Paṭṭhāna – 14 Vipākapaccayo (Kondisi hasil kamma)

6
Buddha

14 Vipākapaccayo (Kondisi hasil kamma)

Vipāka tersusun dari kata “vi” dan “pāka”. “Vi” artinya “tidak sama” dan “pāka” berarti “hasil atau akibat”. Apa yang tidak sama? Kusala dan akusala tidak sama. Kusala terbebas dari kesalahan dan memberikan hasil yang baik. Akusala disertai kesalahan dan memberikan hasil yang buruk. Vipāka merupakan hasil dari kusala dan akusala yang sifat dasarnya tidak sama.

Karena vipāka merupakan hasil, maka sifatnya pasif, tanpa usaha dan diam. Hasil dari kusala kamma dan akusala kamma juga bersifat pasif, tanpa usaha dan diam. Hasil dari Magga (Phala) juga tenang dan diam. Mari kita melihat batin pada saat kita tidur (bhavaṅga citta). Batin pada saat kita tidur adalah kesadaran hasil (vipāka citta) dan serupa dengan paṭisandhi vipāka citta. Jika paṭisandhi citta disertai dengan alobha,adosa dan amoha hetu, maka batin saat tidur juga akan disertai alobha, adosa dan amoha hetu. Jika pīti termasuk dalam paṭisandhi cittanya, maka wajahnya akan terlihat gembira/menyenangkan pada saat sedang tidur. Jika tidak ada pīti dalam paṭisandhicitta, maka wajah tidak terlihat menyenangkan saat sedang tidur.

Biasanya, jika paṭisandhi citta disertai amoha (paññā), sejak masih kecil, anak tersebut sangat cerdas. Jika amoha tidak termasuk, maka sejak anak tersebut masih kecil, ia biasabiasa saja. Paṭisandhi citta, citta saat tidur dan citta–citta pada proses rangkaian kesadaran di lima pintu indera yang terdiri dari cakkhuviññāṇa, sotaviññāṇa, ghānaviññāṇa, jihvāviññāṇa, kāyaviññāṇa, sampaṭicchana, santīraṇa dan tadārammaṇa adalah citta hasil kamma (vipāka citta). Batin saat tidur tanpa mimpi sangat tenang dan diam. Sifat dasar dari vipāka citta adalah seperti orang yang sedang beristirahat di tempat yang teduh dengan angin bertiup sepoi-sepoi. Sungguh sejuk. Demikian pula, vipāka citta juga diam, tidak aktif dan sejuk. Akusala vipāka citta juga demikian. Mungkin anda pernah melihat seekor anjing atau kucing yang sedang tidur, mereka kelihatan sangat tenang dan diam. Inilah yang dimaksud dengan vipāka citta.

Di antara semua jenis citta, vipāka citta tidak tajam, tanpa disertai usaha dan merupakan gambaran dari kamma, tidak aktif serta diam. Contohnya, vipāka citta bagaikan pantulan yang muncul pada cermin atau gambar pada foto, pantulan atau gambar ini tidak akan dapat diubah.

Lima jenis dari pasāda rūpa disebabkan oleh kamma. Walaupun mereka merupakan hasil kamma, mereka tidak disebut vipāka. Dengan kata lain, walaupun kammajarūpa merupakan hasil kamma, ia tidak disebut vipāka. Yang disebut vipāka hanyalah yang merujuk pada nāma dhamma yang memiliki sifat dasar yang sama dengan cetanā (kamma). Sebagai contoh, dari sebuah benih, akan menjadi tunas, akar, batang, ranting, daun, bunga dan kemudian menjadi buah. Tetapi hanya buah yang memiliki sifat dasar yang sama dengan benih yang disebut phala (hasil kamma, vipāka). Bagian lainnya seperti tunas, akar, batang, daun, bunga, tidak dapat disebut phala (vipāka). Demikian juga, vipāka citta hanya merujuk pada nāma dhamma saja, karena sebab dari kamma (cetanā) adalah nāma.

Vipākā cattāro khandhā arūpino, aññāmaññaṁ, vipākapaccayena paccayo.

Empat gugusan mental hasil kamma (4 vipāka nāmakkhandhā) saling menyokong untuk mempertahankan satu sama lain melalui kondisi hasil kamma (vipāka paccaya).

4 vipāka nāmakkhandhā terdiri dari vedanakkhandhā, saññakkhandhā, saṅkhārakkhandhādan viññāṇakkhandhā. Sebagai contoh, terdapat 7 cetasikapadacakkhuviññāṇa. Di antara 7 cetasika tersebut, vedanācetasika adalah vedanakkhandhā; saññā cetasika adalah saññakkhandhā; cetasika lainnya yang dipimpin oleh cetanā adalah saṅkhārakkhandhā; dan cakkhuviññāṇa adalah viññāṇakkhandhā. Jadi 4 vipāka nāmakkhandhā saling menyokong untuk mempertahankan satu sama lain melalui kondisi hasil kamma (vipāka paccaya).

Ingatlah bahwa rūpa atau nāma selalu muncul secara berkelompok. Contohnya, cakkhuviññāṇa muncul bersama dengan 7 cetasika. Mereka tidak dapat dipisahkan. Jika mereka dipisahkan, maka tidak mempunyai energi lagi, tidak ada lagi cakkhuviññāṇa. Sebagaimana jika sebuah mobil dipisahkan menjadi bagian yang terpisah-pisah, maka bagian-bagian tersebut tidak lagi dapat disebut mobil dan tidak dapat digunakan lagi sebagai mobil. Selain itu, dua citta tidak dapat muncul secara bersamaan pada satu waktu, jadi kita hidup dengan hanya satu citta pada satu waktu. Setelah lenyapnya satu citta, citta yang lainnya muncul. Bagaikan roda mobil yang menyentuh jalan hanya satu bagian pada satu waktu.

Secara keseluruhan, terdapat 36 vipāka citta : 7 akusala vipāka citta dan 29 kusalavipākacitta (8 ahetuka kusalavipāka citta, 8 mahāvipāka citta, 5 rūpāvacaravipākacitta, 4 arūpāvacara vipāka citta, 4 phala citta). Ke 36 vipākacitta tidak akan muncul pada setiap orang, tetapi cakkhuviññāṇa, sotaviññāṇa, ghānaviññāṇa, jivhāviññāṇa dan kāyaviññāṇa muncul pada kita setiap hari, demikian pula sampaṭicchana,santīraṇa dan tadārammaṇa. 7 akusalavipāka citta, 8 ahetuka kusala vipāka citta dan 8 mahāvipāka citta (total 23 vipāka citta) juga umumnya muncul pada kita setiap hari.

Tetapi rūpāvacaravipāka citta dan arūpāvacaravipāka citta muncul hanya pada mereka yang mencapai rūpa jhāna dan arūpa jhāna. Begitu pula sotāpattiphalacitta hanya muncul pada seorang Sotāpanna; sakadāgāmiphala citta hanya muncul pada seorang Sakadāgāmi; anāgāmiphala citta hanya muncul pada seorang Anāgāmi dan arahattaphalacitta hanya muncul pada seorang Arahat. Phala citta tidak seperti jhānacitta. Mereka yang telah mencapai 4 jhāna dapat memasuki jhāna manapun yang ia inginkan, jadi jhāna citta yang manapun dapat muncul pada dirinya. Tetapi seorang Ariya tidak dapat memasuki semua phala citta yang diinginkannya. Ia hanya dapat memasuki satu phala citta yang dicapainya.

Lebih jauh lagi, beberapa orang mengatakan bahwa lokīya citta tidak dapat muncul pada Sang Buddha dan setiap citta yang muncul pada Sang Buddha selalu disertai dengan paññā.

Hal ini tidak benar. Cakkhuviññāṇa, sampaṭicchana, santīraṇa, dan sebagainya juga muncul pada Sang Buddha setiap hari. Semua citta tersebut adalah lokīyacitta dan tidak disertai dengan paññā. Hanya javana yang muncul pada Beliau yang selalu disertai dengan paññā.Hasituppādacitta dari Sang Buddha juga tidak disertai dengan paññā. Contohnya, ketika Sang Buddha mengumpulkan dana makanan, Beliau tersenyum karena melihat seekor babi betina. Babi betina tersebut adalah brahma pada salah satu kehidupan lampaunya. Sang Buddha tersenyum karena mengetahui bahwa babi betina tersebut sebelumnya adalah brahma. “Mengetahui” adalah dikarenakan citta sebelumnya memiliki ñaṇa dan saat Beliau tersenyum, citta senyuman tersebut tidak disertai ñāṇa. Lokīyacitta dapat muncul pada Sang Buddha dan Beliau juga dapat memasuki lokīya jhāna. Hanya akusala citta yang tidak pernah muncul pada Sang Buddha.

Penjelasan mengenai vipāka paccaya selesai sampai di sini.

Paṭṭhāna dalam kehidupan sehari-hari

Disusun oleh : Sayalay Santagave