Paṭṭhāna – 17 Jhānapaccayo (Kondisi jhàna)

7
Buddha

17 Jhānapaccayo (Kondisi jhàna)

Mari kita lihat Jhāna paccaya. Jhāna paccaya adalah kemampuan untuk berkonsentrasi pada satu objek. Jhānapaccaya diumpamakan seperti seseorang yang berada di puncak pohon atau gunung di mana ia dapat melihat pemandangan secara jelas. Ia dapat melihat pemandangan dengan jelas dari atas pohon dan memberitahu orang-orang di bawah tentang pemandangan itu. Dengan cara yang sama, seseorang yang telah sampai pada puncak gunung dan memberitahu orang-orang di bawah tetang bagaimana air mengalir dan betapa indahnya pepohonan. Ia memberitahukan kepada orang lain agar mereka juga dapat melihat seperti apa yang sedang ia lihat.
Ada 5 faktor-faktor jhāna yaitu :
1. vitakka (pikiran yang diterapkan/diaplikasikan),
2. vicāra (pikiran yang bertahan/terus-menerus),
3. pīti (kegembiraan/suka-cita),
4. sukha (kebahagiaan), dan
5. ekaggatā (kemanunggalan).

Sama seperti seseorang yang memanjat ke atas pohon atau gunung dan memberitahu orang-orang di bawah tentang pemandangan, begitu pula 5 faktor-faktor jhāna memberitahu citta dan cetasika yang bersekutu dengannya beserta cittajarūpa untuk berkonsentrasi pada satu objek seperti mereka (5 faktorfaktor jhāna) berkonsentrasi.

Kemampuan yang menyebabkan Dhamma yang bersekutu dengan 5 faktor-faktor jhāna untuk berkonsentrasi seperti ke-5 faktor-faktor jhāna berkonsentrasi disebut sebagai Jhāna paccaya. Jhāna paccaya adalah sebuah kondisi yang memberi kekuatan kepada batin untuk berkonsentrasi hanya pada satu objek. Ini adalah sebuah mental yang tercerap pada satu objek. Banyak orang berpikir bahwa jhāna hanya merujuk pada sisi yang baik seperti rūpāvacara jhāna ataupun arūpāvacarajhāna. Sebenarnya, jhānapaccaya ada pada sisi kusala, sisi akusala dan juga abyākata. Ini disebutkan dalam teks Paṭṭhāna yaitu : Kusalodhammo kusalassadhammassa jhāna paccayenapaccayo, Akusalodhammoa kusalassadhammassa jhāna paccayenapaccayo, Abyākatodhammo abyākatassa dhammassa jhānapaccayena paccayo.

“Kusalo dhammo kusalassa dhammassa jhānapaccayena paccayo”

berarti kusaladhamma menyebabkan munculnya kusala dhamma melalui kondisi jhāna (jhānapaccaya).

Akusalo dhammo akusalassa dhammassa jhānapaccayena paccayo”

berarti akusala dhamma menyebabkan munculnya akusala dhamma melalui kondisi jhāna (jhāna paccaya).

“Abyākatodhammo abyākatassa dhammassa jhāna paccayenapaccayo”

berarti Abyākatadhamma menyebabkan Jhānapaccayo ( Kondisi jhāna) munculnya abyākata dhamma melalui kondisi jhāna (jhāna paccaya).

Sebagai contoh, ketika dosa muncul di batin kita, batin kita terus-menerus bertahan pada objek yang kita benci/marah. Batin kita tercerap seluruhnya pada objek kemarahan. Sudut pandang ini adalah akusala jhāna. Sebaliknya, jika batin kita bertahan atau tercerap sepenuhnya pada ānāpāna paṭibhāga nimitta selama 1, 2 atau 3 jam, ini adalah kusala jhāna. Jadi ini adalah 2 jenis Jhāna paccaya.

Mari kita melihat lebih jauh pada sisi akusala melalui kondisi jhāna (jhāna paccaya). Seperti yang telah saya sebutkan dalam indriya paccaya sebelumnya, penampilan seorang wanita adalah yang paling menarik bagi pria dan penampilan pria adalah yang paling menarik bagi wanita. Jadi, ketika mereka saling menatap dengan kemelekatan, ini adalah akusala jhāna. Jika si wanita pergi meninggalkannya, si pria akan sangat memikirkannya. Ini adalah vitakka. Vicāra adalah merenungkan objek berulangulang sehingga objek tidak hilang. Jadi, jika si pria dapat berbicara kepada seseorang tentang wanita itu, ia akan berbicara. Jika ia tidak dapat mengutarakannya, maka pikirannya akan sepenuhnya sibuk memikirkan wanita tersebut. Ini adalah semacam perasaan bagi mereka, tetapi ini adalah obsesi. Contoh lain, menonton film yang sangat menarik dengan bersemangat atau mendengarkan lagu-lagu dengan penuh antusias selama 1 atau 2 jam tanpa menyadari sakit yang muncul adalah konsentrasi akusala jhāna.

Mari kita lihat di sisi kusala. Pencapaian dari jhāna adalah kusala. Jika kita tidak memberikan latihan konsentrasi pada batin kita, kita tidak dapat fokus pada nafas masuk dan nafas keluar walau hanya 1 menit. Namun, karena latihan yang terus menerus, kita dapat mencapai jhāna. Kita dapat fokus pada 1 objek dalam waktu yang lama.

Pada waktu itu, 5 faktor jhāna telah ada yaitu : vitakka, vicāra, pīti, sukhadanekaggatā.
• Vitakka = menerapkan batin pada objek
• Vicāra = merenungkan batin pada objek berulang-ulang
• Pīti = menikmati objek
• Sukha = bahagia pada objek
• Ekaggatā = ketenangan batin pada objek

Ini adalah kusala jhāna. Contoh lain pada sisi kusala jhāna adalah merenungkan sifat-sifat luhur Sang Buddha. Daripada terlalu memikirkan tentang apa yang anda cintai, sekarang objek yang baru adalah sifat-sifat luhur Sang Buddha : Merenungkan sifat-sifat luhur Sang Buddha dengan mendalam, vitakka – merefleksikan/merenungkan sifat-sifat luhur Sang Buddha sepenuh hati, vicāra – merefleksikan/merenungkan sifat-sifat luhur Sang Buddha berulang-ulang, pīti – menikmati sifat-sifat luhur Sang Buddha, sukha– kebahagiaan pada sifat-sifat luhur Sang Buddha dan ekaggatā – kemanunggalan pada sifat-sifat luhur Sang Buddha. Ini adalah kāmāvacarakusala jhāna (kusala jhāna alam kesenangan indera).

Ada sebuah cerita tentang Phussadeva Mahāthera. Setelah Sang Buddha mencapai Parinibbāna, Mahāthera tersebut menyapu mimbar dari cetiya, batinnya sangat senang. Maka ia merenungkan sifat-sifat luhur Sang Buddha sepenuh hati dengan mengambil Buddha yang asli sebagai objek di dalam batin. 5 faktor jhāna muncul sangat jelas. Pada waktu itu, Māra khawatir Mahāthera akan mencapai tataran Dhamma yang lebih tinggi. Maka ia menyamar menjadi seekor kera yang besar dan mendatangi Mahāthera. Ketika Mahāthera melihat si kera, dia tidak dapat berkonsentrasi lagi.

Hari berikutnya, Mahāthera kembali mengunjungi cetiya dan dengan tercerap merenungkan sifat-sifat luhur Sang Buddha dengan mengambil Buddha yang asli sebagai objek di batinnya. Pada waktu itu, Māra muncul lagi dan menyamar menjadi seekor sapi tua. Ketika Mahāthera melihat si sapi, dia tidak dapat berkonsentrasi lagi.

Hari berikutnya, Mahāthera kembali mengunjungi cetiya dan merenungkan sifat-sifat luhur Sang Buddha lagi. Mārakembali muncul dan menyamar sebagai seorang pria buruk rupa dengan kaki yang bengkok. Ketika Mahāthera melihat si pria, dia berpikir bahwa di daerah ini tidak ada seorangpun sejelek ini. Ia akhirnya menyadari bahwaMāramungkin sedang mengganggunya. Sehingga ia bertanya, “Apakah kamu Māra?” Māra juga tidak berbohong dan mengaku, “Ya!”

Mahāthera tidak marah kepada Māra dan berkata kepada Māra : ”Kamu sangat hebat. Mohon ciptakan gambaran Sang Buddha untukku”. Māra berkata, “Saya tidak dapat menciptakan gambar yang persis sama seperti Sang Buddha, tetapi hanya yang hampir sama”. Mahāthera menjawab, “Jika demikian, mohon ciptakan gambar yang hampir sama dengan Sang Buddha untukku”.

Ketika ia melihat gambar Sang Buddha yang diciptakan Māra, ia melihat gambar itu dengan penuh hormat dan berpikir walau gambar ini diciptakan oleh Māra yang belum menghapus kilesā, tetapi gambar ini sangat agung dan akan seagung apa Buddha asli yang telah menghapus semua kilesā dan diberkahi dengan mettā, karuṇā dan sabbaññūta ñāṇa?

Setelah itu, Mahāthera merenungkan sifat-sifat luhur Sang Buddha dengan konsentrasi dengan mengambil gambar Buddha yang asli sebagai objek di batinnya. Maka semua 5 faktor jhāna muncul dengan jelas. Ia merenungkan vipassanāpadapīti sebagai anicca, dukkha dan anatta dan ia menjadi seorang Arahat. Kita juga perlu berkonsentrasi seperti Mahāthera ini.

Contoh lain adalah Raja Asoka yang sangat terkenal dalam sāsanā 218 tahun setelah Sang Buddha Parinibbāna. Ketika Raja Asoka menjadi Buddhis, ia sangat menghormati Sang Buddha, jadi ia ingin melihat gambar Buddha yang asli. Perintahnya menyebar 1 yojana ke angkasa dan 1 yojana ke bawah bumi sehingga ia memanggil Raja Kālanāga yang tinggal 1 yojana di bawah bumi dan rentang hidupnya adalah 1 siklus dunia. Raja Asoka membiarkannya duduk di atas singgasana dan memintanya untuk menciptakan gambar Sang Buddha.

Kālanāga menciptakan gambar Sang Buddha yang tampak sangat agung dan menunjukkannya pada Raja Asoka. Raja sangat bahagia, ia bersujud dan melihat pada gambar Sang Buddha tersebut selama 7 hari. Betapa baik konsentrasinya ? Kita juga perlu berkonsentrasi seperti dia.

Contoh lain adalah Asandhimittā yang merupakan ratu dari Raja Asoka. Ia ingin mendengar suara dari Sang Buddha, jadi dia mengutarakan perasaannya kepada para Bhikkhu. Para Bhikkhu memberitahukannya bahwa mereka pernah mendengar suara dari sejenis burung yang dinamakan Karavīka dalam bahasa pāḷi. Suara burung ini sangat bagus dan hampir sama dengan suara Sang Buddha.

Maka, sang Ratu meminta kepada Raja Asoka bahwa ia ingin mendengar suara dari burung bernama Karavīka. Akhirnya mereka mendapatkan burung Karavīka, tetapi ia tidak mengeluarkan suara apapun karena ia sendirian. Mereka menutupi ruangan dengan kaca-kaca. Burung itu menjadi sangat gembira melihat banyak burung di dalam ruangan dan ia mengeluarkan suara. Suaranya sangat merdu dan bagus. Ratu berpikir bahkan suara dari seekor burung yang belum menghapus kilesā saja sangat merdu, bagaimana dengan suara Sang Buddha yang asli yang telah menghapus semua kilesā? Ratu merasa sangat bahagia dengan pīti. Kāmāvacara jhāna muncul padanya dan ia merenungkan vipassanā pada pīti berlandaskan pada konsentrasi itu. Tidak hanya Ratu, tetapi istri-istri yang lain juga mencapai Sotāpanna. Kita juga perlu berkonsentrasi seperti sang Ratu.

Suatu hari, ketika Sang Buddha dan Anandā mengunjungi Kusinārā, pemimpin suku Malla memerintahkan bahwa siapapun yang tidak memberi penghormatan kepada Sang Buddha akan didenda sebanyak 500 koin. Ada seorang pria bernama Roja yang dulunya merupakan teman YM. Ananda. Melihat kedatangannya dan memberi penghormatan kepada Sang Buddha, YM. Ananda merasa senang. Tetapi, ketika Roja mengatakan bahwa ia melakukannya karena perintah dari kepala suku, YM. Ananda merasa kecewa dan meminta Sang Buddha melakukan sesuatu sehingga Roja dapat menghormati Buddha sāsanā.
Buddha berkata, “Ānandā, itu tidak sulit”. Dengan konsentrasi, Sang Buddha mengirimkan mettā kepada Roja. Segera, Roja mencari Sang Buddha, “Di manakah Sang Buddha ! Di manakah Sang Buddha!” Ia seperti seekor anak sapi yang mencari ibunya. Sejak saat itu, ia menghormati Sang Buddha dan sāsanā.

Dalam hal mengirimkan mettā, ketika kita melafalkan “averā hontu, abyāpajjā hontu,” jika batin dengan konsentrasi mengirimkan mettā dengan mengambil semua makhluk sebagai objek, maka 5 faktor-faktor jhāna mungkin muncul dan mengirim mettā seperti ini adalah mettā kāmāvacara kusala jhāna, tetapi belum rūpāvacarajhāna. Ketika kita melafalkan “averā hontu, abyāpajjā hontu,” jika batin mengembara atau berpikir tentang sesuatu yang lain, maka ini tidak disebut sebagai mettā kāmāvacara kusala jhāna. Tanpa pengharapan apapun ketika mengirimkan mettā adalah mettā yang sebenarnya dan ini akan sangat berefek. Tetapi, jika mengharapkan sesuatu ketika mengirimkan mettā, ini bukan mettā yang sebenarnya dan tidak akan berefek.

Sayadaw yang mengajarkan paṭṭhāna ini menceritakan tentang pengalamannya ketika ia masih muda di mana ia mengirimkan mettā kepada semua makhluk yang tinggal di sepanjang jalan tempat ia akan pergi berpiṇḍapāta esok harinya. Esoknya, dia mendapatkan kari yang lezat dari penduduk di jalan itu, ia kemudian berpikir, “Mettā saya hebat”. Malam harinya, ia kembali mengirimkan mettā kepada makhluk di sepanjang jalan itu. Esoknya ia tidak menerima kari apapun dari rumah di mana ia menerima kari yang lezat sehari sebelumnya. Dia menyadari bahwa mettā yang ia kirim bukan mettā yang asli, karena ia menginginkan mendapatkan kari.

Jadi, jangan mengirim mettā dengan harapan mendapatkan sesuatu. Tanpa harapan apapun, mettā yang dikirimkan kepada semua makhluk dengan niat agar mereka berbahagia akan sangat berkekuatan dan efektif.

Devadatta meminta penjaga gajah memberikan banyak minuman beralkohol kepada gajah Nāḷāgīri dan melepaskannya untuk menyerang Sang Buddha. Gajah Nāḷāgīri lari dengan terburu-buru ke arah Sang Buddha. Pada waktu itu, YM. Ānandā meminta Sang Buddha untuk menghindari gajah itu. Tetapi Sang Buddha tidak menghindar sehingga YM. Ānandā menghalangi dengan berdiri di depan Sang Buddha. Sang Buddha menggeser YM. Ānandā dan berkata, “Biarkan saja, jangan khawatir!” Kemudian, dengan konsentrasi Sang Buddha mengirimkan mettā kepada gajah yang mabuk itu. Ketika si gajah sampai mendekati Sang Buddha, ia bersujud dan menyerah kepada Sang Buddha. Jadi, mengirim mettā dengan konsentrasi dan tanpa pengharapan apapun akan sangat efektif.

Jika kita merenungkan Buddhānussati atau mengirim mettā, kita harus melakukannya dengan konsentrasi. Jika kita melakukannya secara dangkal tanpa konsentrasi, hasilnya akan kecil dan tidak terlalu jelas. Bukan hanya merenungkan Buddhānussati atau mengirim mettā, tetapi merenungkan asubha bhāvanā dengan konsentrasi juga dapat mencapai tataran Dhamma yang lebih tinggi. Pada suatu waktu, seorang bhikkhu dan seorang samanera pergi ke hutan memotong beberapa pohon untuk dijadikan batangan pembersih gigi. Ini seperti tusuk gigi masa kini. Ketika samanera pergi ke suatu tempat, ia melihat sebuah mayat dan ia merenungkan asubha bhāvanā pada mayat itu. Ia mendapatkan konsentrasi dengan merefleksikan asubha bhāvanā dan merenungkan vipassanā melihat pada karakteristik anicca (ketidakkekalan), dukkha (penderitaan) dan anatta (tanpa diri). Ia akhirnya mencapai Sotāpanna, Sakadāgāmi sampai kepada tataran Anāgāmi.

Pada waktu itu, ia mendengar sang bhikkhu temannya sedang memanggilnya, dia berhenti dari meditasinya kemudian menghampiri sang bhikkhu dan berkata, “Bhante, mari ke arah sini dan lihatlah.” Bhikkhu itu juga melihat mayat itu dan merefleksikan asubha bhāvanā; kemudian ia merenungkan vipassanā, ia juga mencapai tataran Anāgāmi. Mereka dapat mencapai tataran Dhamma yang lebih tinggi dengan cepat karena mereka selalu berdiam dengan perhatian penuh.

Jadi, dengan berdiam secara perhatian penuh sepanjang waktu, maka konsentrasi yang sebelumnya mendukung konsentrasi yang berikutnya dan ketika pāramī kita dan vipassanāñāṇa menjadi matang, kita mungkin mencapai tataran Dhamma yang lebih tinggi suatu hari nanti. Selain itu, kita juga dapat merefleksikan maraṇānussati ketika kita pergi ke suatu acara pemakaman dan berpikir bahwa, “Saya juga akan meninggal seperti orang ini suatu hari nanti.” Dengan melakukan ini, kemelekatan akan berkurang secara bertahap dan ketika kita harus terpisah dari orang yang kita cintai, perpisahan itu akan terasa mudah. Oleh karena itu, kita harus sering merefleksikan maraṇānussati. Ini juga mempersiapkan batin kita untuk menghadapi kematian dengan bermartabat. Jadi, saat melihat atau berpikir tentang seorang yang meninggal baik itu orang yang seusia, lebih muda, atau lebih tua, seseorang seharusnya merefleksikan maraṇānussati yaitu, “Saya juga akan mati seperti orang ini walaupun saya masih sehat sekarang.”

Kecuali beberapa makhluk ariyā, tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di masa depan pada usia berapa seseorang akan meninggal, meninggal karena penyakit apa, kapan, akan dikubur di mana dan akan pergi ke alam yang mana. Oleh karena itu, Ledi Sayadaw yang dulu sangat terkenal di Myanmar mengatakan bahwa, mengapa setiap makhluk takut akan kematian? Karena setelah kematian, kebanyakan orang tidak mengetahui ke alam apa mereka akan terlahirkan.

Jika mereka mengetahui terlebih dahulu tentang alam kelahiran berikutnya setelah kematian dan mereka dapat memilih untuk terlahir di alam mana, maka tidak akan ada seorangpun yang begitu takut akan kematian. Sayangnya, kelahiran berikutnya pada kebanyakan orang adalah tidak pasti. Jadi, sebelum kematian datang, kita harus mempersiapkan diri untuk dapat menghadapinya dengan bermartabat dan dengan berani.

Sejauh ini saya telah menjelaskan banyak contoh bagaimana mencapai tataran Dhamma yang lebih tinggi dengan menggunakan objek-objek yang berbeda. Sang Buddha telah mengajarkan 40 metode meditasi, maka setelah membangun konsentrasi menggunakan satu dari metode-metode seperti ānāpāna, buddhānussati, mettābhāvanā, asubha bhāvanā atau maraṇānussati dan sebagainya, kita dapat mencapai tataran Dhamma yang lebih tinggi dengan melanjutkan ke perenunganvipassanā. Tetapi, ini tidak dapat dilakukan hanya sekali saja. Kita harus berdiam dengan perhatian penuh sepanjang waktu.

Ānandā mencapai tataran Arahat dengan merefleksikan Kāyagatāsati seperti rambut kepala, bulu tubuh, kuku jari, kuku kaki, gigi dan sebagainya. Ketika YM. Ānandā merefleksikan bhāvanā ini, ia berjalan hampir sepanjang malam dan ia menyadari bahwa semangatnya (vīriya) telah berlebihan; jadi beliau berniat untuk berbaring di atas tempat tidur dengan perhatian penuh pada bhāvanā-nya. Beliau mencapai tataran Arahat sebelum terbaring secara total, setengah dari posisi berbaring. Ini karena Beliau selalu berdiam dengan perhatian penuh, tidak pernah melepaskan bhāvanā-nya. Jika kita juga ingin mencapai tataran Dhamma yang lebih tinggi, kita harus berdiam dengan bhāvanā sepanjang waktu. Jika kita berdiam dengan perhatian penuh atau kita tidak pernah lalai, ketika ñāṇa (pengetahuan) kita matang, kita mungkin mencapai tataran Dhamma yang lebih tinggi pada setiap posisi tubuh.

Contoh lainnya, Mahātissa Mahāthera yang dulu terkenal di Srilanka. Anda mungkin telah mendengar kisah ini sebelumnya ketika saya menjelaskan Pabbajita-abhinha Sutta. Suatu hari, Mahāthera itu pergi piṇḍapāta dari cetiya/vihara di pegunungan menuju kota Anurāda. Dalam perjalanannya, Beliau mendengar suara tawa dari seorang wanita, ia kemudian berkonsentrasi pada gigi dari wanita itu dan ia melihat wanita itu menjadi kerangka. Ini karena Mahāthera itu telah mengembangkan meditasi terhadap kerangka secara internal dan eksternal berulangulang di masa lampau. Ketika Beliau pergi berpiṇḍapāta juga, ia tidak melepaskan meditasinya dan pergi dengan perhatian penuh. Jadi, ketika ia berpiṇḍapāta dan bertemu dengan wanita yang tertawa dalam perjalanannya, ia berkonsentrasi pada gigi wanita tersebut dan kerangka muncul. Ketika ia merenungkan meditasivipassanā pada kerangka, ia mencapai Arahatta Magga dan Phala pada tempat itu juga.

Khemā therī yang sangat cantik jelita dan dulunya merupakan Ratu dari Raja Bimbisara juga mencapai tataran Arahat dengan asubha bhāvanā. Sang Buddha memberikan peringkat kepada Khemā therī sebagai murid wanita yang paling utama di antara semua murid wanita untuk pencerahannya yang hebat (mahāpaññānaṁ aggā).

Bagi mereka yang ingin mencapai tataran Dhamma yang lebih tinggi, pertama-tama kita harus menjaga sīla dengan baik khususnya 5 sīla atau 8 sīla. Jika sīla tidak murni, kita tidak bisa mendapatkan konsentrasi. Bukan hanya menjaga sīla, kita juga harus mengontrol Indriyasaṁvara Sīla sehingga lobha tidak dapat muncul kapanpun kita melihat, mendengar, dan sebagainya objek yang menyenangkan dan dosa juga tidak dapat muncul kapanpun kita melihat, mendengar, dan sebagainya objek yang tidak menyenangkan/tidak diinginkan. Kita harus berlatih seperti ini. Kita harus mencoba untuk memurnikan Indriyasaṁvara Sīla untuk waktu yang lama (bertahun-tahun). Jika Indriyasaṁvara Sīla telah murni, untuk mencapai tataran Dhamma yang lebih tinggi tidaklah sulit. Kita sulit untuk mencapai tataran Dhamma yang lebih tinggi karena kita tidak dapat mengontrol Indriyasaṁvara Sīla.

Sekarang kita bermeditasi dan ingin makan makanan yang enak. Ingin makan makanan yang enak adalah lobha. Ingin memakai pakaian yang bagus juga lobha. Jika kita bertemu dengan situasi yang tidak kita sukai, dosa telah muncul. Karena kita tidak dapat mengontrol cakkhundriya, sotindriya, ghānindriya, jīvhindriya, kāyindriya atau manindriya, maka Indriyasaṁvara Sīla tidak murni. Tanpa memurnikan Indriyasaṁvara Sīla, tataran Dhamma yang lebih tinggi tidak dapat dicapai dengan mudah. Dengan kata lain, semua 6 indriya harus tenang dan murni sehingga menghasilkan konsentrasi dan konsentrasi menghasilkan mental yang tercerap.

Mari fokus kepada jhāna paccaya lagi. Jika kita meletakkan batin kita sepenuhnya pada 1 objek, kita akan mendapatkan konsentrasi dan 5 faktor jhāna menjadi jelas. Kombinasi dari 5 faktor jhāna ini disebut sebagai jhāna. Ini seperti sebuah pohon disebut sebagai pohon karena merupakan kombinasi dari akar-akar, batang-batang, dahan-dahan, dedaunan, dan sebagainya. Jika hanya salah satu, maka ia tidak dapat disebut sebagai sebuah pohon, sebuah mobil, sebuah rumah, sebuah vihara, dan sebagainya. Dengan cara yang sama, disebut sebagai jhāna karena merupakan kombinasi dari 5 faktor jhāna.

Vitakka adalah sama dengan berpikir. Karakteristik dari vitakka adalah menerapkan batin pada sebuah objek. Sifat dari vitakka adalah jika ia bersekutu dengan kusala citta, ia akan menjadi kusala vitakka dan jika ia bersekutu dengan akusala citta, ia menjadi akusala vitakka.

Ada 3 kusala vitakka dan 3 akusala vitakka.

3 akusala vitakka adalah kāmavitakka, byāpādavitakka, vihiṁsāvitakka. Ketika bertemu dengan objek yang menyenangkan karena melihat, mendengar, dan sebagainya, pikiran lobha muncul dan pikiran lobha ini adalah kāmavitakka. Pikiran dosa muncul karena kebencian dan ketidakpuasan yang disebut sebagai byāpāda vitakka. Ketika byāpāda vitakka menjadi kuat, ia menyebabkan munculnya bukan hanya pikiran membenci, tetapi juga pikiran yang ingin menyiksa atau membunuh. Pikiran membenci yang kuat ini disebut sebagai vihiṁsāvitakka. Vitakka yang ditemani oleh faktor-faktor jhāna adalah pikiran yang bersekutu dengan kusala.

3 kusala vitakka adalah nikkhamavitakka, abyāpādavitakka, avihiṁsāvitakka. Nikkhama vitakka adalah pikiran yang ingin melepas kesenangan indriya. Abyāpāda vitakka adalah pikiran yang sabar atau cinta kasih. Avihiṁsāvitakka adalah pikiran yang welas asih tanpa adanya pikiran yang ingin menyakiti makhluk lain.

Bagaimana memunculkan faktor-faktor jhāna dalam berlatih nafas masuk dan nafas keluar? Untuk mendapatkan samādhi, seseorang seharusnya memilih tempat yang sepi dan tenang, duduk dengan kaki disilangkan dan meluruskan tubuh bagian atas. Mempersiapkan diri seperti ini bertujuan untuk menciptakan kondisi yang baik untuk menghindari sakit dan perasaan tidak nyaman. Kemudian dengan perhatian penuh, perhatikan nafas masuk dan nafas keluar. Jika batin menjadi tenang, nafas akan menjadi semakin halus dan secara bertahap nafas yang masuk dan keluar itu akan berubah bentuk menjadi sebuah nimitta tahap demi tahap. Nimitta ini tidak akan sama pada setiap individu. Ia bergantung pada persepsi dari seseorang (saññā).

Ketika fokus pada nimitta, 5 faktor-faktor jhāna menjadi jelas.
• Vitakka = penerapan batin pada nimitta
• Vicāra = perenungan batin pada nimitta berulangulang
• Pīti = batin yang menikmati nimitta
• Sukha = kebahagiaan pada nimitta
• Ekaggatā = ketenangan batin pada nimitta

Lebih jauh lagi, jhāna yang terdiri dari 5 faktor jhāna disebut sebagai jhāna pertama. Jhāna yang terdiri dari 3 faktor-faktor jhāna disebut sebagai jhāna kedua. Jhāna yang terdiri dari 2 faktor-faktor jhāna disebut sebagai jhāna ketiga. Jhāna yang terdiri dari 1 faktor jhāna disebut sebagai jhāna keempat. Setelah jhāna keempat, jika seorang yogi mengubah objek dari meditasinya dan melanjutkan latihannya, ia juga dapat melanjutkan ke arūpajhāna. Mari kita baca jhāna paccaya dalam bahasa pāḷi bersama-sama :

Jhānaṅgāni, jhānasampayuttakānaṁ dhammānaṁ taṁsamuṭṭhānānañca rūpānaṁ, jhānapaccayena paccayo.

Artinya : Faktor-faktor jhāna menyebabkannya mempertahankan citta dan cetasika yang bersekutu dengannya beserta cittajarūpa untuk menjadi tenang pada satu objek melalui kondisi jhāna (jhāna paccaya). Cittajarūpa yang dihasilkan oleh batin yang tenang adalah sangat tenang. Jhānapaccaya bukan hanya berkonsentrasi pada objek samatha dengan batin kusala, tetapi juga konsentrasi pada satu objek dengan batin akusala. Saya telah menjelaskan Jhānapaccaya dengan cukup lengkap. Saya akhiri penjelasan jhāna paccaya di sini.

Paṭṭhāna dalam kehidupan sehari-hari

Disusun oleh : Sayalay Santagave