Paṭṭhāna – 4 Anantarapaccayo (Kondisi rangkaian) & 5 Samanantarapaccayo (Kondisi kesegeraan)

6
Buddha

4 Anantarapaccayo (Kondisi rangkaian) & 5 Samanantarapaccayo (Kondisi kesegeraan)

Mari kita lanjutkan pada anantarapaccayo dan samanantarapaccayo. Kedua paccaya ini hampir sama.Anantarapaccaya adalah kondisi rangkaian/ kesinambungan tanpa jeda dan Samanantarapaccaya adalah kondisi kesegeraan yang juga tanpa jeda.

Lenyapnya citta sebelumnya mendukung munculnya citta berikutnya. Citta sebelumnya membantu kemunculan dari citta berikutnya setelah ketidakberadaannya. Tidak ada jeda antara lenyapnya citta sebelumnya dan munculnya citta berikutnya. Ini terjadi tanpa jeda. Segera setelah  citta sebelumnya lenyap, citta berikutnya muncul. Setelah cuti citta (kesadaran terakhir kematian), paṭisandhi citta (kesadaran kelahiran kembali) muncul tanpa jeda. Tidak ada jeda antara cuti citta dan paṭisandhi citta.

Contohnya, tidak ada perhentian dari kehidupan petapa Sumedhā hingga kehidupan Buddha Gotama. Tidak ada yang mengikuti dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, tetapi rangkaian kesadaran terus berlanjut. Pāramī (kebajikan yang dilakukan orang baik/mulia dengan aspirasi mencapai Nibbāna) mulai dari kehidupan petapa Sumedhā hingga kehidupan Buddha Gotama tidaklah terputus. Namun tidak ada sesuatu apapun dari tubuh jasmaninya yang mengikuti. Karena adanya sebab, akibat pun muncul. Beberapa orang terlahir dengan bekas luka pisau/ codet. Luka tersebut mengikuti karena batinnya melekat pada bekas luka pisau. Hal ini mengikuti dikarenakan oleh kekuatan batin.

Berhubungan dengan kekuatan batin, saya akan menceritakan peristiwa di suatu negara. Pengadilan memutuskan bahwa terdakwa akan dibunuh dengan cara memotong lehernya dan membiarkan darahnya mengalir. Pada hari ia akan dieksekusi, matanya ditutup dengan kain dan lehernya diiris hanya sebatas kulit secara tiba-tiba. Orang-orang di sekitarnya mengatakan “ia berdarah, darahnya keluar”. Sebenarnya itu hanyalah suara tetesan air. Tidak lama kemudian, tengkuknya menekuk dan ia pun meninggal. Ia dibunuh dengan kekuatan pikiran.

Mari kita kembali membahas anantarapaccaya. Kita lihat batin dan jasmani kita. Kita hidup dengan proses batin dan materi. Batin tidak muncul sendiri. Batin muncul berdasarkan proses batin. Bagaikan sungai yang mengalir terus menerus ataupun seperti cahaya lilin. Api dari lilin menghabiskan sumbu dan lilin secara bertahap. Demikianlah lilin menjadi semakin pendek. Lilin yang sekarang tidak sama dengan yang sebelumnya. Ia terus menjadi semakin pendek. Demikian pula kita, walaupun kita duduk diam tanpa melakukan apapun, kita menjadi semakin tua setiap waktunya sebagaimana layaknya lilin.  Citta yang sebelumnya mendukung munculnya cittaberikutnya pada momen ketidakberadaannya. Inilah yang disebut dengan anantarapaccaya.

Sebagai contoh, ketika kita naik tangga dari lantai bawah ke atas, berapa langkah yang kita perlukan? Anggap saja ada 100 langkah. Setelah langkah pertama selesai, dilanjutkan langkah kedua. Ketika kita masih dilangkah pertama, langkah kedua tidak dapat muncul. Selesainya langkah pertama memberikan kesempatan untuk munculnya langkah kedua. Selesainya langkah kedua memberi kesempatan munculnya langkah ketiga. Lenyapnya langkah sebelumnya mendukung munculnya langkah berikutnya pada momen ketidakberadaannya. Ini yang disebut dengan anantarapaccaya yang juga sama dengan natthipaccayo.

Semua ajaran Sang Buddha sangat bermakna. Jika kita tidak mengetahui ajaran Sang Buddha, kita tidak berpikir bahwa lenyapnya langkah pertama merupakan kondisi untuk memunculkan langkah kedua. Ini diumpamakan jika raja dunia yang meninggal, maka putra tertuanya yang akan menjadi raja. Meninggalnya raja dunia merupakan kondisi bagi putra tertua untuk menjadi raja. Ini merupakan anantarapaccaya.

Demikian pula dengan batin kita, hanya setelah citta yang pertama lenyap, citta kedua muncul. Yogi yang berlatih sesi nāma secara sistematis, dapat mengetahui proses batin. Batin kita muncul berdasarkan proses mental. Ketika kita melihat objek penglihatan, proses rangkaian kesadaran pintu mata (cakkhudvāra vīthi) muncul. Dalam proses itu, hanya setelah kesadaran pengarah ke 5 pintu indra (pañcadvārāvacanacitta) lenyap, kesadaran mata (cakkhuviññāṇa) muncul. Hanya setelah kesadaran mata (cakkhuviññāṇa) lenyap, kesadaran penerima (sampaṭiccanacitta) muncul, dan seterusnya.

Terdapat perumpamaan yang digunakan untuk menjelaskan proses rangkaian kesadaran. Seorang tamu datang ke rumah dan mengetuk pintu. Tuan rumah membuka pintu (Pañcadvārāvacana citta) dan ia melihat tamu (Cakkhuviññāṇa), kemudian ia menyambutnya (Sampaṭicchana citta) dan menanyakan tujuannya datang (Santīraṇa citta). Lalu ia memutuskan bahwa tamu datang kemari karena alasan tertentu (Voṭṭhapana citta). Dan mereka pun berbicara (7 Javana citta). Setelah tamu pulang, ia kembali memikirkan apa yang mereka bicarakan (2 Tadārammaṇa citta). Kemudian ia kembali melakukan aktivitas yang biasa dilakukannya (Bhavaṅga citta). Demikianlah  citta sebelumnya mendukung munculnya  citta  berikutnya tanpa jeda pada momen ketidakberadaan dari  citta  sebelumnya.

Di sini saya akan menjelaskan mengenai lima jenis dhamma niyāma :

  • cittaniyāma,
  • utuniyāma,
  • vījaniyāma,
  • kammaniyāma,
  • dhammaniyāma.

Cittaniyāma adalah munculnya batin melalui proses rangkaian kesadaran satu demi satu seperti yang telah dijelaskan di atas. Ini merupakan urutan batin yang tetap, tidak ada seorang pun yang dapat mengubahnya.

Apakah yang dimaksud dengan utuniyāma? Jika bunga tertentu mekar pada musim tertentu pada kota ini, maka ia juga akan mekar pada kota lain, demikian juga di hutan. Jika buah jenis tertentu berbuah pada musim tertentu di kota ini, maka ia juga akan berbuah di kota lain, demikian juga di hutan. Ini disebut dengan utuniyāma.

Apakah yang dimaksud dengan vījaniyāma? Bibit mangga akan menghasilkan buah mangga, ia tidak akan menghasilkan buah jenis lain. Begitu pula bibit bunga tertentu (misalnya : bunga melati) akan menghasilkan bunga melati, ia tidak akan menghasilkan bunga jenis lain. Sebagaimana benih buah yang pahit tidak akan bisa menghasilkan buah yang manis, demikian pula benih buah yang manis tidak akan bisa menghasilkan buah yang pahit. Inilah yang disebut dengan vījaniyāma.

Apakah yang dimaksud dengan kammaniyāma? Kamma menghasilkan akibat yang sesuai. Ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam kammapaccaya.

Apa yang dimaksud dengan dhammaniyāma? Pada saat bodhisatta mengambil paṭisandhi untuk kehidupan terakhirnya, terjadi gempa bumi. Demikian pula pada saat beliau lahir, mencapai ke-Buddha-an dan pada saat Beliau mencapai Parinibbāna, juga terjadi gempa bumi. Ini merupakan dhammaniyāma. Dalam anantarapaccaya dan samanantarapaccaya, setelah pañcadvārāvacana citta, cakkhuviññāṇa citta muncul. Setelah cakkhuviññāṇa citta, sampaṭiccana citta muncul. Setelah lenyapnya  citta sebelumnya menyebabkan munculnya  citta berikutnya. Ini merupakan cittaniyāma. Inilah yang dinamakan anantarapaccayo dansamanantarapaccayo.

Terjemahan Pāḷi dari Anantara-paccayo

Cakkhuviññāṇadhātu taṃsampayuttakā ca dhammā manodhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Cakkhuviññāṇa (kesadaran mata) dan cetasika yang menyertainya menyebabkan munculnya sampaṭicchana citta(manodhātu) dan cetasika yang menyertainya pada momen ketidakberadaan dari cakkhuviññāṇa melalui kondisi kesinambungan.

Manodhātu taṃsampayuttakā ca dhammā manoviññāṇadhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Kesadaran penerima – Sampaṭiccana citta (manodhātu) dan cetasika yang menyertainya menyebabkan munculnya santīraṇa citta (manoviññāṇadhātu) dan cetasika yang menyertainya pada momen ketidakberadaannya melalui kondisi kesinambungan.

Sotaviññāṇadhātu taṃsampayuttakā ca dhammā manodhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Sotaviññāṇa (kesadaran telinga) dan cetasika yang menyertainya menyebabkan munculnya sampaṭicchana citta(manodhātu) dan cetasika yang menyertainya pada momen ketidakberadaannya melalui kondisi kesinambungan.

Manodhātu taṃsampayuttakā ca dhammā manoviññāṇadhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Manodhātu (sampaṭiccana citta) dan cetasika yang menyertainya menyebabkan munculnya manoviññāṇadhātu (santīraṇa citta) dan cetasika yang menyertainya pada momen ketidakberadaannya melalui kondisi kesinambungan.

Ghānaviññāṇadhātu taṃsampayuttakā ca dhammā manodhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Ghānaviññāṇa (kesadaran hidung) dan cetasika yang menyertainya menyebabkan munculnya sampaṭicchana citta (manodhātu) dan cetasika yang menyertainya pada momen ketidakberadaannya melalui kondisi kesinambungan.

Manodhātu taṃsampayuttakā ca dhammā manoviññāṇadhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Sampaṭiccana citta (manodhātu) dan cetasika yang menyertainya menyebabkan munculnya santīraṇa citta (manoviññāṇadhātu) dan cetasika yang menyertainya pada momen ketidakberadaannya melalui kondisi kesinambungan.

Jivhāviññāṇadhātu taṃsampayuttakā ca dhammā manodhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Jivhāviññāṇa (kesadaran lidah) dan cetasika yang menyertainya menyebabkan munculnya sampaṭicchana citta (manodhātu) dan cetasika yang menyertainya pada momen ketidakberadaannya melalui kondisi kesinambungan.

Manodhātu taṃsampayuttakā ca dhammā manoviññāṇadhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Sampaṭiccana citta (manodhātu) dan cetasika yang menyertainya menyebabkan munculnya santīraṇa citta (manoviññāṇadhātu) dan cetasika yang menyertainya pada momen ketidakberadaannya melalui kondisi kesinambungan.

Kāyaviññāṇadhātu taṃsampayuttakā ca dhammā manodhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Kāyaviññāṇa (kesadaran tubuh) dan cetasika yang menyertainya menyebabkan munculnya sampaṭicchana citta (manodhātu) dan cetasika yang menyertainya pada momen ketidakberadaannya melalui kondisi kesinambungan.

Manodhātu taṃsampayuttakā ca dhammā manoviññāṇadhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Sampaṭiccana citta (manodhātu) dan cetasika yang menyertainya menyebabkan munculnya santīraṇa citta (manoviññāṇadhātu) dan cetasika yang menyertainya pada momen ketidakberadaannya melalui kondisi kesinambungan.

Purimā purimā kusalā dhammā pacchimānaṃ pacchimānaṃ kusalānaṃ dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Kusala yang sebelumnya menyebabkan munculnya kusala berikutnya pada momen ketidakberadaannya dengan kondisi kesinambungan.

Purimā purimā kusalā dhammā pacchimānaṃ pacchimānaṃ abyākatānaṃ dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Kusala yang sebelumnya menyebabkan munculnya abyākata berikutnya pada momen ketidakberadaannya dengan kondisi kesinambungan.

Purimā purimā akusalā dhammā pacchimānaṃ pacchimānaṃ akusalānaṃ dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Akusala yang sebelumnya menyebabkan munculnya akusala berikutnya pada momen ketidakberadaannya dengan kondisi kesinambungan.

Purimā purimā akusalā dhammā pacchimānaṃ pacchimānaṃ abyākatānaṃ dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Akusala yang sebelumnya menyebabkan munculnya abyākata berikutnya pada momen ketidakberadaannya dengan kondisi kesinambungan.

Purimā purimā abyākatā dhammā pacchimānaṃ pacchimānaṃ abyākatānaṃ dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Abyākata yang sebelumnya menyebabkan munculnya abyākata berikutnya pada momen ketidakberadaannya dengan kondisi kesinambungan.

Purimā purimā abyākatā dhammā pacchimānaṃ pacchimānaṃ kusalānaṃ dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Abyākata yang sebelumnya menyebabkan munculnya kusala berikutnya pada momen ketidakberadaannya dengan kondisi kesinambungan.

Purimā purimā abyākatā dhammā pacchimānaṃ pacchimānaṃ akusalānaṃ dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Abyākata yang sebelumnya menyebabkan munculnya akusala berikutnya pada momen ketidakberadaannya dengan kondisi kesinambungan.

Yesaṃ yesaṃ dhammānaṃ anantarā ye ye dhammā uppajjanti cittacetasikā dhammā, te te dhammā tesaṃ tesaṃ dhammānaṃ anantarapaccayena paccayo.

Citta cetasika yang sebelumnya ini menyebabkan munculnya citta cetasika berikutnya ini. Citta cetasika sebelumnya itu menyebabkan munculnya citta cetasika berikutnya itu dengan kondisi kesinambungan.

Untuk terjemahan pāḷi dari samanantarapaccayo sama seperti anantarapaccayo, hanya saja “kondisi kesinambungan” diganti menjadi “kondisi kesegeraan”.

Paṭṭhāna dalam kehidupan sehari-hari

Disusun oleh : Sayalay Santagave