Paṭṭhāna – 13 Kammapaccayo (Kondisi kamma)

11
Buddha

13 Kammapaccayo (Kondisi kamma)

Ajaran Sang Buddha adalah ajaran mengenai kamma, yang menerima dan mempercayai kamma. Dalam 24 paccaya, kammapaccaya adalah cetanā. Cetanā sama dengan kamma. Oleh sebab itu, Sang Buddha berkata,“Cetanāhaṃ, bhikkhave, kammaṃ vadāmi.” (Wahai para bhikkhu, niat adalah yang Saya sebut sebagai kamma).

Terdapat dua jenis cetanā : nānakkhaṇika cetanā dan sahajāta cetanā.

Setiap batin memiliki cetanā. Cetanā dan dhamma yang bersekutu dengannya (citta dan cetasika yang lain), muncul bersama, dan cetanā  ini memberikan energi kepada dhamma yang menyertainya disebut sahajāta cetanā. Jika terdapat jeda waktu antara cetanā yang muncul dan akibat yang dihasilkannya, maka cetanā ini disebut nānakkhaṇikacetanā.

Demikian pula terdapat dua jenis kamma : nānakkhaṇika kamma dan sahajāta kamma.

Nānakkhaṇika kamma berarti kamma pada waktu yang berbeda, dan sahajātakamma berarti kamma pada momen yang sama atau kamma yang muncul bersamaan. Nānakkhaṇika kamma adalah cetanā (niat) masa lampau yang masih ‘tertidur’ di arus kesadaran dan menunggu kondisi yang tepat untuk menghasilkan akibatnya. Ini berarti terdapat jeda waktu antara sebab dan akibat yang dapat dibagi menjadi:

  1. jeda satu momen batin, yakni momen batin sebelumnya dan momen batin berikutnya (= Magga dan Phala),
  2. melalui jeda banyak momen batin,
  3. melalui jeda satu kehidupan (bhava),
  4. melalui jeda banyak kehidupan,
  5. melalui jeda banyak kappa (siklus dunia).

Nānakkhaṇika kamma adalah cetanā yang bersekutu dengan kusala dan akusala. Ketika berbicara mengenai kamma, biasanya merujuk pada nānakkhaṇika kamma. Ketika orang berkata, “Sungguh kamma baik”, atau “Sungguh kamma buruk”, ini juga merujuk pada nānakkhaṇika kamma. Saat membicarakan bahwa kita adalah pemilik kamma kita sendiri, mewarisi, terlahir, berkerabat dan terlindung oleh kamma kita sendiri, maka semua ini merujuk pada nānakkhaṇika kamma.

Berbeda dengan Sahajāta kamma yang berarti kamma pada momen yang sama atau kamma yang muncul bersamaan. Ini berarti sebab dan akibat harus ada bersamaan. Sahajātakamma adalah cetanā saat ini, yang merupakan cetasika universal (sabbacittasādhāraṇa cetasika – cetasika umum yang bersekutu dengan setiap citta). Cetanā ini muncul bersamaan dengan setiap citta dan cetasika lain yang menyertainya dalam kusala,akusala atau abyākata.

Terdapat contoh yang merujuk pada fungsi dari cetanā. Dalam sebuah lembaga, terdapat seorang presiden, seorang sekretaris dan banyak anggota. Di antara mereka, sekretaris lebih sibuk dibandingkan anggota lainnya. Ia harus memastikan setiap orang hadir saat rapat; ia harus memberikan rasa nyaman pada peserta rapat; dan ia harus mempersiapkan pidato yang berhubungan dengan rapat. Tugas dari presiden hanyalah mengadministrasi lembaga dan menghadiri rapat. Di sini, sekretaris merujuk pada cetanā. Fungsi dari cetanā adalah mendorong/ menstimulasi citta dan cetasika yang menyertainya untuk berhubungan dengan objek, jadi ia lebih sibuk dibandingkan cetasika–cetasika lainnya. Sifat dari cetanā bagaikan seorang ketua kelas yang melakukan tugasnya sendiri dan mendorong cetasika–cetasika lain yang bersekutu dengannya untuk melakukan fungsinya juga.

Cetanā muncul lebih dari 1 triliun kali dalam sekali jentikan jari. Cetanā sama dengan cetasika–cetasika lainnya. Ia muncul dan segera lenyap, jadi bagaimana ia dapat menghasilkan akibat? Walaupun ia lenyap, ia menanamkan potensinya dalam arus batin dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Contohnya beberapa orang tua memiliki pengaruh terhadap anak-anaknya, tetapi tidak dengan beberapa orang tua lainnya. Walaupun orang tua yang memiliki pengaruh terhadap anak-anaknya meninggal, pengaruhnya akan tetap tersisa pada anak-anak mereka. Tetapi orang tua yang tidak memiliki pengaruh terhadap anak-anak mereka, ketika mereka meninggal, tidak ada yang tersisa pada anak-anak mereka.

Bodhisatta memenuhi pāramī selama empat asaṅkheyya dan seratus ribu siklus dunia. Potensi-potensi tersebut mengikuti Beliau dari kehidupan sebagai petapa Sumedhā hingga kehidupan sebagai Raja Vessantarā. Pada kehidupan tersebut pāramī dan potensi Beliau telah rampung dan siap untuk menjadi Buddha.

Begitu pula Anāthapiṇḍika setelah mendengarkan Dhamma dari Bhante Sāriputta, ia meninggal dan terlahir kembali di alam dewa Tāvatiṁsā. Segera setelah ia terlahir di alam dewa Tāvatiṁsā, ia merenungkan dari mana ia berasal. Ia mengetahui bahwa ia berasal dari alam manusia dan merupakan seorang dāyakā di vihara Jetavana. Jadi sebelum masuk ke tempat tinggal dewa, ia mengunjungi alam manusia dan melihat vihara Jetavana di mana Sang Buddha tinggal dan ia merasa sangat senang. Sebenarnya ia adalah seorang Sotāpanna dan ketika menjelang kematian, ia merenungkan Vipassanā setelah mendengarkan Dhamma dari Bhante Sāriputta dan ia pun meninggal dunia.

Tidak ada jeda waktu antara cuti citta di alam manusia dan paṭisandhi citta di alam dewa Tāvatiṁsā. Cuti citta menyebabkan munculnya paṭisandhi citta melalui kondisi anantarapaccaya. Kusala cetanā yang dilakukannya pada kehidupan sebagai Anāthapiṇḍika dan kusala cetanā yang telah dilakukannya pada banyak kehidupan lampaunya menjadi potensi yang terus mengikutinya hingga ke surga Tāvatiṁsā. Potensi-potensi tersebut tidak akan lenyap dan akan terus mengikutinya hingga ia mencapai Parinibbāna. Oleh sebab itu, kusala dan akusalakamma merupakan harta yang terus mengikuti kita dalam mengarungi saṁsāra.

Tidak hanya potensi yang baik, tetapi potensi yang buruk juga selalu mengikuti kita. Setiap orang memiliki kusala dan akusala dalam saṁsāra. Tetapi tidak perlu terlalu takut terhadap akusala yang lampau. Lakukanlah banyakkusala di kehidupan ini, jadi hanya kusala kamma yang memiliki kesempatan untuk membuahkan hasil.

Kusalākusalaṁ kammaṁ, vipākānaṁ khandhānaṁ kaṭattā ca rūpānaṁ, kammapaccayena paccayo.

Kusala dan akusala kamma (nānakkhaṇika cetanā) menyebabkan munculnya gugusan batin (4 vipākanāmakkhandhā) dan kammaja rūpa melalui kondisi kamma (kamma paccaya).

Kalimat pāḷi ini merujuk pada nānakkhaṇikakamma. Kaṭattārūpa berarti kammajarūpa yang merupakan hasil dari kamma. Terdapat 9 jenis kammajarūpa : cakkhudassakakalāpa, sotadassaka kalāpa, ghānadassaka kalāpa,jivhādassakakalāpa, kāyadassaka kalāpa, itthibhāvadassaka kalāpa, purisabhāvadassaka kalāpa, hadayadassakakalāpa dan jīvitanvaka kalāpa.

Cetanā, sampayuttakānaṁ dhammānaṁ taṁsamuṭṭhānānañca rūpānaṁ, kammapaccayena paccayo.

Cetanā mendukung untuk mempertahankan citta, cetasika dan cittaja rūpa yang bersekutu dengannya melalui kondisi kamma (kamma paccaya).

Kalimat pāḷi ini merujuk pada sahajāta kamma.

Kitab komentar memberikan perumpamaan benih sebagai kamma paccaya. Sebagaimana pohon yang tumbuh karena benih, tanpa benih, pohon tidak dapat tumbuh; demikian pula kusala (hal bajik) atau akusala (hal tidak bajik) memiliki cetanā yang mendorong dirinya dan mendorong citta dan cetasika yang menyertainya untuk berhubungan dengan objek. Cetanā ini disebut kamma. Contohnya, ketika saya menjelaskan paṭṭhāna kepada anda, saya memiliki niat atau keinginan untuk membuat anda mengerti. Niat atau keinginan inilah yang merupakan cetanā. Demikian pula, batin mereka yang mempersembahkan dana makanan dan batin dari mereka yang tidak mempersembahkan dana makanan adalah berbeda. Mereka yang mempersembahkan makanan memiliki keinginan untuk memasak yang enak, kemudian mempersiapkan makanan tersebut dengan baik dan mempersembahkannya kepada penerima dengan penuh hormat. Semua niat / keinginan ini adalah cetanā yang juga disebut kamma. Bersamaan dengan kamma, kita juga perlu membahas akibat dari kamma (vipāka).

Mari kita lihat bagaimana proses kamma muncul melalui vithi (rangkaian kesadaran). Di antara tujuh javana, javana pertama adalah yang paling lemah. Contohnya, ketika kain direndam dengan wewangian, pada hari pertama, aroma dari wewangian yang terserap hanya sedikit, tetapi pada hari kedua, aroma kain tersebut menjadi lebih kuat, pada hari ketiga aroma menjadi lebih kuat lagi, pada hari keempat, aroma dari kain semakin kuat secara bertahap setiap harinya, aroma pada hari ketujuh merupakan yang paling kuat. Demikian pula javana pertama merupakan yang paling lemah, javana kedua sedikit lebih kuat dibandingkan yang pertama, javana ketiga lebih kuat daripada javana kedua. Dengan cara demikianlah secara bertahap, javana selanjutnya lebih kuat daripada javana sebelumnya; akhirnya javana ketujuh (javana yang terakhir ) adalah yang paling kuat.

Pada āsevana paccaya saya telah menjelaskan mengenai diṭṭhadhammavedanīyakamma, yang menunjukkan bagaimana javana pertama menghasilkan akibatnya. Jika javana pertama memiliki kesempatan, ia akan membuahkan hasil pada kehidupan saat ini juga. Jika tidak ada kesempatan, maka ia akan menjadi ahosi kamma yang tidak lagi dapat membuahkan hasil. Pada kasus Mahāduggata, pria miskin tersebut langsung menjadi sangat kaya pada kehidupannya saat itu dikarenakan berbuahnya javana pertama, karena dengan cetanā yang paling tinggi ia mempersembahkan makanan kepada Buddha yang baru saja keluar dari nirodhasamāpatti. Walaupun sekarang kita tidak lagi memilki kesempatan untuk menemui kondisi seperti itu, akibat dari javana pertama akan melindungi mereka yang banyak melakukan kusala sehingga terbebas dari bahaya pada kehidupan mereka yang sekarang.

Jika javana pertama terlalu lemah untuk membuahkan hasilnya sendiri, maka ia akan bergabung dengan kamma kehidupan lampau untuk menghasilkan akibat pada kehidupan yang sekarang. Contohnya, air yang mengalir lemah dan lambat di selokan, ketika hujan turun, maka aliran air tersebut menjadi lebih kuat karena air hujan. Air dalam selokan adalah kamma kehidupan saat ini dan air hujan merupakan kamma kehidupan masa lampau. Karena javana pertama membuahkan hasil pada kehidupan sekarang dan banyak javana pertama yang telah dihasilkan pada kehidupan sekarang; beberapa javana pertama tidak membuahkan hasil dan lenyap, sehingga disebut kamma yang tidak efektif (ahosi kamma). Beberapa javana pertama membuahkan hasil pada kehidupan sekarang, ini dinamakan diṭṭhadhammavedanīya kamma.

Javana ketujuh merupakan yang paling kuat dan akan membuahkan hasil pada kehidupan setelah kehidupan ini, terlahir sebagai manusia atau dewa dan mendapatkan kebahagiaan manusia atau kebahagiaan di alam dewa. Ini di sisi kusala. Sisi akusala adalah sebaliknya. Contohnya, pada suatu hari setelah Bhante Sāriputta mencukur rambutnya, sesosok raksasa bernama Nanda memukul kepala Bhante Sāriputta. Raksasa tersebut langsung mati dan terlahir di neraka avīci. Kematian secara langsung merupakan akibat dari javana pertama dan terlahir di neraka avīci merupakan hasil dari javana yang ketujuh. Banyak javana ketujuh pada kehidupan sekarang, tetapi hanya ada satu javana ketujuh yang akan membuahkan hasil pada kehidupan setelah kehidupan sekarang, ini disebut upapajjavedanīyakamma, dan javana ketujuh lainnya akan menjadi kamma yang tidak efektif (ahosikamma).

Di antara tujuh javana, 5 javana kamma yang di tengah (javana 2 s/d 6 ) akan membuahkan hasil kapanpun ia mempunyai kesempatan dimulai kehidupan ketiga sampai sepanjang seseorang belum mencapai Nibbāna. Kita semua memiliki kusalakamma dan akusala kamma pada kehidupan lampau. Javana kusala kamma ketujuh kita pada kehidupan sebelumnya telah membuahkan hasil pada momen kelahiran kembali (paṭisandhi) kehidupan ini dengan terlahir sebagai manusia. Walaupun demikian, kita masih memiliki banyak sekali lima javana kamma  yang di tengah yang terakumulasi pada setiap kehidupan – pada banyak kehidupan lampau dan juga kehidupan yang sekarang. Mereka dapat memberikan hasil paṭisandhi maupun hasil pavatti (sepanjang kehidupan dari kelahiran hingga kematian) mulai dari kehidupan ketiga dan seterusnya kapanpun mereka memiliki kesempatan, jadi lima javana kamma tengah ini disebut aparāpariyavedanīya kamma.

Kemudian, terdapat 4 jenis Kamma berdasarkan urutan potensi yaitu :

  1. Garuka kamma Garuka kamma berarti “kamma berat”. Jika seseorang memiliki garuka kamma, maka ia pasti akan membuahkan hasil pada kehidupan setelah sekarang. Pada sisi kusala, jika seseorang mencapai jhāna pada kehidupan ini dan dapat mempertahankan hingga kematiannya; ia pasti akan terlahir sebagai brahma pada kehidupan selanjutnya. Di sisi akusala, jika seseorang melakukan salah satu perbuatan jahat berikut : membunuh ibu, membunuh ayah, membunuh Arahat, membuat Sang Buddha berdarah, atau menyebabkan perpecahan Saṅghā, maka ia pasti akan terlahir di neraka avīci pada kehidupan selanjutnya. Contohnya Bhante Devadatta, sekarang berada di neraka avīci karena membuat Sang Buddha berdarah pada kehidupan sebelumnya. Apakah anda memiliki kusala garuka kamma atau akusala garuka kamma pada kehidupan ini ? Jika tidak, maka tidak ada garuka kamma yang akan membuahkan hasil pada kehidupan selanjutnya. Bahkan jika kita memiliki garuka kamma pada kehidupan lampau lainnya, garuka kamma tersebut telah membuahkan hasil. Tetapi jika kita mencoba mencapai jhāna yang merupakan garuka kamma pada kehidupan ini, hal ini adalah memungkinkan.
  1. Asanna kamma Kamma selanjutnya adalah āsanna kamma (kamma yang paling dekat), yang bekerja saat menjelang kematian. Karena dosa, orang-orang saling membunuh dan mati, jadi kamma pembunuhan ini adalah āsanna kamma. Pada sisi yang baik, seorang guru atau kerabat yang baik melafalkan paritta untuk seseorang yang sekarat pada ranjang kematiannya dan membiarkan ia mendengarkan dhammadesanā. Jika ia mengambil objek tersebut dan meninggal, maka kamma mendengarkan pelafalan paritta atau dhammadesanā. juga merupakan āsanna kamma. Jika seseorang tidak memiliki garuka kamma dan 5 javana kamma yang di tengah dari banyak kehidupan lampaunya belum memiliki kesempatan membuahkan akibat, maka āsanna kamma akan membuahkan hasil pada kehidupan selanjutnya.

Suatu saat, seekor katak mendengarkan Dhamma yang dibabarkan oleh seorang bhikkhu. Walaupun katak tersebut tidak mengerti Dhamma yang disampaikan, ia merasa sangat senang. Saat itu, seorang penggembala sapi menekannya dengan sebuah tongkat. Katak tersebut mati dan terlahir di alam dewa dikarenakan āsannakamma ( kamma menjelang kematian ) membuahkan hasil.

Contoh lainnya adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar 15 tahun yang sakit parah, ayahnya mengeluarkannya dari rumah karena khawatir jika putranya meninggal, banyak orang yang akan datang melayat dan mereka akan melihat harta kekayaannya. Walaupun sangat kaya, ia sangat kikir dan bukan seorang umat Buddha. Dengan ñāṇa (pengetahuan) Sang Buddha melihat anak laki-laki tersebut dan datang ke depan rumah mereka, Beliau mengirimkan cahaya pada anak laki-laki tersebut. Ketika ia melihat Sang Buddha, ia merasa sangat senang dan dia belum pernah melihat penampilan yang demikian agung, kemudian ia memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan setelah itu Sang Buddha pergi. Ia mengambil Sang Buddha sebagai objek dan meninggal, ia terlahir di alam dewa. Melihat Sang Buddha merupakan āsanna kamma yang bekerja pada momen menjelang kematian.

  1. Aciṇṇa kamma

Kamma selanjutnya adalah āciṇṇa kamma. Jika tidak ada garukakamma dan āsanna kamma yang terlibat pada saat menjelang kematian, dan jika 5 javana yang di tengah dari banyak kehidupan lampau belum berkesempatan membuahkan akibat, maka āciṇṇakamma yang akan menghasilkan akibatnya. Āciṇṇakamma adalah kamma kebiasaan selama hidup. Di sisi akusala, ada orang yang pekerjaannya membunuh hewan setiap hari untuk dijual. Ini merupakan kamma kebiasaan dan mungkin akan membuahkan hasil pada kehidupan selanjutnya. Di sisi yang baik, beberapa orang setiap hari memuja Sang Buddha dengan penuh penghormatan, mendermakan makanan secara rutin, mempersembahkan air dan bunga secara rutin, senantiasa mendengarkan Dhamma, selalu menjaga sīla atau bermeditasi. Ini merupakan kamma kebiasaan mereka dan jika tidak ada kamma lain pada saat menjelang kematian, maka āciṇṇakamma akan membuahkan hasil pada kehidupan mendatang.

  1. Kaṭattā kamma

Mari kita lanjutkan pada kamma berikutnya yang disebut kaṭattā kamma. Ada kusala atau akusala kamma yang terkadang jarang dilakukan dan segera dilupakan, ini disebut kaṭattā kamma. Jika tidak ada 3 jenis kamma di atas dan lima javana kamma tengah dari banyak kehidupan lampau belum berkesempatan membuahkan hasil, makakaṭattā kamma mungkin dapat membuahkan akibatnya pada kehidupan berikutnya.

Berhubungan dengan kamma, akan diceritakan sebuah kisah jātaka mengenai Mahānārada Kassapa. Pada kisah tersebut, ada beberapa hal yang berhubungan dengan kamma yang perlu diperhatikan. Walaupun kisah ini kedengarannya seperti dongeng, karena melibatkan Brahma, melihat kehidupan lampau dan sebagainya, tetapi nilai moral dari cerita ini sungguh nyata. Anehnya sekarang, kita mungkin juga bertemu orang-orang yang juga memiliki pandangan yang sama dengan pandangan yang dimiliki tokoh-tokoh dalam kisah tersebut.

Di kota Mithilā, negara Videha terdapat seorang raja yang baik bernama Aṅgati. Ia hanya memiliki seorang putri bernama Rucā (calon Bhante Ānandā). Ia sangat cantik. Ayahnya sangat menyayanginya dan setiap hari ia mengirimkan karangan bunga kepada putrinya dan memberikannya pakaian-pakaian mewah setiap hari. Pelayannya juga membuatkannya kalung bunga dan mempercantik putri tersebut setiap hari. Sang raja dan putri saling menyayangi satu sama lain.

Suatu hari di bulan purnama, raja mengumpulkan para menteri dan anggota parlemen untuk mendiskusikan apa yang harus dilakukan pada hari bulan purnama ini. Mereka memberikan saran kepada raja “sungguh baik jika mengunjungi orang hebat dan bertanya kepadanya”. Raja menerima saran tersebut dan mengunjungi seorang petapa yang dikenal sebagai Guṇa; ia hidup telanjang karena pandangannya adalah bahwa mereka yang mengenakan pakaian penuh tipu daya dan seseorang yang tidak memiliki kotoran batin (kilesā) tidak perlu berpakaian.

Ketika raja dan pengikutnya tiba di tempat petapa Guṇa, beberapa orang juga telah berada di sana. Raja beserta pengikutnya juga duduk di satu sisi, raja menyapa petapa tersebut dengan penuh hormat dan bertanya :

  • Bagaimana memperlakukan orang tua agar menjadi orang yang baik ?
  • Bagaimana memperlakukan guru agar menjadi orang yang baik ?
  • Bagaimana memperlakukan istri dan anak-anak agar menjadi orang yang baik ?
  • Bagaimana memperlakukan para pengikut agar menjadi orang yang baik ?
  • Bagaimana seseorang berlatih agar dapat terlahir di alam yang baik ?
  • Mereka yang telah tiba di neraka, apa yang sebelumnya mereka lakukan ?

Petapa Guṇa tidak mengetahui jawaban dari semua pertanyaan ini, tetapi ia tidak mengatakan bahwa ia tidak tahu; ia hanya mengajarkan cara ia berlatih. Tidak ada hasil dari melakukan pelatihan yang baik maupun buruk. Tidak ada suatu apapun dari kehidupan lampau yang dibawa pada kehidupan ini, karena makhluk-makhluk muncul begitu saja dalam kehidupan ini. Tidak ada leluhur, tidak ada orang tua, jadi tidak perlu berpikir bagaimana memperlakukan mereka. Tidak ada guru yang menasehati dan membuat orang agar menjadi penurut. Orang yang tidak penurut memang sudah demikian adanya dan orang yang penurut memang sudah penurut dari dasarnya. Tidak ada yang menjadi penurut dengan nasehat dari orang lain.

Tidak ada hasil dari melakukan dāna, tidak ada hasil dari mengerahkan usaha. Hanya orang bodoh yang melakukan dāna dan hanya orang-orang yang cerdas yang menerima persembahan tersebut. Setiap orang memiliki 4 unsur utama yang sama (mahābhūta) : pathavī, āpo, tejo dan vāyo. Tidak ada yang istimewa, jadi tidak ada seorangpun yang lebih baik daripada orang lainnya. Oleh sebab itu, tidak perlu menghormati orang yang lebih tua.

Unsur-unsur utama juga telah ditetapkan bahwa unsur ini akan muncul setelah itu. Oleh sebab itu, kehidupan ini juga sudah ditakdirkan, bahwa setelah kehidupan sebagai manusia, maka seseorang akan menjadi dewa, setelah kehidupan di alam dewa, ia harus menjadi hewan dan seterusnya sesuai dengan urutan. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah urutan ini. Bagaikan kapal kecil yang diikatkan pada kapal besar; kapal kecil harus ikut jika kapal besar bergerak dan ia harus berhenti ketika kapal besar berhenti. Segala hal harus terjadi sesuai dengan takdir yang tidak lagi dapat diubah.

Tujuh dhātu: pathavī, āpo, tejo, vāyo, sukha, dukkha dan jīva adalah kekal dan tidak ada seorang pun yang dapat mengubah atau menghancurkannya. Membunuh seseorang hanya berarti sebilah pisau masuk di antara ketujuhdhātu tersebut, tetapi orang-orang menamakannya dengan “pembunuhan”; 7 dhātu tidak dapat dibunuh, jadi tidak ada seorangpun yang dibunuh. Jadi orang meninggal bukan karena pembunuhan, tetapi hanya karena telah ditakdirkan (niyata).

Orang baik, walaupun mereka berusaha berlatih, mereka tidak akan menjadi murni. Mereka tidak akan terbebas dari saṁsāra selama delapan puluh empat ribu siklus dunia belum usai. Orang jahat, walaupun mereka jahat, mereka juga akan terbebas dari saṁsāra setelah delapan puluh empat ribu siklus dunia selesai. Sebagaimana air di samudera yang tidak dapat mengalir melewati pantai, demikian pula semua makhluk tidak dapat melewati pantai delapan puluh empat ribu siklus dunia.

Pada saat itu, seorang jenderal bernama Alāta memuji bahwa ajaran dari petapa Guṇa adalah benar. Alāta berkata, “Tidak ada akibat atau hasil dari kusala dan akusala. Saya mengingat kehidupan lampau saya. Saya adalah seorang penjagal sapi bernama Piṅgala, dan saya tidak hanya membunuh sapi, tetapi juga banyak hewan lainnya pada kehidupan sebelumnya. Setelah meninggal, saya menjadi seorang jenderal, jadi tidak ada akibat buruk dari membunuh banyak hewan. Jika membuahkan hasil, saya seharusnya telah berada di neraka sekarang, tetapi saya di sini sebagai seorang jenderal dalam silsilah keluarga jenderal”.

Perkataannya membuat orang-orang bingung. Sebenarnya, ia mempersembahkan karangan bunga pada cetiya di masa Buddha Kassapa. Persembahan yang dilakukannya tidak terjadi tepat pada kehidupan sebelumnya, tetapi pada waktu yang lama, jauh sebelum kehidupan sebelumnya. Pada kehidupan sebelumnya, walaupun ia melakukan banyak akusala kamma berupa “pembunuhan”, tetapi pada ranjang kematiannya, kusala kamma dari mempersembahkan karangan bunga berkesempatan untuk membuahkan hasil, jadi ia menjadi jenderal pada kehidupan ini. Walaupun demikian, akusala kamma dari pembunuhan yang dilakukannya juga akan menghasilkan akibat di masa yang akan datang. Jenderal Alāta adalah calon bhante Devadatta.

Pada saat itu, seorang budak bernama Vījaka menangis tersedu-sedu. Raja bertanya, “Mengapa kamu menangis?” Ia menjawab, “Saya juga mengingat kehidupan saya yang sebelumnya. Saya adalah orang kaya pada kehidupan sebelumnya. Saya banyak berderma dan saya tidak pernah melakukan akusala. Banyak orang memuji saya. Setelah meninggal, saya menjadi budak pada kehidupan ini. Walaupun saya seorang budak, saya masih mendermakan setengah dari makanan saya jika ada penerima dan saya selalu menjalankan uposatha sīla pada hari uposatha. Saya tidak hanya melakukan kusala di masa lampau, tetapi saya juga masih melakukan dāna dan sīla pada kehidupan ini. Perkataan jenderal Alāta benar bahwa tidak ada hasil yang diperoleh dari dāna, sīla karena saya menjadi seorang budak dalam silsilah keluarga budak walaupun saya melakukan banyak kusala pada kehidupan lampau dan masih terus melakukan kusala pada kehidupan ini”.

Raja berpikir bahwa petapa Guṇa mengajarkan demikian dan demikian. Jenderal Alāta dulunya adalah penjagal sapi dan menjadi jenderal pada kehidupan ini. Budak Vījaka sebelumnya adalah orang kaya dan banyak berderma tetapi menjadi budak pada kehidupan ini. Raja berpikir bahwa hidup telah ditakdirkan sebagaimana yang dikatakan Alāta dan petapa Guṇa.

Sehubungan dengan kasus budak Vījaka, pada masa Buddha Kassapa, ia kehilangan sapinya; ketika ia sedang mencari sapinya, seorang bhikkhu yang tersesat menanyakan jalan pulang kepadanya. Saat itu, dia merasa tidak senang karena tidak dapat menemukan sapinya dan ia berkata kepada bhikkhu tersebut, “Bhikkhu, anda sungguh cerewet. Hanya budak yang cerewet, anda mungkin berasal dari silsilah keluarga budak”. Kamma dari perkataan ini telah dilakukan lama sekali. Kamma ini berkesempatan membuahkan hasil dan muncul kembali ketika ia berada pada ranjang kematiannya pada kehidupan sebelumnya, jadi ia terlahir sebagai seorang budak pada kehidupan ini. Budak Vījaka adalah calon bhante Mahā Moggalāna.

Melihat tiga fakta ini : Alāta yang kehidupan sebelumnya adalah penjagal sapi menjadi jenderal, Vījaka yang pada kehidupan sebelumnya banyak melakukan kusala menjadi budak dan ajaran petapa Guṇa bahwa segalanya telah ditakdirkan (niyati) : “Hal ini pasti terjadi setelah itu”. Raja meneguhkan batinnya dan berkata kepada petapa Guṇa, “Saya menyukai ajaranmu. Jika saya terus mendengarkan dhamma darimu, saya menyia-nyiakan waktu saya. Sekarang saya akan hidup bersenang-senang. Kita akan bertemu lagi jika telah ditakdirkan untuk bertemu (niyati). Saya akan pergi sekarang”. Raja pun pergi tanpa memberi hormat kepada petapa tersebut karena ajarannya.

Pagi berikutnya, ia mengadakan pertemuan dengan para menteri dan anggota parlemen, ia memberi tahu mereka, “Jenderal Alāta yang akan mengatur segala hal. Tidak perlu memberi tahu saya apapun. Cari dan kirimkan saya wanitawanita cantik. Jika ia memiliki suami, ambil dari suaminya dan antarkan kepada saya”. Seluruh negeri terguncang dengan berita bahwa setelah mendengarkan dhamma dari petapa Guṇa, raja menerima micchādiṭṭhi (pandangan salah), dan ia tidak lagi melaksanakan pemerintahan. Ia hanya bersenangsenang dengan para wanita. Setiap orang merasa tidak senang terhadap berita ini, tetapi tidak ada seorang pun yang berani memberitahunya.

Putri raja juga mendengar kabar ini. Jika ia langsung menemui ayahnya, maka berarti ia bertindak tidak hormat kepada raja. Biasanya, ia mengunjungi ayahnya setiap dua minggu dan raja biasanya memberikannya seribu keping emas untuk berderma dan ia juga memberikan uang kepadanya setiap hari untuk kebutuhan pakaian dan mempercantik dirinya. Raja selalu mendorongnya untuk berderma. Setelah dua minggu berlalu, tiba saatnya untuk mengunjungi ayahnya, ia memberi tahu pengikutnya, “Besok adalah hari uposatha, mari kita mengunjungi raja”. Setelah mempercantik diri, mereka pun mengunjungi raja bersama-sama.

Raja juga merasa sangat senang melihatnya datang bersama para pengikutnya. Raja menyapanya, “Putriku! Apakah kamu senang tinggal di istana kerajaan ? Apakah kamu pergi ke danau dan bersenang-senang?” Ia menjawab, “Ayah, segalanya sangat terpenuhi karena pemberian dari ayah. Besok adalah hari uposatha. Jadi tolong berikan saya seribu keping emas untuk mempersembahkan dāna seperti biasanya”.

Pada saat itu, raja memberitahunya, “Putriku! Kamu hanya menyia-nyiakan uang dan tidak akan mendapatkan hasil apapun. Menjalankan uposatha sīla juga tidak akan menghasilkan akibat yang baik. Oleh sebab itu, jangan memberikan apapun kepada siapapun. Tidak ada kehidupan yang akan datang, jadi tidak perlu bersusah payah melakukan sesuatu yang tidak ada hasilnya”, raja menasehati putrinya. Sang putri sebenarnya mengharapkan perkataan ini dari raja. Ia meminta uang darinya hanya karena ia menginginkan perkataan ini dari ayahnya. Kemudian ayahnya memberitahunya, “Alāta adalah seorang penjagal sapi pada kehidupan sebelumnya, dan sekarang ia menjadi seorang jenderal pada kehidupan ini; budak Vījaka menangis tersedusedu karena ia banyak berderma dan menjalankan uposatha sīla pada kehidupan sebelumnya dan sekarang ia menjadi budak pada kehidupan ini. Jadi segala hal terjadi sesuai dengan takdir (niyata). Jangan menyia-nyiakan uang.”

Putri Rucā memberitahunya, “Sebelumnya saya pernah mendengar, jika seseorang bergaul dengan orang yang jahat, maka ia juga akan menjadi orang yang jahat, sekarang karena Alāta dan Vījaka yang tidak berpengetahuan dan bergaul dengan petapa Guṇa yang juga tidak berpengetahuan, mereka benarbenar menjadi orang-orang yang tidak baik. Kedua orang ini menjadi bodoh karena mereka dungu, tetapi ayah! Anda adalah orang yang bijaksana. Anda dapat berpikir dengan baik. Mengapa orang bijaksana seperti ayah menerima micchādiṭṭhi dari bergaul dengan orang dungu?”

“Jika setiap orang akan menjadi murni setelah delapan puluh empat ribu siklus dunia berakhir, lalu mengapa petapa Guṇa harus melakukan pelatihan tidak berpakaian dan melakukannya tanpa rasa malu? Ayah, saya juga dapat mengingat 7 kehidupan lampau saya dan 7 kehidupan yang akan datang. Saya akan memberitahu ayah mengenai kehidupan lampau saya.Saya adalah seorang putra tampan dari seorang pengrajin emas. Saya bergaul dengan teman yang jahat dan merampas banyak istri orang lain. Saya banyak melakukan kamma kāmesumicchācāra.”

Kita perhatikan di sini “puggalopi upanissayapaccayena paccayo.” (Manusia adalah pengkondisi ketergantungan yang kuat untuk munculnya akusala) Dengan bergantung pada kondisi ini juga, sang raja karena bergaul dengan petapa Guṇa maka ia mengambil micchādiṭṭhi.

Sang Putri melanjutkan, “Walaupun saya melakukan banyak kamma kāmesumicchācāra pada kehidupan tersebut, pada kehidupan berikutnya saya terlahir kembali sebagai seorang yang kaya dan menjalankan uposatha sīla, dan ia adalah orang yang bajik. Pada kehidupan ketiga, ia masuk ke neraka Roruva karena kamma kāmesumicchācāra yang dilakukannya pada satu kehidupan sebelumnya. Ia menderita dalam jangka waktu yang lama di neraka tersebut dan setelah terbebas dari neraka, pada kehidupan keempat, ia menjadi kambing jantan yang sangat kuat. Ia dikebiri, terkadang orang menungganginya, dan terkadang orang mengendarainya dengan membuatnya menarik kereta, karena kambing tersebut sangat kuat. Pada kehidupan kelima, ia menjadi seekor monyet jantan di hutan. Pemimpin monyet menggigit buah pelirnya sejak ia masih muda karena ia juga sangat kuat dan pemimpin monyet berpikir ia akan menjadi musuhnya. Pada kehidupan keenam, ia menjadi seekor sapi jantan dan sejak masih muda, ia telah dikebiri, karena ia sangat kuat, orang-orang juga mengendarainya dengan ia menarik kereta. Pada kehidupan ketujuh, ia menjadi manusia yang bukan pria, bukan pula wanita. Ini dikarenakan buah dari perbuatan asusila pada kehidupan lampaunya”.

“Setelah kehidupan tersebut, ia terlahir kembali menjadi seorang dewi dan ia adalah istri dari raja Sakka selama empat kehidupan. Setelah itu ia terlahir menjadi seorang dewi dan menjadi istri dari dewa Javana. Setelah kehidupan tersebut, ia terlahir sebagai putri dari raja Aṅgati yang bernama Rucā. Karena kammakāmesumicchācāra, ia menderita di neraka; menderita pada kehidupannya sebagai kambing, monyet dan sapi. Kemudian karena menjalankan uposathasīla pada satu kehidupannya, ia terlahir kembali sebagai dewa”.

Ia memberi tahu ayahnya, “Saya mengingat kehidupankehidupan saya, dan terdapat kammabeserta akibatnya. Ayah, mohon jangan mengatakan bahwa tidak ada kamma dan akibatnya karena percaya pada perkataan petapa Guṇa”. Walau ia memberi tahu ayahnya, sang raja hanya tersenyum dan mendengarkan, ia berpikir bahwa kemampuan berbicara putri saya sangat baik, tetapi ia tidak melepaskan dhamma dari petapa Guṇa. Karena ia tahu bahwa ayahnya tidak melepaskan micchādiṭṭhi, pandangan salah, ia merangkupkan kedua telapak tangannya dan berdoa, “Wahai para bhikkhu, dewa, atau brahma yang menjaga dunia, mohon datanglah dan lepaskan pandangan micchādiṭṭhi ayah saya”.

Pada saat itu, raja brahma bernama Nārada yang merupakan calon Buddha Gotama mendengar doanya, dan ia menjelma menjadi seorang bhikkhu, kemudian pergi ke istana melalui angkasa dengan penampilan yang sangat agung. Ia berdiri di angkasa di atas raja. Putri Rucā merasa sangat senang dan memberi hormat kepadanya. Raja juga tidak dapat duduk di atas singgasananya karena kekuatan dari brahma dan ia pun berdiri di lantai dan bertanya, “Ada apa anda datang kemari? Siapa nama anda? Dan dari silsilah keluarga mana anda berasal?”

Mengetahui bahwa raja tidak akan menerima bahwa ada alam brahma, raja brahma menjawab, “Saya datang dari alam brahma dan orang-orang mengenal saya sebagai Nārada”. Raja kembali bertanya, “Bagaimana anda datang kemari dan bagaimana anda mendapatkan kekuatan ini?” Raja brahma menjawab, “Saya hanya mengatakan kebenaran. Saya melakukan sepuluh jenis perbuatan baik (10 Sucarita). Saya mengendalikan indera mata saya. Saya berderma. Semua hal ini saya lakukan pada masa lampau, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali. Oleh sebab itu, saya dapat pergi ke mana saja yang saya inginkan dengan kekuatan saya”. Raja brahma mulai menjelaskan hasil dari kusala kamma.

Raja kembali bertanya, “Yang Mulia Nārada, saya ingin menanyakan satu pertanyaan : Apakah benar terdapat kehidupan yang akan datang (paraloka)?” Raja brahma menjawab, “Benar, terdapat kehidupan mendatang dan ada orang tua. Hanya mereka yang memiliki nafsu keinginan kuat terhadap nafsu indera dan diliputi oleh moha yang mengatakan bahwa tidak ada kehidupan mendatang (paraloka), karena jika mereka mengatakan bahwa ada kehidupan yang akan datang dan ada neraka, maka mereka tidak dapat menikmati kesenangan inderawi semau mereka pada kehidupan ini. Sungguh benar adanya bahwa terdapat kehidupan yang akan datang”.

Raja tidak ingin mendengar bahwa ada kehidupan yang selanjutnya, jadi ia bercanda, “Jika ada kehidupan mendatang, pinjamkan saya lima ratus keping uang, saya akan mengembalikan sejumlah seribu keping pada kehidupan mendatang”. Raja brahma mengatakan, ”Jika anda orang yang berbudi luhur, saya berani meminjamkan anda lima ratus keping uang dan anda akan mengembalikannya kepada saya. Tetapi, sekarang anda melakukan perbuatan jahat dan anda akan masuk neraka. Bagaimana saya berani meminjamkan anda uang dan bagaimana saya dapat memintanya kembali dari anda di neraka? Meminjamkan uang hanyalah kepada mereka yang layak dipercaya. Anda akan pergi ke neraka, jadi saya tidak berani meminjamkan uang kepada anda”.

Raja brahma lanjut menjelaskan secara terperinci seberapa menderitanya hidup di neraka dan raja menjadi takut. Setelah itu raja brahma juga menjelaskan bahwa mereka yang melakukan dāna, menjalankan uposatha sīla akan terlahir di alam dewa dan menjelaskan bagaimana kesenangan di alam dewa. Akhirnya, raja melepaskan pandangan micchādiṭṭhi dan memutuskan bahwa ada kehidupan yang akan datang. Demikianlah semua orang merasa senang dan raja brahma kembali ke alam brahma.

Mari kita kembali pada kenyataan. Kita harus percaya pada kamma beserta akibatnya dan kita harus melakukankusala sebanyak yang kita mampu. Banyak orang berpikir bahwa cukup bagi mereka hanya berderma saja. Sehubungan dengan hasil kamma, akibat dari menjaga sīla lebih baik dari melakukan dāna. Dengan bergantung pada sīla, orang-orang melakukan bisnis, dan saat mereka mendapatkan keuntungan, mereka dapat melakukan dāna. Hanya berderma saja, tanpa sīla sebagai landasan, kita tidak akan mendapatkan kehidupan yang sempurna. Setelah melakukan dāna, langkah selanjutnya adalah meditasi.

Pertama-tama, kita harus berusaha memiliki pemikiran yang baik. Mereka yang serakah, harus berusaha untuk mengurangi keserakahannya; mereka yang memiliki dosa (kebencian) yang kuat harus berusaha mengurangi dosa; mereka yang memiliki kesombongan (māna) yang kuat harus berusaha mengurangi māna; dan mereka yang memiliki iri hati (issā) serta macchariya (kekikiran) yang kuat harus berusaha mengurangi issā dan macchariya.

Saat menjelang kematian, jika tidak ada garuka kamma atau kamma kehidupan lampau belum berkesempatan membuahkan hasil, maka āsannakamma (kamma menjelang kematian) yang akan membuahkan akibatnya. Sehubungan dengan āsannakamma, akan diceritakan kisah ayah dari bhikkhu Soṇa, dari Sri Lanka kuno. Bhikkhu ini tidak dapat mencegah ayahnya yang menjadi pemburu. Ketika ayahnya sudah tua, karena dorongan darinya, ayahnya menjadi bhikkhu.

Ketika ia berbaring pada ranjang kematiannya dan dalam kondisi kebingungan, ia melihat tanda-tanda neraka. Tampak banyak anjing besar yang berlari ke arah dirinya dan berusaha memakannya. Ia menjerit, “Putraku, takut-takuti mereka, takuttakuti mereka”. Bhikkhu Soṇa mengetahui bahwa ayahnya melihat tanda-tanda dari neraka. Kemudian ia meminta orang untuk memetik bunga dan menaburkannya di atas ranjang, kemudian membawa ayahnya yang terbaring di ranjang ke sebuah cetiya. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Bhante, di sini ada banyak bunga. Kami mewakili anda mempersembahkannya kepada Sang Buddha”. Saat itu ayahnya kembali sadar dan melihat bungabunga tersebut, dan kemudian ia kembali kebingungan. Tetapi kali ini pertanda yang baru muncul pada dirinya, ia melihat seorang dewi dan berkata, “Putraku, beri jalan, beri jalan, ibu tirimu datang kemari” (ia sedang melihat dewi). Setelah itu ia meninggal dan terlahir kembali di alam dewa.

Cerita lainnya sehubungan dengan pentingnya momen menjelang kematian adalah mengenai upasaka Dhammika yang merupakan seorang Sotapanna pada masa Buddha Gotama. Kitab komentar menjelaskan bahwa ia tidak hanya melakukan āsannakamma tetapi juga āciṇṇa kamma seperti menjalankan uposatha sīla secara rutin, ia juga sering mendiskusikan Dhamma bersama 500 upasaka. Menjelang kematiannya, ia ingin mendengarkan pelafalan paritta, jadi beberapa bhikkhu datang melafalkan paritta untuknya.

Ketika ia mendengarkan pelafalan paritta, ia masuk dalam kondisi kebingungan, ia melihat 6 kereta dari 6 alam dewa dan dewa dari masing-masing kereta mengatakan, “Saya akan membawanya dengan kereta saya”. Mereka sangat berisik jadi ia berkata kepada mereka, “Tunggu sebentar, tunggu sebentar”. Pada saat itu para bhikkhu berhenti melafalkan paritta dan berpikir bahwa ia menyuruh mereka berhenti melafalkan paritta, jadi mereka pun pulang. Semua anak-anaknya menangis dan berpikir bahwa sepanjang hidupnya ia mencintai Dhamma dan sekarang menjelang kematiannya, ia membenci Dhamma.

Pada saat ia kembali sadar, ia bertanya kepada anak-anaknya di mana para bhikkhu. Anak-anaknya menjawab bahwa mereka semua telah pulang karena ayah mengatakan “Tunggu, tunggu”. Karena para dewa sangat berisik, saya berbicara kepada mereka, bukan pada para bhikkhu. Anak-anaknya tidak mempercayainya, jadi ia meminta mereka mengambil sebuah kalung bunga dan melemparkannya. Ia bertekad agar kalung bunga tersebut tergantung di kereta dari dewa Tusitā. Anak-anaknya melihat kalung bunga tergantung di udara, tetapi mereka tidak dapat melihat kereta dewa. Saat itu, semua anaknya merasa senang dan ia menasehati mereka, “Lakukan kusala seperti yang saya lakukan jika kalian ingin mengikuti cara kepergian saya”, dan ia pun meninggal dunia.

Saat kita melakukan kusala dan menginginkan hasil yang sempurna dari kusala, kita perlu berhati-hati agar tidak melakukan akusala sebelum dan sesudah melakukan kusala. Jika kita ceroboh, maka kusala kamma akan disertai dengan akusala seperti lobha, dosa atau māna sebelum atau sesudah melakukan kusala. Kusalakamma demikian, walaupun banyak uang yang dihabiskan, hasilnya sangat kecil. Jadi kita harus berhati-hati, cetanā kita akan menghasilkan akibat dengan kualitas yang berbeda-beda. Mari kita mengulang kembali dua jenis kamma: nānakkhaṇika–kamma dan sahajātakamma.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, cetanā adalah kamma. Pada sahajāta–kamma, ia merujuk pada atthi (keberadaan). Cetanā ada pada setiap citta. Cetanā menstimulir setiap citta bersama dengan cetasika yang menyertainya pada momen keberadaannya, oleh sebab itu disebut sahajāta–cetanā (cetanā yang muncul bersama), yang juga disebut dengan sahajāta–kamma.

Nānakkhaṇika–kamma merujuk pada natthi (ketidakberadaan). Ketika sahajāta–cetanā lenyap, pada saat ia akan membuahkan hasil, ketidakberadaan dari cetanā ini disebut nānakkhaṇika–kamma. Sebab dan akibat terjadi pada rentang waktu yang berbeda. Pada nānakkhaṇika–kamma, cetanā yang bersekutu dengan 12 akusalacitta disebut 12 akusala cetanā. Cetanā yang bersekutu dengan 21 kusala citta disebut 21 kusalacetanā.

Paṭisandhi citta dari mereka yang terlahir di 4 alam apāya (4 alam menyedihkan) adalah akusala vipāka upekkhāsantīraṇa citta. Walaupun paṭisandhi citta di 4 alam apāya adalah sama, penderitaan yang dirasakan berbeda di keempat alam tersebut, ini karena kehendak/niat dengan tingkatan yang berbeda-beda dalam melakukan akusala. Contohnya adalah radio. Karena kualitasnya berbeda-beda, hasilnya juga berbedabeda. Walaupun demikian, semuanya tetap dinamakan “radio”. Demikian pula, walaupun paṭisandhi citta – nya sama, kualitas dari kamma berbeda-beda, jadi akibat yang dihasilkan juga berbeda-beda.

Paṭisandhi citta dari seorang manusia adalah salah satu dari 8 mahāvipākacitta. Paṭisandhicitta dari 6 alam dewa juga salah satu dari 8 mahāvipākacitta. Paṭisandhicitta-nya sama, tetapi kualitas dari akibatnya berbeda. Bahkan di antara manusia, paṭisandhi citta yang sama juga menghasilkan akibat dengan kualitas yang berbeda. Contohnya, paṭisandhi citta dari Sang Buddha dan bhante Sāriputta, bhante Mahāmoggalāna dan sebagainya adalah mahāvipāka citta yang pertama, tetapi kualitasnya berbeda karena terdapat perbedaan derajat dari kehendak/niat (cetanā) dalam melakukan kusala. Seperti mobil, walau secara umum kita menamakannya “mobil”, tetapi jika kualitasnya berbeda, maka nilainya juga berbeda.

Terlahir sebagai manusia adalah karena kāmāvacara kusala kamma. Apakah yang dimaksud dengan kāmāvacarakusala? Yaitu 10 jenis kusalakammapatha : dāna, sīla, bhāvanā, apacāyana, veyāvacca, pattidāna, pattānumodana, dhammasavanā, dhammadesanā dan diṭṭhijukamma.

Sebagai tambahan, paṭisandhi citta berupa ahetuka kusala vipāka upekkhāsantīraṇacitta menghasilkan akibat berupa cacat indera pada manusia. Terlahir di 4 alam apāya karena paṭisandhi citta-nya adalah ahetuka akusalavipāka upekkhāsantīraṇa citta.

Ada orang yang telah buta, tuli atau bisu sejak mereka lahir; ini dikarenakan ahetukakusalavipāka upekkhāsantīraṇa citta menyebabkan cacat pada indera. Walaupun demikian, dalam dunia medis, dokter akan mengatakan bahwa ini disebabkan karena orang-orang ini kekurangan nutrisi tertentu. Sebenarnya cacat pada indera terjadi karena disebabkan oleh kamma.

Biasanya, disebabkan oleh kusala atau akusala kamma, kita menerima akibat (vipāka) baik objek tidak menyenangkan (aniṭṭhārammaṇa) maupun objek yang menyenangkan (iṭṭhārammaṇa). Ketika berbicara mengenai objek tidak menyenangkan atau objek menyenangkan, kita akan berlandaskan pada kesepakatan umum manusia bagaimana suatu objek itu menyenangkan atau tidak. Objek yang tidak dapat memberikan kebahagiaan atau kepuasan kepada siapapun disebut objek tidak menyenangkan dan objek menyenangkan adalah kebalikannya.

Contohnya, bangkai anjing yang berbau busuk adalah objek yang tidak menyenangkan bagi manusia, tetapi merupakan objek yang menyenangkan bagi burung hering yang biasanya memakan daging busuk. Jika kita melihat bangkai anjing berbau busuk di jalan, ini berarti kita menerima akusala vipāka pada cakkhuviññāṇa, yang dihasilkan oleh akusala kamma. Dengan kata lain, melihat objek penglihatan tidak menyenangkan apapun adalah disebabkan oleh akusala vipāka pada cakkhuviññāṇa. Demikian pula, suara yang tidak menyenangkan, bau dan rasa yang tidak enak, sentuhan yang tidak menyenangkan merupakan akibat dari akusala kamma. Sebaliknya, bersinggungan dengan objek menyenangkan merupakan kusalavipāka kita pada cakkhuviññāṇa, sotaviññāṇa,ghānaviññāṇa, jivhāviññāṇa, atau kāyaviññāṇa yang disebabkan oleh kusala kamma.

Waktu melakukan kamma dan waktu berbuahnya akibat tidaklah sama. Terdapat selang waktu saat akibat berbuah dan waktu melakukan kamma. Saat kita melakukan, tidak dapat memberikan akibat. Ia hanya akan dapat membuahkan akibat pada waktu yang tepat. Jika langsung membuahkan hasil ketika melakukan kusala, maka contohnya jika sekarang anda menjalankan sīla, sekarang juga anda menjadi dewa. Hal ini tidak mungkin terjadi.

Sekarang setiap orang tahu mengenai kamma dan akibatnya. Jika seseorang melakukan perbuatan baik, maka ia akan mendapatkan akibat yang baik. Jika seseorang melakukan perbuatan buruk, maka ia akan mendapatkan hasil yang buruk. Semua aksi yang kita lakukan akan menghasilkan reaksi. Kita akan mendapat reaksi dari aksi yang telah kita lakukan pada banyak kehidupan yang lalu atau banyak kalpa yang lalu.

Secara alami, orang awam (puthujjana) melakukan kusalakamma dan akusalakamma. Seorang sayadaw dari Myanmar mengatakan hal ini, “Setelah melakukan perbuatan buruk, kita seyogianya tidak pasrah begitu saja terhadap kamma dan kita harus melakukan lebih banyak kebajikan sepanjang hidup kita. Ini merupakan cara untuk menunda akusala kamma tersebut”. Dengan kata lain, setelah kita melakukan satu akusala kamma, kita harus berusaha melakukan banyak kusala kamma. Kebanyakan dari kamma dapat diubah kecuali kamma berat yang pasti akan membuahkan akibatnya pada kehidupan berikutnya, seperti yang dilakukan bhante Devadatta terhadap Sang Buddha (lohituppātaka kamma) dan memecah belah Saṅghā (Saṅghabhedaka kamma).

Sehubungan dengan bhante Devadatta, Sang Buddha memberikan ramalan dalam Cūḷavaggapāḷī, “devadatto apāyiko nerayiko,”  yang berarti Devadatta akan terlahir di alam apāya dan ia akan masuk neraka. Sang Buddha mengatakan dengan pasti bahwa, “Atekiccho” tidak dapat diubah, tidak dapat ditolong. “Kappaṭṭho” ia akan menderita di neraka selama satu siklus dunia. Sehubungan dengan perkataan Beliau, beberapa bhikkhu meragukan hal ini, bagaimana Beliau dapat mengatakan hal ini dengan sangat pasti? Sang Buddha menjelaskan, “Jika Devadattta masih memiliki kusala bahkan sekecil ujung jarum, saya tidak akan mengatakan dengan sedemikian pastinya.” Beliau dapat mengatakan dengan pasti bahwa orang-orang seperti Devadatta, akan terlahir kembali di neraka, tetapi Beliau tidak mengatakan secara pasti kepada orang lain, bahwa ia akan masuk neraka.

Cara Sang Buddha mengajar tidak seperti yang lainnya. Contohnya, sehubungan dengan pāṇātipāta, Nigaṇḍanāthaputta, petapa telanjang berkata, “Siapapun yang melakukan kamma pāṇātipāta akan masuk neraka”. Tetapi Sang Buddha tidak berkata demikian dalam hal pāṇātipāta. Sang Buddha berkata, “Pāṇātipāto niraya saṁvattaniko” (Siapapun yang melakukan kamma pāṇātipāta, mungkin akan masuk neraka). Sang Buddha tidak mengatakan “pasti masuk”, tetapi Beliau mengatakan “mungkin masuk”. Walaupun  demikian, jika kamma buruk yang dilakukan cukup berat sehingga dapat menghasilkan akibat pada kehidupan selanjutnya, maka orang tersebut akan terlahir di neraka dan mendapatkan akibat buruk seperti yang terjadi pada bhante Devadatta.

Sang Buddha membabarkan dalam Saṅkhadhamma Sutta mengenai cara untuk lolos atau menunda akusalakamma tertentu. Puthujjana mungkin melakukan akusala. Setelah melakukan akusala, maka ia tidak perlu merasa sedih yang berlebihan; hendaknya ia melakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Mengetahui akusala yang telah diperbuatnya.
  2. Mengetahui bahwa adalah salah melakukan hal tersebut.
  3. Mengakui kesalahannya pada seorang guru atau teman.
  4. Berusaha menahan diri agar tidak kembali melakukan kesalahan yang sama.
  5. Terus melakukan perbuatan baik.

Dengan melakukan hal demikian, ia mungkin dapat menunda akibat dari akusalakamma yang telah diperbuatnya, tetapi ini bukanlah proses pembatalan. Bergantung pada kondisi-kondisi, sebuah kamma akan membuahkan hasil. Akusalakamma tidak dapat membuahkan hasil pada mereka yang memiliki kondisikondisi yang baik.

Dalam Lonakapalla Sutta, Sang Buddha memberikan perumpamaan jika segumpal garam dimasukkan dalam secangkir air, maka air tersebut akan menjadi terlalu asin untuk diminum. Jika jumlah garam yang sama dimasukkan ke sebuah danau atau sebuah sungai, maka rasa asin akan menghilang karena banyaknya air. Contoh lainnya adalah seorang yang kaya, walaupun ia melakukan kejahatan, ia mungkin saja tidak dihukum. Atau seseorang yang mengenal seorang pimpinan yang berwenang (seorang pimpinan yang berkuasa), bahkan jika ia melakukan kejahatan, ia mungkin dapat terhindar dari hukuman. Inilah yang disebut dengan kondisi yang baik.

Demikian pula, seseorang melakukan banyak perbuatan baik dan berbudi luhur, tetapi karena ia adalah seorang puthujjana, terkadang ia juga melakukan akusala. Sedangkan orang lainnya tidak bajik dan selalu melakukan akusala. Hasil atau akibat yang akan mereka terima tidak akan sama. Seseorang yang memiliki kondisi yang baik dalam hal sīla, samādhi dan paññā, kalaupun ia melakukan akusala, kusala mungkin akan dapat menutupi akusala.

Seseorang yang tidak bajik tidak memiliki kondisi-kondisi yang baik, jadi jika ia selalu melakukan akusala, ketika akusala tersebut membuahkan hasil, ia akan menderita dalam jangka waktu yang lama. Oleh sebab itu, kamma bukanlah sesuatu yang kita harus pasrahkan begitu saja, tetapi merupakan sesuatu yang harus kita ubah. Kita harus menggantikan yang buruk dengan yang baik. Setelah memahami kamma, jika kita dapat menghindariakusala dan berusaha melakukan kusala kamma, kita dapat pergi dari satu kehidupan yang baik menuju kehidupan baik lainnya, jika kita masih ingin mengembara di saṁsāra.

Di sisi lain, jika kita telah bosan tinggal di saṁsāra dan tidak ingin lagi merasakan penderitaan dari kelahiran, menjadi tua, sakit dan mati, saat kita melakukan kusalakamma, jika kita dapat mengikis kilesā secara sepenuhnya, kamma–kamma tersebut baik yang baik maupun yang buruk, tidak akan dapat membuahkan akibatnya lagi dan kita akan mencapai Nibbāna.

Penjelasan mengenai kammapaccaya selesai sampai di sini dan semoga anda mengerti bagaimana menghindari akusala kamma dan melakukan kusala kamma. Sang Buddha berkata bahwa saya tidak memuji kehidupan apapun karena setiap kehidupan adalah penderitaan. Ini bahkan bagaikan setitik kecil saja dari tinja sangat menjijikkan. Mari kita berusaha berlatih agar terbebas dari penderitaan saṁsāra.

Paṭṭhāna dalam kehidupan sehari-hari

Disusun oleh : Sayalay Santagave