap 5 Saṅghā, dan seterusnya. Ketika ia melihat Mahāduggata, pria miskin tersebut, penyiar tersebut ingin mengejeknya, jadi ia juga mendorongnya untuk berderma. Mahāduggata setuju untuk bertanggung jawab terhadap satu Saṅghā. Sepanjang hari ia berusaha bekerja lebih keras daripada hari-hari sebelumnya. Oleh sebab itu, orang yang mempekerjakannya membiarkannya pulang lebih awal.

Sepanjang hari ia berpikir, “Besok saya akan mempersembahkan makanan untuk satu Saṅghā”. Kemudian ia pergi ke pasar dan mencari sesuatu untuk didermakan, dan ia mendapat seekor ikan yang besar. Ia memasak kari ikan dengan berpikir, “Besok saya akan mempersembahkan makanan untuk satu Saṅghā”. Sepanjang hari kusala javanamuncul pada dirinya dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya. Hari berikutnya, si penyiar mengatur pembagian Saṅghā pada keluarga sesuai dengan daftar yang telah ia catat, tetapi ia lupa membagikan seorang Saṅghā kepada Mahāduggata. Ia juga belum menuliskan Sang Buddha untuk keluarga manapun. Pada saat itu, Mahāduggata menunggu di dekat ruangan Sang Buddha. Sang Buddha biasanya menerawang dunia dengan samāpatti yang penuh belas kasih. Pada hari itu, Beliau melihat Mahāduggata dalam ñāṇa-Nya. Kemudian, Beliau kembali memasuki nirodhasamāpatti. Saat itu, banyak orang termasuk raja dan Mahāduggata menunggu untuk mengambil mangkuk Sang Buddha.

Ketika mereka menunggu, Sang Buddha membuka pintu dan memberikan mangkuk-Nya kepada Mahāduggata. Anda dapat bayangkan bagaimana perasaannya ? Ia merasa sangat senang dan mempersembahkan kari ikan kepada Sang Buddha dengan cetanā yang tertinggi. Setelah mempersembahkan makanan, ia mengantarkan Sang Buddha kembali, dan ia pun kembali ke rumah. Saat itu, rumahnya telah dipenuhi dengan harta benda. Ini merupakan hasil dari javana yang pertama (diṭṭhadhammavedanīyakamma).

Untuk mendapatkan hasil yang demikian luar biasa, terdapat tiga syarat yang harus terpenuhi, yakni :

1. Penerima haruslah seorang Arahat atau Sang Buddha yang baru saja keluar dari nirodhasamāpatti.

2. Cetanā dari penderma harus sangat kuat.

3. Barang yang dipersembahkan harus diperoleh dengan cara yang benar.

Jika 3 kondisi ini terpenuhi, cetanā dari javana pertama dapat memberikan hasil yang luar biasa secara langsung, sebagaimana yang terjadi pada Mahāduggata. Berkebalikan dengan kusala, jika seseorang menghina seorang Arahat atau Sang Buddha, cetanā dari javana pertama juga dapat menghasilkan akibat yang luar biasa secara langsung. Akusala ini dapat membuatnya langsung mati dan mengalami penderitaan di neraka. Ini adalah mengenai bagaimana cetanā dari javana pertama dapat menghasilkan akibatnya pada kehidupan ini.

Āsevana paccaya adalah kondisi yang mengulangi kemunculan dari akibatnya. Jika anda melakukan suatu pekerjaan berulangulang, anda akan memiliki pengalaman dalam pekerjaan tersebut. Demikian pula, ketika anda membaca sebuah paritta untuk dihafal, anda tidak dapat menghafalnya hanya dengan sekali baca saja. Tetapi jika anda membaca secara berulangulang, maka anda akan dapat mengingatnya. Contohnya, ketika anda sedang tidur, jika seseorang membangunkan anda dan meminta anda untuk melafalkan Namotassa tiga kali, anda akan dapat melafalkannya dengan benar karena anda telah sangat sering melafalkan Namotassa. Inilah yang disebut dengan Āsevana paccaya.

Lihat pemain sepak bola. Ketika mereka berlatih secara berulang-ulang, kekuatan dan keterampilan mereka juga menjadi semakin baik. Demikian pula ketika batin yang sama muncul secara berulang-ulang dan batin yang belakangan mendapatkan kekuatan dari batin yang sebelumnya, maka kekuatan batin yang belakangan menjadi lebih kuat dibandingkan batin yang sebelumnya. Demikian juga ketika belajar Abhidhammā, belajar kedua kalinya akan menjadi lebih mudah dibandingkan saat belajar untuk pertama kalinya, dan belajar ketiga kalinya akan menjadi lebih mudah dibandingkan saat belajar untuk kedua kalinya. Ini disebabkan pembelajaran sebelumnya mendukung pembelajaran berikutnya sehingga menjadi lebih mudah. Inilah Āsevana paccaya. Setelah batin sebelumnya lenyap, batin berikutnya muncul dan menjadi lebih kuat.

Jika kita merangkum paṭṭhāna, hanya ada dua kelompok : atthidannatthi. Atthi berarti menyokong akibat ketika sebab masih berlangsung. Natthi berarti ketidakberadaan dari sebab menyebabkan munculnya akibat. Āsevana juga termasuk dalam kelompok natthi yang di antaranya juga termasuk anantarapaccaya, samanantarapaccaya,natthi paccaya dan vigata paccaya. Ini karena kesadaran mereka memiliki urutan kemunculan dan kepadaman yang sama, di mana ketika kesadaran sebelumnya lenyap, kesadaran berikutnya muncul. Ketidakberadaan dari kesadaran sebelumnya dinamakan “natthi.”

Walaupun Āsevana, anantara, samanantara, natthi dan vigata termasuk dalam kelompok yang sama yaitu kelompok natthi, masing-masing dari paccaya ini berfungsi dalam perspektif yang berbeda. Contohnya, ketika seseorang melihat gunung dari depan, samping atau belakang, pemandangannya akan berbedabeda. Demikian pula, jika ada sebuah pandangan ”tidak ada jeda antara citta sebelumnya dan citta berikutnya” maka ini disebut anantara dan samanantara. Jika ada pandangan bahwa “ketidakberadaan citta sebelumnya mendukung kemunculan citta berikutnya”, maka ini disebut natthi. Jika terdapat pandangan bahwa “setelah citta sebelumnya padam, citta berikutnya muncul”, maka ini disebut vigata. Jika terdapat pandangan bahwa “citta muncul dan lenyap secara berulang-ulang, satu demi satu secara bergiliran” maka ini disebut āsevana.

Setiap kondisi (paccaya) memiliki cirinya masing-masing. Bagaikan menanak nasi, tanpa menambahkan air, beras tidak dapat dimasak; tanpa api, beras juga tidak dapat dimasak. Untuk menjadi nasi yang telah matang, kemampuan memasak juga dibutuhkan dan kapasitas dari periuk juga termasuk salah satu syarat. Dengan kata lain, tanpa kondisi-kondisi ini, beras tidak dapat dimasak.

Anda mungkin sering mendengar javana dalam sebuah vithi. Ketika kita melihat objek penglihatan, proses rangkaian kesadaran muncul. Pañcadvārāvacana membuka pintu indra. Cakkhuviññāṇa melihat objek. Sampaṭicchana menerima objek. Santīraṇa menyelidiki objek dan voṭṭhapana memutuskan objek. Setelah itu 7 javana menikmati objek. Mulai dari pañcadvārāvacana hingga voṭṭhapana, citta ini tidak mengalami percepatan karena mereka tidak sejenis. Tetapi, javana mengalami percepatan, karena mereka sejenis, jadi mereka muncul berulang-ulang. Javana pertama memberikan energi kepada javana kedua. Javana kedua memberikan energi kepada yang ketiga. Yang ketiga memberikan energi kepada yang keempat. Yang keempat kepada yang kelima, yang kelima kepada yang keenam dan yang keenam memberikan energi kepada javana yang ketujuh.

Āsevana paccaya hanya berhubungan dengan javanacitta yang kusala, akusala dan kiriyā. Mengapa vipāka citta tidak dapat menjadi javana? Ini dikarenakan vipāka citta merupakan kesadaran hasil; vipāka citta muncul sebagai hasil atau akibat dari kamma, jadi hasil tidak dapat diubah. Seperti bayangan yang terpantul dari dalam cermin tidak dapat berubah dengan sendirinya. Jadi sifat dari kesadaran hasil adalah tidak aktif dan lemah.

Javana dapat menghasilkan kekuatan. Kusala citta sebelumnya dapat membuat kusalacitta berikutnya menjadi lebih kuat. Akusala citta sebelumnya dapat membuat akusalacitta berikutnya menjadi lebih kuat. Lobha citta sebelumnya dapat membuat lobhacitta berikutnya menjadi lebih kuat. Dosa citta sebelumnya dapat membuatdosacitta berikutnya menjadi lebih kuat. Moha citta sebelumnya dapat membuat mohacitta berikutnya menjadi lebih kuat. Kiriyā adalah kusala citta yang muncul pada Arahat. Jika puthujjana, Sotāpanna, Sakadāgāmi atau Anāgāmi memasuki jhāna pertama, maka ini disebut kusala jhāna pertama. Jika seorang Arahat memasuki jhāna pertama, ini disebut kiriyā jhāna pertama. Ini dikarenakan kusala adalah untuk melenyapkan kilesā. Jika tidak ada kilesā yang dilenyapkan, maka kusala tersebut disebut kiriyā.

Purimā purimā kusalā dhammā, pacchimānaṁ pacchimānaṁ kusalānaṁ dhammānaṁ, āsevanapaccayena paccayo.

Kusala dhamma sebelumnya menyebabkan munculnya kusala dhamma berikutnya melalui kondisi pengulangan (āsevana paccaya).

Javana pertama adalah sebab (paccaya) dan javana kedua adalah akibat (paccayuppanna). Javana kedua adalah sebab dan javana ketiga adalah akibat. Javana ketiga adalah sebab dan javana keempat adalah akibat. Javana keempat adalah sebab dan javana kelima adalah akibat. Javana kelima adalah sebab dan javana keenam adalah akibat. Javana keenam adalah sebab dan javana ketujuh adalah akibat.

Batin menyenangi perbuatan buruk, jadi batin akusala yang muncul lebih banyak. Oleh sebab itu, kita harus memiliki tekad bahwa “kita membangkitkan kusala dalam batin kita, kita tidak membiarkan akusala muncul dalam batin kita, kita berusaha condong pada kusala dan kita berusaha memberikan perhatian pada kusala.” Jika kita tidak bertekad demikian, maka akusala akan lebih sering muncul dalam batin. Batin lobha, batin dosa atau batin moha biasanya lebih sering muncul. Di antara kusala, kāmāvacarakusala (kusala di alam kesenangan indera ) dapat muncul pada setiap orang. Rūpāvacara dan arūpāvacara kusala dapat muncul pada mereka yang mencapai jhāna. Lokuttara kusala dapat muncul pada mereka yang mencapai vipassanāñāṇa.

Karena kondisi āsevana, energi dari javana berikutnya lebih kuat dibandingkan javana yang sebelumnya. Javana pertama hanya dapat membuahkan hasil pada kehidupan sekarang ini hanya karena energinya adalah yang paling kecil di antara 7 javana, jadi ia tidak dapat membuahkan hasil pada kehidupan mendatang. Tetapi javana ketujuh memiliki energi yang paling kuat dan ia mempunyai kemampuan membuahkan akibat pada kehidupan mendatang. Lima javana yang di tengah dapat membuahkan hasil mulai dari kehidupan ketiga hingga tercapainya Nibbāna kapanpun mereka punya kesempatan.

Purimā purimā akusalā dhammā, pacchimānaṁ pacchimānaṁ akusalānaṁ dhammānaṁ, āsevanapaccayena paccayo.

Ini sama dengan kusala. Akusala dhamma sebelumnya menyebabkan munculnya akusala dhamma berikutnya melalui kondisi pengulangan (āsevana paccaya).

Purimā purimā kiriyābyākatā dhammā, pacchimānaṁ pacchimānaṁ kiriyābyākatānaṁ dhammānaṁ, āsevanapaccayena paccayo.

Kiriyā dhamma sebelumnya menyebabkan munculnya kiriyā dhamma berikutnya melalui kondisi pengulangan (āsevana paccaya).

Jika kita mengatakan abyākatā secara umum, maka ia berarti vipāka, kiriyā, rūpa, paññatti dan Nibbāna. Tetapi di sini kiriyābyākata berarti kiriyā javana yang hanya muncul pada Arahat. Arahat sama sekali tidak memiliki kilesā. Karena tidak ada kilesā, kamma tidak lagi bekerja. Ini berarti kamma juga telah dilenyapkan. Kamma dapat menghasilkan kehidupan baru hanya jika ada kilesā. Apapun yang dilakukan Arahat, tidak dapat menjadi kamma, oleh sebab itu disebut kiriyā.

Demikian pula dalam kiriyā javana, kiriyā javana yang kedua lebih kuat dari kiriyā javana yang pertama. Kiriyā javana yang ketiga lebih kuat daripada kiriyā javana yang kedua, dan seterusnya. Walaupun terdapat pengulangan (āsevana) pada kiriyā, ia tidak akan menghasilkan kehidupan yang baru. Kamma tidak lagi dapat membuahkan hasil karena tidak adanya kilesā. Untuk orang biasa, kita semua memiliki kilesa vaṭṭa, kamma vaṭṭa dan vipāka vaṭṭa ( lingkaran kilesa, kamma dan vipāka).

Kamma vaṭṭa tidak perlu dilenyapkan. Hanya kilesa vaṭṭa yang perlu dilenyapkan. Untuk seorang Arahat, karena tidak ada kilesā, kamma tidak dapat bekerja lagi dan kamma secara otomatis telah terhapus. Karena tidak ada kilesā dan kamma, maka vipāka vaṭṭa tidak dapat dihasilkan.

Oleh sebab itu, dalam kusala dan akusala, terdapat āsevana paccaya (kondisi pengulangan) dan kamma paccaya. Dalam kiriyā, hanya terdapat āsevana paccaya. Dengan memahami āsevana paccaya, semoga anda selalu melakukan kusala dhamma secara berulang-ulang dan semoga anda selalu berusaha tidak melakukan akusala dhamma. Demikianlah penjelasan āsevana paccaya.

Paṭṭhāna dalam kehidupan sehari-hari

Disusun oleh : Sayalay Santagave