Paṭṭhāna – 19 Sampayuttapaccayo (Kondisi persekutuan)

5
Buddha

19 Sampayuttapaccayo (Kondisi persekutuan)

Sampayutta berarti persekutuan/asosiasi. Sampayutta paccaya berarti kondisi persekutuan di mana pengkondisi terjadi melalui cara persekutuan. Di sini persekutuan terjadi melalui cara : muncul bersama, padam bersama, mempunyai objek yang sama dan bergantung pada landasan yang sama. Dengan kata lain, semua kelas dari kesadaran (citta) dan faktor-faktor mental (cetasika) saling menghubungkan dirinya satu sama lain melalui kondisi persekutuan. Persekutuan dari citta dan cetasika–cetasika bergabung menjadi 1 nāma dhamma.

Sebagai contoh, sama seperti mengaduk susu dan air menjadi tidak terpisahkan. Begitu pula, sebuah batin yang bahagia atau tidak bahagia mengkombinasikan citta dan banyak cetasika bersama-sama dalam satu batin (nāmadhamma). Citta dan cetasika mempunyai sifat yang berbeda, tetapi bagaimana mereka bersekutu satu sama lain ?  Ini karena walaupun mereka berbeda, mereka mempunyai 4 faktor-faktor yang sama yaitu: landasan yang sama (bergantung kepada rūpa), objek yang sama, muncul bersamaan dan padam bersamaan. Oleh karena itu, mereka tampak seperti satu.

Perumpamaan dari sampayutta adalah seperti catumadhura. Ketika madu, mentega, gula merah dan minyak dimasak bersama untuk membuat catumadhura, kita tidak dapat membedakan rasa dari madu, rasa dari mentega, rasa dari gula merah dan rasa dari minyak secara terpisah. Semua rasa bercampur menjadi satu rasa, rasa catumadhura. Begitu pula, ketika kesadaran muncul bersama cetasika–cetasika dengan mengambil objek yang sama, ia tidak dapat dibedakan sebagai : ini citta, ini phassa,  ini vedanā,  ini saññā, dan sebagainya. Memang merupakan hal yang sulit untuk mengetahui mereka secara terpisah. Hanya Sang Buddha yang dapat mengetahui semua citta dan cetasika ini bergabung menjadi satu. Jika Buddha tidak mengajari kita, kita tidak akan mengetahui bahwa mereka hanyalah bersekutu dan kita hanya berpikir bahwa citta dan cetasika sebagai “atta” (diri).

Sang Buddha mampu membedakan citta dan cetasika–cetasika ini ketika sebuah objek diperhatikan yaitu : phassa kontak pada objek, vedanā merasakan objek, saññā mencatat objek, citta mengambil objek, sati mengingat objek, dan sebagainya. Betapa mengagumkan ñāṇa dari Sang Buddha. Karena ketidakmampuan untuk membedakan perbedaan dari citta–citta dan cetasika– cetasika dalam rentang/masa tidak ada Buddha, mereka yang disebut sebagai orang bijaksana akan berkata bahwa ketika melihat sesuatu, ia dilihat oleh atta; ketika mendengar sesuatu, ia didengar oleh atta; ketika mencicipi sesuatu, ia dicicip oleh atta, dan seterusnya.

Jika Sang Buddha tidak muncul, dunia ini akan berada dalam kegelapan. Tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui realita. Karena munculnya Sang Buddha yang telah memenuhi pāramī setidaknya 4 asaṅkheyya dan 100.000 siklus dunia, kita dapat mengetahui citta–citta dan cetasika–cetasika ini (nāma dhamma) melalui ajaran-Nya.

Cattāro khandhā arūpino, aññamaññaṁ, sampayuttapaccayenapaccayo.

Artinya : 4 nāmakkhandhā saling berhubungan satu sama lain melalui kondisi persekutuan (sampayutta paccaya).

2 nāmakkhandhā saling berhubungan satu sama lain dengan 2 nāmakkhandhā. 1 nāmakkhandhā saling berhubungan satu sama lain dengan 3 nāmakkhandhā. 3 nāmakkhandhā saling berhubungan satu sama lain dengan 1 nāmakkhandhā.

Segera setelah kita bangun, kita membuka mata; maka objek penglihatan terpantul pada pintu mata dan pintu batin. Pada waktu itu, 3 bhavaṅga citta dilewati dan pañcadvārāvacana citta muncul. Suatu batin muncul bergantung pada sebab. Sama seperti tidak ada suara di dalam sebuah harpa atau pada tali harpa, tetapi hanya ketika harpa itu dipetik, suara muncul. Begitu pula, batin tidak ada atau bukan sudah ada di jantung atau di otak, tetapi ia muncul karena sebab. Ia tidak ada di suatu tempat sebelum ia muncul dan setelah muncul ia akan segera padam.

Persekutuan dari citta dan cetasika–cetasika bergabung menjadi satu nāma dhamma. Ketika objek penglihatan terpantul pada pintu mata dan pintu batin, pañcadvārāvacanacitta muncul bergantung pada landasan jantung (hadaya vatthu). Satu pañcadvārāvacana citta bersekutu dengan 10 cetasika menjadi 11 nāmadhamma (cittacetasika), mereka mempunyai 4 faktor yang sama yaitu : landasan yang sama, objek yang sama, muncul bersama-sama dan padam bersama-sama. Oleh karena itu, kesemua 11 jenis nāma dhamma tampak seperti satu melalui kondisi persekutuan (sampayutta paccaya). Mereka juga dapat muncul melalui kondisi sahajāta, aññamañña,nissaya, sampayutta, atthi dan avigata paccaya.

Ketika kita menanam sebuah benih, kita hanya dapat meletakkan benih tersebut ke dalam tanah dan memberinya air. Kita tidak dapat membuat kecambah dan akar muncul, tetapi hanya sebab-sebab berikut : tanah, air, suhu panas dan dingin yang membuat kecambah dan akar muncul. Begitu pula, kita tidak dapat membuatpañcadvārāvacanacitta muncul, tetapi ia hanya muncul bergantung pada sebab-sebab. Jadi, “netaṁ mama, neso hamasami, na meso attāti” (tidak ada milikku, tidak ada saya, tidak ada diri).

Setelah munculnya pañcadvārāvacanacitta, cakkhuviññāṇa muncul. Cakkhuviññāṇa terdiri dari 8 nāma dhamma (citta cetasika) dan mereka tidak terpisahkan.  Ini seperti komposisi kimia dari air, H2O, tidak dapat dipisahkan. Jika kita memisahkannya, maka ia tidak menjadi air lagi. Dalam cakkhuviññāṇa, walaupun ke-8 citta cetasika tidak mempunyai sifat dan fungsi yang sama, tetapi mereka saling bersekutu satu sama lain sehingga tampak sebagai satu grup nāma dhamma. Ke-8 grup citta cetasika ini juga dapat muncul melalui kondisi sahajāta, aññamañña, nissaya, sampayutta, atthi dan avigatapaccaya.

Setelah munculnya cakkhuviññāṇa, ia padam dengan segera dan sampaṭicchanacitta muncul untuk menerima objek. Begitu pula dengan santīraṇa citta, voṭṭhabbana citta, javanacitta, tadārammaṇa citta muncul sesuai dengan citta niyāma. Tidak ada seorangpun yang dapat menciptakan proses-proses untuk dapat menjadi seperti ini. Ini sama seperti tidak ada seorangpun yang bisa menciptakan musim panas, hujan dan musim dingin. Musim-musim ini muncul menurut utu niyāma.

Pada setiap momen, nāma dhamma saling berhubungan satu sama lain. Mereka muncul dan padam sangat cepat lebih dari 1.000 milyar kali dalam 1 detik. Dengan mengetahui konsep ketidakkekalan (anicca), penderitaan (dukkha) dan tanpa diri (anatta) dari saṅkhāra atau saṅkhata dhamma (dhamma yang terkondisi), mari mencoba untuk berlatih agar terbebas dari dhamma–dhamma yang terkondisi ini (saṅkhata dhamma) untuk mencapai dhamma yang tidak berkondisi (asaṅkhatadhamma– Nibbāna). Demikianlah penjelasan Sampayutta Paccaya.

Paṭṭhāna dalam kehidupan sehari-hari

Disusun oleh : Sayalay Santagave