Paṭṭhāna – 20 Vippayuttapaccayo (Kondisi pemisahan)

5
Buddha

20 Vippayuttapaccayo (Kondisi pemisahan)

Mari kita melihat Vippayutta paccaya, kondisi pemisahan. Walaupun sebab dan akibat terpisah satu sama lain, mereka saling menyokong satu sama lain untuk muncul. Ini seperti ketika mengaduk air dan minyak, mereka tidak dapat menyatu dan tetap terpisah walaupun ditempatkan bersama. Perumpamaan dari vipayutta paccaya adalah seperti 6 jenis rasa yang dicampur bersama. Walaupun 6 jenis rasa ini tercampur dalam sebuah makanan, masing-masing rasa ini dapat dirasakan perbedaannya. Mereka tidak benar-benar tercampur, mereka terpisah. Mereka tidak berbaur satu sama lain, tetapi mereka saling menyokong satu sama lain. Sebagai contoh, ketika memasak kari dengan 6 rasa : manis, asam, pedas, kelat, asin dan pahit, walaupun rasarasa ini tidak bersekutu satu sama lain, tetapi mereka saling menyokong untuk membuat rasa kari yang lezat. Ini disebut Vipayutta paccaya.

Begitu pula, walaupun tubuh dan batin muncul bersama, mereka tidak berasosiasi/bersekutu. Proses mental dan proses materi selalu terpisah, tetapi mereka saling menyokong. Mereka terpisah karena sifat dari nāma dan rūpa tidak sama. Rūpa tidak dapat mengambil objek dan tidak dapat mengetahui objek. Ia lambat dalam perubahan. Sedangkan nāma dapat mengambil objek dan mengetahui objek, ia cepat dalam perubahan.

Sang Buddha membabarkan 24 hubungan dari kondisi-kondisi dalam paṭṭhāna yang menunjukkan bahwa tidak ada apapun yang tanpa sebab-sebab. Semua hal yang terkondisi disokong oleh paling tidak 4 paccaya (kondisi-kondisi). Tidak ada yang hanya disokong oleh 1 paccaya. Oleh karena itu, hal-hal yang terkondisi muncul dan disokong oleh banyak paccaya (kondisikondisi). Sebagai contoh, muncul sebagai seorang manusia disebabkan oleh kamma. Di mana kita dapat mencari kamma? Kita harus mencari kamma dalam sebab dari manusia. Sebabsebab dan akibat-akibat saling berhubungan satu sama lain. Sebab yang bersifat tidak kekal, maka akibat yang muncul oleh sebab juga tidak kekal. Kita terlahir dari seorang ibu yang tunduk pada kematian, maka kita juga tunduk kepada kematian. Nibbāna tidak mempunyai sebab dan kondisi. Di luar Nibbāna semuanya adalah tidak kekal (anicca). Ketidakkekalan adalah penderitaan (dukkha). Penderitaan terjadi sesuai dengan sifatnya (anatta).

Rūpino dhammā, arūpīnaṁ dhammānaṁ, vippayuttapaccayenapaccayo.

Artinya : Rūpa menyebabkan munculnya nāma melalui kondisi pemisahan (vippayuttapaccaya). Terdapat 3 jenis vippayutta paccaya yaitu : sahajātavippayutta, purejātavippayutta dan pacchājāta vippayutta.

Pada momen kelahiran kembali (paṭisandhi), 30 kammajarūpa beserta citta dan cetasika muncul bersamaan. Di sini, patisandhi citta bergantung kepada hadayavatthu (rūpa) untuk muncul. Hadaya vatthu menyebabkan munculnya paṭisandhi citta melalui kondisi kelahiran bersama dan kondisi pemisahan (sahajātavippayutta). Setelah hilangnya paṭisandhi citta, bhavaṅga citta muncul. Hadaya vatthu yang muncul pada momen paṭisandhi menyebabkan munculnya bhavaṅga citta melalui kondisi kelahiran lebih awal dan kondisi pemisahan (purejātavippayutta).

Kemudian, cakkhu vatthu menyebabkan munculnya kesadaran mata melalui kondisi kelahiran lebih awal dan kondisi pemisahan (purejātavippayutta). Sota vatthu menyebabkan munculnya kesadaran telinga melalui kondisi kelahiran lebih awal dan kondisi pemisahan (purejāta vippayutta). Ghāna vatthu menyebabkan munculnya kesadaran hidung melalui kondisi kelahiran lebih awal dan kondisi pemisahan (purejāta vippayutta). Jivhā vatthu menyebabkan munculnya kesadaran lidah melalui kondisi kelahiran lebih awal dan kondisi pemisahan (purejātavippayutta). Kāyavatthu menyebabkan munculnya kesadaran tubuh melalui kondisi kelahiran lebih awal dan kondisi pemisahan (purejāta vippayutta).

Arūpino dhammā, rūpīnaṁ dhammānaṁ, vippayuttapaccayenapaccayo.

Artinya : Nāma menyebabkan munculnya rūpa melalui kondisi pemisahan (vippayuttapaccaya). Kalimat ini berarti citta yang menghasilkan cittajarūpa, tetapi paṭisandhicitta tidak dapat menghasilkan cittajarūpa. Di mulai dari bhavaṅga citta, ia mulai menghasilkan cittajarūpa. Citta dan cittajarūpa  lahir bersama tetapi terpisah satu sama lain (sahajāta vippayutta). Citta yang lahir kemudian menyebabkannya mempertahankan rūpa yang lahir lebih awal melalui kondisi kelahiran belakangan dan kondisi pemisahan (pacchājāta vippayutta).

Secara singkat, seperti yang telah disebutkan dalam sampayutta paccaya yang mempunyai 4 faktor yaitu : (1) muncul bersama, (2) hilang/padam bersama, (3) mempunyai objek yang sama dan (4) bergantung pada landasan yang sama. Jika suatu kondisi tidak mempunyai ke-4 faktor ini, maka ia disebut sebagai pemisahan (vippayutta).Sampayutta adalah persekutuan dan vippayutta adalah pemisahan. Demikianlah penjelasan Vippayutta Paccaya.

Paṭṭhāna dalam kehidupan sehari-hari

Disusun oleh : Sayalay Santagave