Paṭṭhāna – 16 Indriyapaccayo (Kondisi pengendalian indriya)

11
Buddha

16 Indriyapaccayo (Kondisi pengendalian indriya)

Kondisi indriya yang mengontrol akibatnya disebut sebagai Indriya Paccaya. Sang Buddha membabarkan tentang 5 pengendalian indriya, 6 pengendalian indriya dan 22 pengendalian indriya dalam literatur Pāḷi. 5 pengendalian indriya dan 6 pengendalian indriya termasuk di dalam 22 pengendalian indriya yang terdiri dari :

(1) cakkhundriyaṃ,

(2) sotindriyaṃ,

(3) ghānindriyaṃ,

(4) jivhindriyaṃ,

(5) kāyindriyaṃ,

(6) manindriyaṃ,

(7) itthindriyaṃ,

(8) purisindriyaṃ,

(9) jīvitindriyaṃ,

(10) sukhindriyaṃ,

(11) dukkhindriyaṃ,

(12) somanassindriyaṃ,

(13) domanassindriyaṃ,

(14) upekkhindriyaṃ,

(15) saddhindriyaṃ,

(16) vīriyindriyaṃ,

(17) satindriyaṃ,

(18) samādhindriyaṃ,

(19) paññindriyaṃ,

(20) anaññātaññassāmītindriyaṃ,

(21) aññindriyaṃ,

(22) aññātāvindriyaṃ.

Ada perbedaan antara adhipati dan indriya. Adhipati adalah seperti raja dunia yang kekuatannya mengungguli semua raja lainnya, dan dengan kekuatannya ia mengelola/mengadministrasi sendiri hal-hal tanpa adanya kompetisi apapun. Semua raja lainnya adalah pengikutnya sehingga hanya ada 1 adhipati yang unggul dalam 1 waktu. Sebagai contoh, dalam 1 citta beserta cetasika tertentu, jika chanda ( keinginan harapan) yang unggul, maka citta dan cetasika yang lainnya menjadi pengikut. Jika viriya (semangat) yang unggul, maka citta dan cetasika yang lainnya dalam citta itu menjadi pengikut.

Di sisi lain, indriya tidak seperti itu. Cara indriya mendominasi adalah berbeda. Ia bisa mengendalikan dan mendominasi hanya pada area/daerahnya. Ini sama seperti raja biasa yang bisa secara bersamaan memerintah hanya di dalam kerajaannya atau negrinya. Begitu pula, setiap indriya dapat secara bersamaan mengontrol area-nya masing-masing.

Sebagai contoh, cakkhudassaka kalāpa terdiri dari 10 rūpa: pathavī, āpo, tejo, vāyo, vaṇṇa, ghandha, rasa, ojā, jīvita dan cakkhupasāda. Cakkhupasāda adalah cakkhundriya (pengendalian mata) dan jīvita adalah jīvitindriya. Walaupun cakkhundriyadan jīvitindriya berada di dalam grup cakkhudassaka kalāpa yang sama, tetapi mereka memiliki areanya masing-masing untuk dikontrol. Cakkhundriya mengontrol cakkhuviññāṇa (kesadaran mata); jīvitindriya mengontrol dan mempertahankan sisa semua rūpa yang lain (termasuk cakkhundriya/cakkhupasada) dalam 1 kalapa (kelompok rūpa) untuk tetap hidup. Kedua indriya ini bisa muncul bersamaan dan masing-masing mempunyai kekuatan untuk mengontrol areanya secara bersamaan.

Lebih jauh lagi, guru pada jaman kuno juga menggunakan para menteri sebagai perumpamaan dari indriyapaccaya. Menteri pertanian mengontrol urusan pertanian; menteri urusan luar negri mengontrol masalah yang berhubungan dengan luar negri; menteri pendidikan mengontrol urusan pendidikan, dan sebagainya. Walaupun kekuatan dari indriya tidak sekuat adhipati, ia mempunyai kemampuan dalam areanya masingmasing.

Ada 3 jenis Indriya yaitu :

  • Purejātindriya – Indriya yang lahir lebih awal
  • Sahajātindriya – Indriya yang lahir bersamaan
  • Rūpajīvitindriya – Indriya yang mempertahankan rūpa untuk tetap hidup.

Cakkhupasāda adalah indriya paccaya, jadi cakkhupasāda adalah cakkhundriya yang mengontrol kesadaran mata. Bagaimana ia mengontrolnya ? Jika mata seseorang rabun, ia tidak dapat melihat dengan jelas. Jika mata seseorang tidak rabun, maka ia dapat melihat dengan jelas. Misalkan sebuah cermin yang kabur, ketika kita melihat wajah kita pada cermin tersebut, kita tidak dapat melihat pantulan wajah kita dengan jelas. Jika cerminnya jernih (tidak kabur), maka pantulan wajah kita juga jelas. Cermin itu mengontrol gambar yang dipantulkannya.

Begitu juga cakkhupasāda (cakkhundriya) mengontrol kesadaran mata. Jika cakkhupasāda kuat, maka kesadaran mata juga kuat. Jika cakkhupasāda lemah, maka kesadaran mata juga lemah. Untuk itu, cakkhupasāda mengontrol kesadaran mata melalui kondisi pengendalian indriya (Indriya paccaya). Begitu juga dengan telinga (sotapasāda), hidung (ghānapasāda), lidah (jivhāpasāda), dan tubuh (kāyapasāda). Mereka termasuk Purejātindriya paccaya karena mereka lahir lebih awal dan mengontrol citta dan cetasika pada areanya masing-masing.

Cakkhundriyaṁ, cakkhuviññāṇadhātuyā taṁsampayuttakānañca dhammānaṁ, indriyapaccayena paccayo.

Artinya : Pengendalian indera mata (cakkhupasāda) mengontrol kesadaran mata dan cetasika yang menyertainya melalui kondisi pengendalian indriya(indriya paccaya).

Cakkhundriya adalah cakkhupasāda. Cakkhupasāda bertanggung jawab untuk melihat. Cakkhuviññāṇa melihat objek penglihatan. Cakkhupasāda mengontrol bidang penglihatan sehingga ia disebut sebagai pengendali indera mata (cakkhundriya). Cakkhupasāda dihasilkan oleh kamma.  Di dalam pupil dari mata, terdapat banyak cakkhudassakakalāpa. Cakkhupasāda merupakan bagian dari cakkhudassaka kalāpa. Jika cakkhudassaka kalāpa kuat, maka cakkhupasāda juga kuat dan penglihatan juga kuat. Cakkhupasāda dari anak muda yang berusia 10 tahun biasanya sangat kuat. Ia dapat melihat dengan jelas tetapi orang dewasa belum tentu dapat melihatnya, jadi kita bergantung kepada cakkhupasāda dalam kasus melihat. Semakin tua, maka cakkhupasāda kita semakin lemah. Pada waktu itu, kita memerlukan kacamata untuk membantu melihat dengan jelas. Seseorang hanya dapat melihat bergantung pada kualitas cakkhupasāda.

Sotindriyaṁ, sotaviññāṇadhātuyā taṁsampayuttakānañca dhammānaṁ, indriyapaccayena paccayo.

Artinya : Pengendalian indera telinga (sotapasāda) mengontrol kesadaran telinga dan cetasika yang menyertainya melalui kondisi pengendalian indriya (indriyapaccaya).

Sotapasāda adalah sotindriya. Sotapasāda bertanggung jawab untuk mendengar. Sotaviññāṇa mendengar suara. Sotapasāda mengontrol bidang mendengar sehingga ia disebut sebagai pengendali indera telinga (sotindriya). Ketika seseorang menjadi tua, sotapasāda menjadi sangat lemah dan beberapa orang tua bahkan menjadi tuli sehingga mereka memerlukan alat bantu dengar untuk mendengar. Seseorang hanya dapat mendengar bergantung kepada kualitas dari sotapasāda.

Ghānindriyaṁ, ghānaviññāṇadhātuyā taṁsampayuttakānañca dhammānaṁ, indriyapaccayena paccayo.

Artinya : Pengendalian indera hidung (ghānapasāda) mengontrol kesadaran hidung dan cetasika yang menyertainya melalui kondisi pengendalian indriya (indriyapaccaya). Ghānapasāda adalah ghānindriya. Ghānapasāda bertanggung jawab untuk mencium aroma. Ghānaviññāṇa mengetahui aroma itu. Ghānapasāda mengontrol bidang penciuman sehingga ia disebut sebagai pengendali indra penciuman (ghānindriya). Ketika seseorang menjadi tua, ghānapasāda menjadi lemah dan aroma tidak gampang tercium.

Jīvhindriyaṁ, jīvhāviññāṇadhātuyā taṁsampayuttakānañca dhammānaṁ, indriyapaccayena paccayo.

Artinya : Pengendalian indera lidah (jīvhāpasāda) mengontrol kesadaran lidah dan cetasika yang menyertainya melalui kondisi pengendalian indriya (indriya paccaya).

Jīvhāpasāda adalah jīvhindriya. Jīvhāpasāda bertanggungjawab untuk merasakan .Jīvhāviññāṇa mengetahui rasa. Jīvhāpasāda mengontrol bidang merasakan makanan/ minuman sehingga ia disebut sebagai pengendali indera lidah (jīvhindriya). Kadang-kadang kita mungkin mendengar beberapa orang dewasa mengatakan bahwa ketika mereka masih muda, rasa dari buah plum (kismis) sangat enak, tetapi sekarang buah plum ini tidak mempunyai rasa. Sebenarnyajivhāpasāda merekalah yang menjadi lemah dan tidak dapat merasakan rasa makanan yang enak lagi walaupun mereka memakan buah plum/kismis yang sama seperti yang mereka makan ketika masih muda. Ketika tidak dapat merasakan rasa makanan, mereka mencoba mencari makanan-makanan yang enak, sehingga mereka menjadi pemilih. Mereka sendiri tidak menyadari bahwa jīvhāpasāda mereka telah menjadi lemah.

Kāyindriyaṁ, kāyaviññāṇadhātuyā taṁsampayuttakānañca dhammānaṁ, indriyapaccayena paccayo.

Artinya : Pengendalian indera tubuh (kāyapasāda) mengontrol kesadaran tubuh dan cetasika yang menyertainya melalui kondisi pengendalian indriya (indriya paccaya).

Kāyindriya adalah kāyapasāda. Kāyapasāda bertanggung jawab pada sentuhan.Kāyaviññāṇa mengetahui sentuhan. Kāyapasāda mengontrol bidang sentuhan sehingga ia disebut sebagai pengendali indera tubuh (kāyindriya). Ketika seseorang menjadi tua, kāyapasāda juga menjadi sangat lemah. Ketika kāyapasāda masih bagus, seseorang bahkan bisa merasakan sensasi dari seekor semut yang merayap di tangan atau kakinya. Tetapi ketika ia menjadi tua, ia tidak dapat merasakan sensasi ini dengan mudah. Bagi mereka yang kāyapasāda rusak secara total bahkan tidak dapat mengetahui sentuhan dari apapun.

Terdapat 5 indera pengendali batin/mental yaitu :

  1. saddhā – saddhindriya,
  2. vīriya –vīriyindriya,
  3. sati – satindriya,
  4. samādhi – samādhindriya,
  5. paññā – paññindriya.

Bergantung kepada 5 pengendalian batin yang telah matang atau kurang matang, maka Magga citta muncul pada seseorang dalam rangkaian yang berurutan. Pengendalian mental dari seorang Sotāpanna kurang matang dari Sakadāgāmi. Pengendalian mental seorang Anāgāmi lebih matang dari Sakadāgāmi. Pengendalian mental seorang Arahat adalah yang paling matang. Hanya Buddha yang dapat melihat ke-5 pengendalian mental ini telah matang atau belum. Ini disebut sebagai Buddha cakkhu (Mata dari Buddha atau kemampuan Maha Tahu-Sabbaññutañāṇa).

Kelima pengendalian mental ini sangat penting dalam berlatih meditasi. Mereka diperlukan untuk menyesuaikan. Saddhā (keyakinan) perlu untuk disesuaikan dengan paññā (kebijaksanaan). Vīriya (semangat) perlu untuk disesuaikan dengan samādhi. Saddhā yang berlebihan bisa menyebabkan keyakinan buta karena  orang itu mempercayai apapun yang dikatakan orang lain tanpa menggunakan kebijaksanaannya (paññā). Pañña yang berlebihan juga bisa membuat seseorang menjadi licik. Sebagai contoh, orang-orang menciptakan bom nuklir karena tidak mempunyai keyakinan pada kamma dan akibatnya dan ini seperti efek samping dari obat-obatan. Pañña yang berlebihan sulit untuk disembuhkan jika tidak disesuaikan dengan saddhā.

Jika vīriya berlebihan dan samādhi (konsentrasi) kurang, maka kegelisahan muncul. Jika konsentrasi  (samādhi) berlebihan dan semangat (vīriya) kurang, maka muncul rasa kantuk. Oleh karena itu, vīriya dan samādhi perlu diseimbangkan/disesuaikan satu sama lain. Bagaimanapun, berhubungan dengan sati (perhatian penuh), semakin penuh perhatiannya, maka semakin baik. Saddhā (saddhindriya) adalah yakin kepada Buddha, Dhamma, Saṅgha, kamma dan akibatnya. Mempercayai hal lain bukanlah saddhā yang benar. Mempercayai objek yang riil/nyata adalah saddhā yang riil/benar. Mempercayai objek yang tidak riil/nyata bukan saddhā yang sebenarnya, ini disebut sebagai penentuan/ tekad yang salah (micchādhimokkha). Bukan hanya saddhā yang terdiri dari 2 jenis : nyata dan tidak nyata, tetapi paññā juga terdiri dari 2 jenis : nyata dan tidak nyata. Jika mempercayai objek yang tidak nyata, mengetahui disini (paññā–paññīndriya) juga tidak nyata, dan ini diketahui dengan paññā yang palsu. Hanya mempercayai objek yang riil/nyata, maka paññā juga riil/nyata.

Jika seseorang secara teratur berusaha dengan saddhā dan paññā yang benar/nyata, maka itu akan menjadi viriya yang benar/nyata (vīriyindriya). Jika saddhā dan paññā tidak benar, vīriya menjadi tidak riil/benar, dan vīriya ini akan membuat banyak kesalahan dan mengumpulkan banyak akusala. Perhatian penuh (sati – satindriya) dan konsentrasi (samādhi – samādhindriya) juga menjadi tidak benar jika saddhā dan paññā tidak benar.

Sekarang mari kita bahas tentang pengendalian kehidupan (jīvita – jīvitindriya). Orang-orang berpikir tentang adanya jiwa atau roh di dalam tubuh dan jiwa itu berubah dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain. Sebenarnya jiwa itu tidak ada. Yang ada hanyalah pengendalian kehidupan (rūpa jīvita dan nāma jīvita). Pengendali kehidupan ini termasuk di nāma dan rūpa sejak awal momen kelahiran kembali (patisandhi). Sekarang kita bisa berbicara karena kita mempunyai pengendali kehidupan. Jika tidak ada pengendali kehidupan, kita tidak bisa berbicara.

Sifat dari jīvitindriya (pengendali kehidupan/daya hidup) adalah membuat nāma dan rūpa muncul bersama dengannya dan membuat mereka hidup sehingga nāma dan rūpa dapat melakukan tugas-tugas mereka. Jīvita mempertahankan kehidupan rūpa begitu pula nāma. Karena adanya jīvita, tubuh kita dapat bertahan hidup. Viññāṇa (kesadaran) dapat mengetahui karena ia mempunyai jīvita. Dengan kata lain, tanpa jīvita, viññāṇa tidak dapat mengetahui objek.

Begitu juga dengan vedanā dapat mengetahui karena mempunyai jīvita. Dengan kata lain, tanpa jīvita, vedanā tidak dapat merasakan.  Jīvita inilah yang mempertahankan kehidupan dari suatu nāma (citta dan cetasika). Jīvita juga mempertahankan kehidupan dari rūpa, dan ia juga menjaga atau mempertahankan suatu kammajarūpa untuk tetap hidup. Sebagai contoh, segera setelah melahirkan, seorang ibu meninggal dunia, dan seorang perawat yang baik melanjutkan menjaga atau mempertahankan bayi itu untuk hidup dan bertumbuh. Begitu pula, setelah kamma menghasilkan kammajarūpa, tugas dari kamma berakhir, dan jīvita melanjutkan menjaga dan mempertahankan kammajarūpa untuk dapat hidup.

Itulah mengapa rūpa jīvita dan nāma jīvita ada di dalam tubuh dan batin kita. Rūpa jīvita adalah 1 dari 9 atau 10 rūpa di dalam kammajarūpa yang dihasilkan di setiap sub momen kesadaran. Rūpa jīvita menjaga kammajarūpa dan ketika kammajarūpa– kammajarūpa padam, rūpa jīvita dari kammajarūpa yang baru melanjutkan menjaga kammajarūpa yang baru. Oleh karena itu, tubuh kita bisa ada tanpa gangguan dari tampilan pria atau wanita. Jadi, tubuh kita sekarang ada karena adanya jīvita.

Jika potensi kamma berakhir, maka kammajarūpa tidak dapat dihasilkan lagi dan ketika kammajarūpa terakhir padam, nāma juga padam dan ini yang disebut sebagai kematian. Membunuh suatu makhluk hidup sebenarnya membunuh jīvita. Ketika tidak ada lagi jīvita, rūpa yang lain yg dilindungi/dijaga oleh jīvita juga tidak dapat bertahan lagi. Pelanggaran dalam membunuh makhluk hidup berbeda bergantung kepada kualitas dari individu. Membunuh seorang ibu, ayah atau seorang Arahat membuat seseorang terlahir ke alam neraka avīci.

Pelanggaran dari berkata yang tidak benar (bohong) juga berbeda bergantung pada kualitas dari individu. Pelanggaran dalam melakukan hubungan seks yang salah juga berbeda bergantung kepada kualitas dari individu. Sebagai contoh, setelah seorang pria bernama Nanda melakukan hubungan seks yang salah terhadap Arahat bhikkhunī Uppalavaṇṇa, ia segera mati dan terlahir di neraka avīci. Walaupun pelanggaran sila yang sama, akibatnya akan berbeda bergantung kepada individu.

Saat ini, beberapa negara mencoba mencari sebab yang dapat memperpanjang usia kehidupan. Mereka juga menemukan beberapa sebab, tetapi sebab-sebab itu telah ditemukan oleh Sang Buddha lebih dari 2500 tahun yang lalu. Seperti yang kita ketahui, pembentukan tubuh terdiri dari kamma, citta, utu dan āhāra, dan di dalam kammapaccaya, kita mengetahui bahwa kamma dapat menciptakan kehidupan yang baru (nāma dan rūpa yang baru).

Mari membahas tentang seorang manusia yang lahir dengan paṭisandhi citta dan 30 kammajarūpa (kāyadassaka kalāpa mulai membentuk/membangun tubuh, hadayadassakakalāpa sebagai landasan bagi citta dan cetasika, dan bhāvadassakakalāpa membentuk jenis kelamin pria/wanita). Batin muncul lebih dari 1.000 milyar kali dalam 1 jentikan jari. Di dalam setiap sub momen kesadaran,kammajarūpa dihasilkan terus menerus, dan mereka padam setelah 17 momen kesadaran atau 51 sub momen kesadaran berakhir. Oleh karena itu, kemunculan kammajarūpa adalah lebih banyak dari kammajarūpa yang padam, jadi tubuh di dalam rahim ibu berkembang dengan cepat.

Cakkhupasāda (cakkhundriya), sotapasāda (sotindriya), ghānapasāda (ghānindriya) dan sebagainya juga merupakan kammajarūpa. Karena akusala kamma, beberapa orang tidak mempunyai cakkhupasāda (cakkhundriya) dan sotapasāda (sotindriya) sejak mereka lahir. Para dokter mencoba melakukan operasi pada mereka yang terlahir buta atau tuli. Dalam beberapa kasus, operasi berjalan sukses tetapi beberapa kasus tidak sukses. Contohnya, bagi mereka yang tidak pernah mempunyai cakkhupasāda atau sotapasāda, maka mereka tidak dapat melihat ataupun mendengar bagaimanapun para dokter mencoba menolong. Pada sisi lain, beberapa orang mempunyai cakkhupasāda atau sotapasāda yang sangat sangat lemah. Walaupun mereka tidak dapat melihat atau mendengar sejak mereka lahir, setelah dilakukan operasi mereka dapat melihat atau mendengar lagi.

Kammajarūpa akan terus muncul sampai 17 momen kesadaran sebelum cuticitta (kematian). Jadi kelangsungan/ kesinambungan dari rūpa muncul terus menerus. Tetapi jika kelangsungan kammajarūpa berhenti, maka ini disebut kematian. Ilmu pengetahuan tidak dapat membantu lagi ketika kelangsungan dari kammajarūpa berhenti, tetapi dalam ajaran Buddha, dalam beberapa kasus, adalah mungkin untuk memperpanjang kammajarūpa. Ini karena 2 kelas dari kamma yaitu : kamma yang menyebabkan munculnya paṭisandhi dan kamma yang menyebabkan akibat dalam masa kehidupan (pavatti). Pavatti adalah dari momen setelah paṭisandhi sampai momen kematian (cuticitta), jadi ia disebut sebagai pavatti (semasa hidup ). Jika seseorang mencoba melakukan kamma yang baru, javana pertama dari kamma tersebut yang dapat memberikan munculnya akibat pada kehidupan saat ini (pavatti) yang disebut sebagai diṭṭhadhammavedanīya kamma,  ia mungkin dapat membuatkammajarūpabertahan lebih lama.

Sebagai contoh, Raja Vasabha pada jaman kuno Srilanka. Seorang peramal meramalkan bahwa ia hanya dapat menjadi Raja selama 12 tahun, dan ia akan meninggal dunia setelah 12 tahun. Maka, Sang Raja memberitahukan hal ini kepada para Bhikkhu. Pada waktu itu, Buddha sāsanā masih berkembang di Srilanka. Para Bhikkhu menganjurkan Sang Raja untuk memperbaiki pagoda yang sudah tua/rusak, membangun pagoda baru, memperbaiki vihara tua/rusak, membangun vihara yang baru, dan memperbaiki jembatan tua/rusak serta membangun jembatan yang baru. Sang Raja melakukan seperti yang disarankan, dan kehidupannya bertahan lama begitu juga kerajaannya. Dengan memperbaiki semua bangunan tua, dia mengubah kamma-nya. Bagaimanapun, kamma dapat diubah sebagian tetapi tidak dapat diubah secara total.

Sayadaw yang menulis buku paṭṭhāna dalam bahasa Myanmar mengatakan, “Saya sedang melakukan banyakkamma bajik untuk sāsanā, jadi saya percaya bahwa hidup saya akan panjang secara moderat. Saya tidak ingin berumur panjang jika saya tidak bisa bekerja untuk sāsanā lagi. Berumur panjang tetapi tidak dapat melakukan apapun adalah sama seperti kematian bagi saya”.

Beliau melanjutkan, “Dengan batin ini, jika saya mati, saya akan mendapatkan tubuh yang dapat bekerja dan saya akan mendapatkan pengetahuan (ñāṇa) untuk dapat bekerja (untuk sāsanā) di kehidupan berikutnya. Saya bukan seorang Bhikkhu yang malas. Saya seorang Bhikkhu yang bekerja. Saya tidak ingin mempunyai usia yang panjang jika saya tidak dapat melakukan apapun. Saya bukanlah seorang Bhikkhu yang mengharapkan usia panjang, tetapi saya hanya mempunyai harapan agar dapat bekerja. Banyak orang menginginkan kehidupan yang  panjang walaupun mereka tua dan sakit dan tidak dapat bekerja lagi, karena mereka tidak pasti akan kehidupan mereka yang berikutnya. Oleh karena itu, banyak orang terlalu melekat pada kehidupan ini”.

Paling tidak, kita bisa mengubah kamma kita dengan melakukan perbaikan-perbaikan pada pagoda yang telah rusak/ hancur, vihara, jembatan, dengan mendukung orang-orang tua dengan makanan dan pelayanan, dan dengan melakukan persembahan dana kepada Bhikkhu tua yang tidak ada sokongan. Ini adalah sebab-sebab untuk memperpanjang kehidupan.

Buddha Dhamma adalah sangat pasti dari kelahiran hingga kematian. Setelah momen kelahiran kembali (paṭisandhi), muncul 15 atau 16 kesadaran kelangsungan hidup (bhavaṅgacitta). Di mulai dari sub momen kemunculan (uppāda) dari bhavaṅgacitta sampai cuti citta, maka cittajarūpa akan muncul pada setiap sub momen kemunculan (uppāda) dari setiap citta kecuali pada dvipañcaviññāṇa. Kemudian, utujarūpa dihasilkan dimulai dari sub momen kelangsungan (ṭhiti) dari paṭisandhi citta dan akan terus dihasilkan pada setiap sub momen kelangsungan (ṭhiti) dari rūpa.

Terdapat elemen api (tejo) di dalam kammajarūpa, dan elemen api ini menghasilkan utujarūpa yang disebut sebagai kammapaccayautujarūpa. Elemen api juga terdapat di dalam cittajarūpa, dan elemen api ini menghasilkan utujarūpa yang disebut sebagai cittapaccayautujarūpa.  Begitu pula terdapat elemen api (tejo) di dalam utujarūpa, dan elemen api ini dapat menghasilkan utujarūpa yang disebut sebagai utujapaccayautujarūpa. Dengan cara ini, kammajarūpa, cittajarūpa dan utujarūpa dalam sebuah janin akan berkembang secara bertahap dalam minggu pertama kehamilan.

Kemudian, setelah minggu ke-2 atau ke-3 kehamilan, rūpa itu menjadi sebuah potongan daging yang kecil dan āhārajarūpa mulai muncul dari asupan nutrisi ibu. Jika ibu makan makanan yang bergizi, maka bayi akan menjadi kuat. Jika ibu memakan makanan yang tidak bergizi, maka bayi akan menjadi lemah. Di samping itu, si ibu juga perlu memperbarui cittajarūpa-nya. Si ibu harus menjaga pikiran/batinnya bahagia dan damai sehingga cittajarūpa yang dihasilkan juga bagus dan sehat. Susu yang dihasilkan oleh cittajarūpa dari ibu juga bagus, dan ini akan baik untuk si bayi.

Ketika bayi yang telah dilahirkan mulai tumbuh, jika ia bahagia, raut wajahnya cerah dan jernih karena cittajarūpa yang baik. Terkadang, karena sakit membuat batin bayi tersebut tidak bahagia, raut wajahnya menjadi pucat dan tidak jernih, ini karena cittajarūpa yang buruk. Pembaharuan dari cittajarūpa juga merupakan sebab untuk mendapatkan usia yang panjang. Ketika berusaha mendapatkan uang, seseorang seharusnya tidak mempunyai lobha dan dosa yang kuat. Bagi mereka yang mempunyaidosa, wajahnya tidak jernih dan tidak enak dipandang karena pengaruh dari cittajarūpa yang buruk. Beberapa orang mati seketika karena dosa yang kuat.

Kita harus mempersiapkan dan memperbaharui batin kita sampai momen menjelang kematian sehingga kita dapat menghadapi setiap penyakit dengan bermartabat. Bahkan Sang Buddha juga mengalami diare sebelum mencapai  Parinibbāna; Yang Mulia Sāriputta mengalami muntah darah dan mencapai Parinibbāna; YM. Mahāmoggalāna mencapai Parinibbāna karena dipukul oleh 500 orang. Jadi, kita harus mempersiapkan bagaimana menjaga batin kita stabil pada momen menjelang kematian.

Oleh karena itu, jagalah batin selalu pada kondisi yang baik dan damai sehingga dapat mengubahkamma menjadi baik. Jangan merasa kecil hati ketika kita bertemu dengan kesulitan apapun; jagalah batin tetap stabil dan berpikir bahwa tidak ada yang lebih buruk dari kematian.  Ini adalah modifikasi dari kammajarūpa dan cittajarūpa.

Kemudian, kita juga harus mengubah utujarūpa. Segera setelah kembali dari tempat yang terik, jika kita segera mandi, kita akan menjadi sakit karena uap yang tidak sehat memasuki tubuh kita. Ini juga disebabkan olehutujarūpa yang berubah secara tidak normal. Beberapa wanita menjadi flu/sakit karena mencuci rambutnya ketika cuaca dingin. Beberapa orang yang melakukan perjalanan di tempat yang dingin tanpa menjaga tubuhnya tetap hangat akan menjadi demam dan sakit. Ini karena perubahan dari utujarūpa. Jadi kita perlu menjaga tubuh kita untuk tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Oleh karena itu, kita perlu mengubah utujarūpa kita untuk mendapatkan usia yang panjang. Sebagai tambahan untuk mendapatkan usia yang panjang, kita perlu makan makanan yang cocok dan tidak memakan makanan yang tidak cocok. Ini adalah modifikasi dari  āhārajarūpa.

Semua ini adalah modifikasi dari kamma, citta, utu dan āhāra untuk mendapatkan usia yang panjang. Tetapi,kamma hanya dapat diubah secara moderat, janganlah berasumsi bahwa kamma dapat diubah secara total.

Mari kita lanjutkan membahas itthindriya dan purisindriya.

Sejak momen paṭisandhi, 30 kammajarūpa: kāyadassakakalāpa, hadayadassakakalāpa dan bhāvadassaka kalāpa muncul bersama dengan paṭisandhi citta. Seseorang yang akan menjadi pria mempunyai purisabhāva rūpa yang termasuk di dalam bhāvadassakakalāpa. Begitu pula seseorang yang akan menjadi wanita mempunyai itthibhāva rūpa yang termasuk di dalam bhāvadassaka kalāpa. Jadi ini tidak berhubungan dengan orang tua.

Rūpa ini (bhāvadassaka kalāpa) muncul karena kamma. Mendapatkan kehidupan di alam manusia atau dewa (kāmāvacara bhūmi) adalah karenakusalakammadankāmataṇhā, begitu pula itthibhāva atau purisabhāva rūpajuga berdasarkan padakāmataṇhā.

Mari kita pikirkan tentang batin seorang pria dan seorang wanita. Wanita pada umumnya (99%) ingin terlihat cantik sebagai wanita, ingin menikmati kesenangan indriya sebagai seorang wanita dan ingin berpakaian seperti seorang wanita. Ini adalah itthikāmataṇhā untuk wanita. Pria pada umumnya (99%) ingin terlihat tampan sebagai pria, ingin menikmati kesenangan indriya sebagai seorang pria dan ingin berpakaian seperti seorang pria. Ini adalahpurisakāmataṇhā untuk pria.

Berlandaskan pada taṇhā ini, kita melakukan kusalakamma seperti dāna,sīla dan bhāvanā. Ketika kusala kammaini memberikan akibat, ia memberikanpurisabhāvarūpapada individu yang ingin menjadi pria dan itthibhāva rūpapada individu yang ingin menjadi wanita. Jadi, biasanya wanita akan menjadi wanita dalam saṁsāra dan pria akan menjadi pria dalam saṁsāra jika tidak ada gangguan/intervensi.

Sebagai contoh, dari bodhisatta mengumpulkan pāramī sampai mencapai Parinibbāna, ia tetap terlahir sebagai pria. Oleh karena itu, setelah mendapatkan ramalan dari Dīpaṅkarā Buddha, ia tidak pernah terlahir sebagai wanita. Dengan batin danchanda (harapan) ini, sebagai binatang ia terlahir jantan, sebagai manusia ia seorang pria dan sebagai dewa ia juga seorang pria.

Mari kita lihat Yasodharā. Sejak ia bertekad di depan Dīpaṅkarā Buddha, batinnya cenderung ingin memenuhi pāramī bersama dengan bodhisatta dengan menjadi istrinya. Oleh karena itu, ia tetap terlahir sebagai wanita di sepanjang saṁsāra. Sebagai seorang wanita dia ingin terlahir cantik, sebagai seorang wanita ia selalu bijaksana dan sebagai seorang wanita ia selalu membantu bodhisatta. Kāmataṇhā dari wanita melekat pada kehidupan sebagai wanita sehingga kelahirannya sebagai wanita tidak pernah berubah sepanjang saṁsāra.

Ada beberapa pengecualian. Beberapa wanita tidak menyukai kehidupannya sebagai wanita. Mereka tidak ingin terlahir sebagai wanita lagi. Walaupun mereka menikah dan memenuhi kewajiban sebagai seorang istri, mereka merasa jijik dengan kehidupan sebagai wanita. Jika mereka menjaga kemurnian sila-nya dan melakukan kusala, dengan batin yang cenderung menginginkan kehidupan sebagai pria, mereka akan terlahir menjadi pria pada kehidupan mendatang. Tetapi, kebanyakan wanita tidak ingin menjadi pria, sehingga biasanya jenis kelamin mereka tidak akan berubah.

Jadi, wanita-wanita hebat seperti Yasodharā, Khemātherī, Uppalavaṇṇatherī, Dhammadinnā dan Mahāpajāpatigotamī, mereka tidak pernah tercatat di dalam literatur pernah mengubah kehidupan mereka (=mengubah jenis kelamin ). Berlandaskan pada chanda untuk menjadi wanita, ketika kusala kamma memberikan akibat, ia akan memberikan akibat kelahiran sebagai wanita.

Mari kita lihat pada YM. Ānandā seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Ia banyak melakukan kāmesumicchācāra kamma sepanjang kehidupannya pada satu kehidupan. Karena kamma ini, ia menderita di neraka. Kemudian ia terlahir sebagai seekor kambing, kera dan sapi. Pada setiap kehidupannya ia di kebiri. Kemudian ia terlahir sebagai seorang manusia yang bukan pria maupun wanita pada satu kehidupan. Jenis manusia yang bukan pria maupun wanita tidak mempunyai bhāva rūpa. Sejak momen paṭisandhi-nya, hanya terdapat 20 kammajarūpa yang muncul bersama paṭisandhicitta. Manusia ini tidak mempunyai organ kelamin. Ia hanya mempunyai sebuah organ untuk buang air kecil dan buang air besar. Jenis manusia ini disebut sebagai napuṁsakapaṇḍaka dalam bahasa pāḷi.

Di sisi lain, ada jenis manusia yang tidak jelas mengenai jenis kelaminnya sendiri. Mereka bisa sebagai seorang pria atau sebagai seorang wanita pada satu kehidupan tetapi kedua bhāva rūpa tidak terdapat bersamaan pada satu waktu. Hanya satu bhāvarūpa yang termasuk pada satu waktu. Ketika ia menikmati perkawinan sebagai seorang wanita, itthibhāva termasuk di dalam bhāvadassaka kalāpa. Terkadang, ia berubah pikiran dan ingin menikmati perkawinan sebagai seorang pria. Pada waktu itu, bhāvarūpa merubah dirinya dan organ kelamin pria muncul untuk menikmati perkawinan dengan seorang wanita. Jenis manusia ini disebut ubhatobyañjana dalam bahasa pāḷi. Ubhato berarti “dalam dua cara atau sisi” di mana jika merujuk pada kamma ia berarti bisa menjadi keduanya (pria atau wanita); byañjana berarti “tanda” yaitu merujuk mereka yang mempunyai organ kelamin. Ubhatobyañjana berarti mereka yang mempunyai kedua organ kelamin karena kamma sehingga bisa menjadi pria atau wanita.

Sebenarnya, kedua organ kelamin ini tidak ada bersamaan pada satu waktu. Ketika manusia ini ingin menikmati kesenangan sebagai wanita, organ kelamin pria menjadi tersembunyi, tidak jelas. Ketika batinnya menjadi pria dan ingin menikmati perkawinan dengan seorang wanita, maka organ kelamin pria menjadi jelas dan organ kelamin wanita menjadi tersembunyi. Manusia jenis ubhatobyañjana ini adalah sebagai akibat dari akusala kamma. Sayadaw yang menjelaskan paṭṭhāna ini mengatakan bahwa dia mendengar beberapa dokter dapat mengubah atau melakukan operasi agar jenis manusia ini mempunyai hanya 1 organ kelamin. Beliau berasumsi bahwa ini dapat diubah dengan menghilangkan satu organ kelamin.

Itthibhāva disebut itthindriya dan purisabhāva disebut purisindriya.

Itthibhāva mengontrol karakter feminim sejak berada di dalam rahim ibu. Bagaimana ia mengontrolnya? Ia mempunyai kemampuan untuk membuat organ kelamin wanita muncul dengan jelas bersamaan dengan indera kewanitaan dan tampilan wanita seperti wajah, tangan, kaki dan sebagainya.

Purisabhāva mengontrol karakter maskulin sejak berada di rahim ibu.  Bagaimana ia mengontrolnya? Ia mempunyai kemampuan untuk membuat organ kelamin pria terlihat jelas bersamaan dengan indera lelaki dan tampilan pria seperti wajah, tangan, kaki dan sebagainya.

Oleh karena itu, ketika seorang bayi dilahirkan, ia dapat dibedakan sebagai pria atau wanita secara jelas karena kemampuan dari bhāva rūpa. Bhāva rūpa ini muncul karena kamma yang berlandaskan pada taṇhā.  Ketika seorang bayi lelaki mulai tumbuh sedikit, ia meniru tingkah laku ayahnya seperti bagaimana ia datang dan pergi, bagaimana bersikap sebagai pria, dan sebagainya. Begitu pula ketika bayi wanita mulai tumbuh, ia akan meniru tingkah laku ibunya seperti bagaimana ia datang dan pergi, bagaimana bersikap sebagai wanita, dan sebagainya.

Bukan hanya penampilan wanita yang terlihat jelas, tetapi ia berbicara seperti seorang wanita, ia berdiam sebagai seorang wanita dan ia bertingkah laku seperti seorang wanita. Sebagai seorang pria, bukan hanya penampilan seorang pria yang terlihat jelas, ia juga berbicara seperti seorang pria, ia berdiam sebagai seorang pria dan ia bertingkah laku seperti seorang pria.

Beberapa anak terlihat mirip seperti ibunya dan beberapa terlihat mirip seperti ayahnya. Ini karena ketika mereka berada di rahim ibu, kammajarūpa, cittajarūpa, utujarūpa, dan āhārajarūpa berkembang berlandaskan pada sel-sel dari ayah dan ibunya. Oleh karena itu, beberapa bagian dari seorang anak tampak mirip seperti ayahnya dan beberapa bagian mirip dengan ibunya. Rūpa mempunyai hubungan dengan orang tua sejak berada di dalam rahim ibu. Jika orang tuanya berkulit putih, maka anaknya juga akan putih. Jika orang tuanya berkulit kuning, anaknya juga berkulit kuning. Jika orang tuanya berkulit hitam, maka anaknya juga hitam.

Secara umum, jika orang tuanya cantik, maka anak-anaknya juga cantik. Umumnya, jika orang tuanya tidak cantik, maka anaknya juga akan sama. Walaupun anak-anak terlihat seperti orang tuanya, ini tidak dapat dikatakan secara pasti. Ini karena kammajarūpa tidak berhubungan dengan orang tua. Hanya utujarūpa dan cittajarūpa yang berhubungan dengan orang tua berdasarkan sel-sel orang tua. Jadi mayoritas anak-anak mempunyai batin dan kepintaran yang sama seperti orang tuanya.

Mengenai penampilan wanita dan pria, 5 jenis objek yang paling menarik bagi wanita maupun pria dijelaskan dalam Aṅguttara Nikāya.

Di antara banyak objek, penampilan dari seorang wanita adalah yang paling menarik bagi batin pria. Walaupun pria menyukai pakaian yang bagus, barang-barang yang bagus, tetapi hal-hal itu tidaklah semenarik penampilan dari seorang wanita. Begitu pula, tampilan pria adalah yang paling menarik bagi batin wanita. Walaupun wanita menyukai baju yang cantik, perhiasan yang bagus, tetapi di batin wanita hal-hal itu tidaklah semenarik penampilan pria.

Kemudian, suara seorang pria adalah objek yang paling menarik bagi batin wanita. Ketika beberapa pria sedang bercengkerama, percakapan mereka tidak dianggap menarik bagi sesama pria. Namun, jika seorang wanita mendengar lagu yang dinyanyikan oleh pria, maka itu sangat berpengaruh bagi batinnya.

Dengan cara yang sama, suara wanita merupakan objek yang paling menarik bagi batin pria. Ketika pria mendengar suara dari wanita yang mereka cintai, ini akan menjadi suara paling menarik bagi batinnya.

Di antara bau-bauan, wangi alami dari seorang pria adalah yang paling menarik bagi wanita (tentu saja jika tubuhnya tidak bau), begitu pula wangi alami dari seorang wanita adalah objek yang paling menarik bagi pria jika tubuhnya tidak bau.

Di antara rasa, makanan yang dimasak dan disiapkan oleh istri adalah yang paling dinikmati oleh seorang pria. Begitu pula, terkadang si istri sakit dan suami memasak dan menyiapkan makanan untuk sang istri, walaupun sang istri tidak ingin makan, tetapi karena disiapkan oleh suaminya, maka ia makan dan sangat menikmatinya.

Di antara sentuhan, sentuhan dari seorang pria adalah yang paling menarik bagi wanita. Begitu pula sentuhan dari wanita adalah yang paling menarik bagi pria. Inilah yang dibabarkan Sang Buddha dalam Aṅguttara nikāya.

Karena bhāva rūpa ini, banyak pria dan wanita melekat satu sama lain; bahkan Boddhisatta juga dulunya melekat kepada calon Yasodharā dalam banyak kehidupan. Calon Yasodharā juga melekat kepada Boddhisatta dalam banyak kehidupan. Kemelekatan merupakan hal yang sangat lazim. Tetapi ketika menjelang momen kematian, jika seseorang masih mempunyai kemelekatan yang kuat, ini perlu ditakutkan. Karena kemelekatan yang terlalu kuat ini akan memungkinkannya untuk terlahir di neraka, alam binatang ataupun alam peta (hantu).

Namun, janganlah takut, sekarang kita telah mengetahui. Kita harus mempersiapkan diri bahwa pada akhirnya kita harus berpisah satu sama lain suatu hari nanti dan ketika kita terpisah, kita harus pergi menurut jalan masing-masing sesuai dengan kamma masing-masing. Sekarang, kita perlu menjaga sīla dan berpikir bahwa segala sesuatu adalah tidak kekal, begitu pula setiap kehidupan tidak kekal.

Tentu kita tidak dapat mengatakan dengan mudah untuk tidak melekat satu sama lain.  Bagaimanapun, kita harus mempunyai perhatian penuh dan kesadaran terhadap kemelekatan yang dimiliki, melakukan dāna, menjaga sīla dan mempraktekkan bhāvanā. Sīla dan bhāvanā jauh lebih kuat dibandingkan dengan dāna. Dengan demikian, kita akan terbebaskan suatu hari nanti seperti Bodhisatta dan calon Yasodharā.

Sang Buddha membabarkan bhāva rūpa sebagai indriya, terdiri dari itthindriya dan purisindriya, tetapi kedua bhāva rūpa ini tidak termasuk dalam indriyapaccaya. Itthindriya memberikan akibat langsung dalam tampilan organ wanita, penampilan wanita dan perilaku wanita. Purisindriya memberikan akibat langsung dalam tampilan organ pria, penampilan pria dan perilaku pria. Bagaimanapun, terkadang akibat yang dihasilkan oleh dua bhāva ini tidaklah selalu tepat. Ini karena beberapa pria berperilaku seperti wanita dan beberapa wanita berperilaku seperti pria. Mereka tidak dapat memberikan akibat yang pasti, jadi mereka tidak dapat termasuk di dalam indriya paccaya.

Semua paccaya yang dibabarkan oleh Sang Buddha adalah sangat pasti. Jika tidak pasti, maka ia tidak dapat termasuk dalam paccaya. Kita harus mencatat bahwa dua bhāvarūpa ini sangat jelas di dunia, tetapi akibat yang dihasilkannya tidaklah pasti, sehingga mereka tidak dapat dimasukkan dalam indriya paccaya. Buddha Dhamma sangatlah pasti. Kondisi (paccaya) dari paṭṭhāna juga sangat pasti.

Sang Buddha membabarkan 22 indriya, tetapi hanya 20 indriya yang termasuk di dalam Indriya paccaya. Ke-22 indriya terdiri dari :

  1. Pengendalian indra mata (cakkhundriya)
  2. Pengendalian indra telinga (sotindriya)
  3. Pengendalian indra hidung (ghānindriya)
  4. Pengendalian indra lidah (jivhindriya)
  5. Pengendalian indra tubuh (kāyindriya)
  6. Pengendalian batin (manindriya)
  7. Pengendalian kewanitaan (itthindriya)
  8. Pengendalian sifat kelaki-lakian (purisindriya)
  9. Pengendalian daya hidup (jivitindriya)
  10. Pengendalian perasaan menyenangkan pada tubuh (sukhindriya)
  11. Pengendalian perasaan menyakitkan pada tubuh (dukkhindriya)
  12. Pengendalian kegembiraan/perasaan suka cita (somanassindriya)
  13. Pengendalian perasaan menyakitkan (domanassindriya)
  14. Pengendalian perasaan tidak acuh/tidak peduli (upakkhindriya)
  15. Pengendalian keyakinan (saddhindriya)
  16. Pengendalian energi/tenaga (vīriyindriya)
  17. Pengendalian perhatian penuh (satindriya)
  18. Pengendalian konsentrasi (samādhindriya)
  19. Pengendalian kebijaksanaan (paññindriya)
  20. Pengendalian indriya dari jalan sotāpatti (anaññātaññassāmītindriya)
  21. Pengendalian indriya dari pengetahuan tertinggi yaitu: dari sotāpattiphala sampai arahatta magga(aññindriya)
  22. Pengendalian indriya dari arahatta phala (aññātāvindriya).

Purisindriya mengontrol sifat kasar dari sikap dan perilaku seorang pria. Itthindriya mengontrol kelembutan dari sikap dan perilaku seorang wanita. Jīvitindriya mengontrol dan mempertahankan kehidupan. Manindriya mengontrol untuk mengetahui objek indera.

Sukhindriya,  dukkhindriya,  somanassindriya,  domanassindriya, dan upakkhindriya mengontrol untuk mengetahui perasaan. Saddhindriya mengontrol keyakinan. Vīriyindriya mengontrol energi/tenaga. Satindriya mengontrol untuk mengingat objek. Samādhindriya mengontrol ketenangan batin. Paññindriya mengontrol untuk mengetahui sifat dari Dhamma yang sebenarnya. Anaññātaññassāmītindriya mengontrol untuk mengetahui paññā yang menyertai Sotāpattimagga. Aññindriya mengontrol untuk mengetahui paññā yang menyertai dari Sotāpatti phala sampai Arahattamagga. Aññātāvindriya mengontrol untuk mengetahui paññā yang menyertai Arahatta phala.

Cakkhundriya, sotindriya, ghānindriya, jīvhindriya, kāyindriya, itthindriya, purisindriya adalah secara fisik dan jīvitindriya  secara fisik dan mental. Sisa 14 yang lain adalah secara mental.

Rūpajīvitindriyaṁ, kaṭattārūpānaṁ, indriyapaccayena paccayo.

Kaṭattārūpa berarti kammajarūpa. Kalimat ini berarti: Pengendalian daya hidup rūpa (rūpajīvita) mengontrol kammajarūpa melalui kondisi pengendalian indriya (indriyapaccaya). Karena  rūpajīvita, rūpa dihasilkan berulangulang dan membuat mereka (rūpa) hidup.

Arūpino indriyā sampayuttakānaṁ dhammānaṁ, taṁsamuṭṭhānānañca rūpānaṁ, indriyapaccyenapaccayo.

Pengendalian indera mental (nāma indriya) mengontrol citta dan cetasika yang menyertainya beserta cittajarūpa melalui kondisi pengendalian indriya (indriyapaccaya). Nāma indriya adalah sahajātindriya, di mana mereka lahir bersama citta dan cetasika yang lain serta mengontrol mereka. Jadi, ada 3 jenis indriyapaccaya yaitu purejātindriya, rūpajīvitindriya dan sahajātindriya. Semuanya telah dijelaskan.

Bagaimanapun, tidak ada yang permanen di dalam tubuh kita. Jika kita mengetahui hanya ada sebab-sebab dan akibat-akibat di setiap tempat/bagian, kita benar-benar dapat melihat bahwa tidak ada Aku, tidak ada milikku. Dengan demikian, kita dapat secara bertahap menghapus kilesā yang telah mengikuti kita sepanjang saṁsāra. Demikianlah penjelasan indriya paccaya.

Paṭṭhāna dalam kehidupan sehari-hari

Disusun oleh : Sayalay Santagave