Paṭṭhāna – 6 Sahajātapaccayo (Kondisi kemunculan Bersama)

4
Buddha

6 Sahajātapaccayo (Kondisi kemunculan Bersama)

Mari kita lanjutkan dengan Sahajāta paccaya (kondisi kemunculan bersama). Saha berarti bersama. Jata berarti muncul. Sahajāta berarti lahir/muncul bersamaan. Ini berarti kondisi atau sebab yang muncul atau lahir bersamaan dengan akibatnya. Kondisi ini menghasilkan akibat pada saat yang bersamaan.

Kitab komentar mengumpamakan Sahajāta paccaya dengan lampu minyak. Ketika kita menyalakan lampu minyak, munculnya cahaya dan hilangnya kegelapan terjadi secara bersamaan (secara serentak). Inilah yang dimaksud dengan kondisi kemunculan bersama. Mari kita lihat kalimat pāḷi.

Cattāro khandhā arūpino aññamaññaṃ sahajātapaccayena paccayo.

Cattāro khandhā arūpino berarti empat gugusan batin (4 nāmakkhandhā). Aññamaññaṃ berarti saling mendukung satu sama lain. Sahajātapaccayena adalah melalui kondisi kemunculan bersama dan paccayo berarti menyebabkan munculnya. Jadi cattāro khandhā arūpino aññamaññaṃ sahajātapaccayena paccayo berarti empat gugusan batin saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain melalui kondisi kemunculan bersama (Sahajātapaccaya).

Mari kita lihat proses rangkaian kesadaran pintu mata (cakkhu–dvāra vīthi) (dijelaskan dengan vīthi), masing-masing citta bersekutu dengan cetasika. Mereka merupakan satu kesatuan. Mereka muncul bersamaan dan saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain. Mereka muncul bersama dan lenyap secara bersamaan. Contohnya dalam cakkhuviññāṇa (kesadaran mata), terdiri dari 8, yakni 1 citta dan 7 cetasika. Dalam 8 ini, terdapat 4 nāmakkhandhā (4 gugusan batin):

  1. vedanā (perasaan) adalah vedanakkhandhā,
  2. saññā (pencerapan) adalah saññakkhandhā,
  3. citta (kesadaran) adalah viññāṇakkhandhā, dan
  4. 5 lainnya yang dipimpin oleh cetanā disebut saṅkhārakkhandhā (bentuk-bentuk pikiran).

Mereka muncul bersamaan dan saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain. Vedanakkhandhā dan ketiga khandhā lainnya saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain. Saññakkhandhā dan ketiga khandhā lainnya saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain. Saṅkhārakkhandhā dan ketiga khandhā lainnya saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain. Viññānakkhandhā dan ketiga khandhā lainnya juga saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain. Demikian pula, dua nāmakkhandhā saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain. Mereka merupakan satu kesatuan. Mereka muncul bersama dan saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain. Mereka muncul bersama dan lenyap secara bersamaan. Inilah yang dimaksud dengan sahajāta paccaya.

Cattāro mahābhūtā aññamaññaṃ sahajātapaccayena paccayo.

Cattāro mahābhūtā adalah empat unsur utama. Aññamaññaṃ adalah saling mendukung satu sama lain. Sahajātapaccayena adalah dengan melalui kondisi kemunculan bersama dan paccayo di sini berarti untuk mempertahankan. Cattāro mahābhūtā aññamaññaṃ sahajātapaccayena paccayo berarti “Empat unsur utama saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain melalui kondisi kemunculan bersama (Sahajātapaccaya)”.

Berhubungan dengan cattāro mahābhūtā (empat unsur utama), terdapat 28 jenis rūpa : 27 rūpa pada pria termasuk purisabhāva rūpa dan 27 rūpa pada wanita termasuk itthibhāva rūpa. Dari 28 jenis rūpa, empat di antaranya disebut unsur utama, mahābhūta yang terdiri dari : pathavī dhātu (unsur tanah), āpo dhātu (unsur air), tejo dhātu (unsur api) dan vāyo dhātu (unsur angin), dan 24 jenis rūpa lainnya disebut upādhārūpa (materi turunan). Rūpa hadir secara berkelompok (rūpa kalāpa).

Rūpa adalah materi dan kalāpa adalah kelompok, jadi rūpa kalāpa adalah kelompok materi. Jadi, tubuh kita terbentuk dari banyak rūpa kalāpa. Perhatikan bahwa rūpa kalāpa adalah sangat kecil, sehingga tidak akan tampak bahkan jika dilihat dengan mikroskop elektron. Dideskripsikan demikian “debu yang dapat kita lihat ketika sebuah kereta atau sebuah mobil berjalan melewati jalan berdebu disebut tajjārī dalam pāḷi. Jika kita membagi satu tajjārī menjadi 36, ini disebut anu. Debu yang sangat kecil sekali disebut anu, yaitu yang dapat kita lihat beterbangan ketika sinar matahari masuk melalui sebuah lubang di dinding atau sela pintu. Jika kita membagi satu anu menjadi 36, maka ini disebut paramānu. Ukuran dari rūpa kalāpa seratus ribu kali lebih kecil dibandingkan “paramānu.” Ini berarti rūpa jauh lebih kecil daripada rūpa kalāpa.

Jadi, dalam masing-masing rūpa kalāpa minimal terdiri dari 8 jenis rūpa. Beberapa rūpa kalāpa memiliki 9 jenis  rūpa dan beberapa rūpa kalāpa memiliki 10 jenis rūpa. Setiap rūpa kalāpa harus memiliki 4 mahābhūta (4 unsur utama) dan sisanya adalah upādhārūpa.

Mari kita lihat 4 unsur utama dalam setiap rūpa kalāpa berdasarkan Cattāro mahābhūtā aññamaññaṃ sahajātapaccayena paccayo (Empat unsur utama saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain melalui kondisi kemunculan bersama / Sahajāta paccaya).

Apakah yang dimaksud dengan mahābhūtā?

Jawab : Empat unsur utama.

Apakah empat unsur utama tersebut?

Jawab : pathavī dhātu, āpo dhātu, tejo dhātu dan vāyo dhātu.

Pathavī dhātu dan ketiga dhātu lainnya saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain. Āpo dhātu dan ketiga dhātu lainnya saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain. Tejo dhātu dan ketiga dhātu lainnya saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain. Vāyo dhātu dan ketiga dhātu lainnya juga saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain. Dan dua unsur saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain. Keempat unsur ini saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain melalui kondisi kemunculan bersama. Inilah yang disebut dengan sahajāta paccaya.

Okkantikkhaṇe nāmarūpaṃ aññamaññaṃ sahajātapaccayena paccayo.

Di sini, okkantikkhaṇe berarti pada momen pembuahan (paṭisandhi). Nāmarūpaṃ adalah batin dan materi.Aññamaññaṃ adalah saling mendukung satu sama lain. Sahajātapaccayena adalah melalui kondisi kemunculan bersama dan paccayo berarti menyebabkan kemunculan. Jadi Okkantikkhaṇe nāmarūpaṃ aññamaññaṃ sahajātapaccayena paccayo berarti pada momen pembuahan (paṭisandhi), batin dan materi saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain melalui kondisi kemunculan bersama (Sahajāta paccaya).

Akan dijelaskan sedikit lagi mengenai okkantikkhaṇe nāmarūpaṃ (batin dan materi pada saat pembuahan / paṭisandhi), terdapat 32, 33 atau 34 jenis batin (citta dan cetasika) yang dapat muncul bersama 30 rūpa yang disebut dengan kammajarūpa (materi yang terbentuk oleh kamma).

Pada sebagian orang, jika paṭisandhi citta-nya (kesadaran kelahiran kembali) adalah 32 (1 citta dan 31 cetasika), ini karena tidak disertai pīti dan paññā. Pada sebagian orang, patisandhi citta-nya (kesadaran kelahiran kembali) adalah 33 (1 citta dan 32 cetasika) karena pada paṭisandhi citta-nya terdapat pīti tetapi tidak terdapat paññā atau tidak ada pīti tetapi disertai paññā.

Sebagian orang lagi, memiliki 34 paṭisandhicitta dikarenakan pada paṭisandhicitta-nya disertai dengan paññā dan pīti. Bersama dengan patisandhi citta ini (32/33/34) pada momen paṭisandhi, juga terdapat 30 jenis kammajarūpa.

Apa saja 30 jenis kammajarūpa pada momen paṭisandhi? 10 Kāyadassaka kalāpa, 10 Bhāvadassaka kalāpa dan 10 Hadayadassaka kalāpa.

Mari kita lihat pāḷi lagi, kalimatnya adalah : Okkantikkhaṇe nāmarūpaṃ aññamaññaṃ sahajātapaccayena paccayo yang berarti “pada momen paṭisandhi, 32 atau 33 atau 34 citta dan 30 kammajarūpa saling mendukung untuk mempertahankan satu sama lain melalui kondisi kemunculan bersama (Sahajātapaccaya).”

Cittacetasikā dhammā cittasamuṭṭhānānaṃ rūpānaṃ sahajātapaccayena paccayo.

Di sini, cittacetasikā dhammā adalah citta dan cetasika (yang merupakan nāma). Citta samuṭṭhānānaṃ rūpānaṃ adalah cittajarūpa yang dihasilkan oleh citta. Sahajātapaccayena adalah dengan melalui kondisi kelahiran/kemunculan bersama dan paccayo berarti menyebabkan kemunculan. Jadi keseluruhan kalimat berarti : Cittacetasikā dhammā cittasamuṭṭhānānaṃ rūpānaṃ sahajātapaccayena paccayo berarti “Citta dan cetasika (yang merupakan nāma) menyebabkan munculnya cittajarūpa melalui kondisi kemunculan bersama (Sahajātapaccaya).”

Secara keseluruhan terdapat 89 jenis citta (kesadaran). Dengan pengecualian dvipañcaviññāṇa, arūpa vipāka citta dan cuti citta dari Arahat, maka sisa citta–citta yang lain menyebabkan munculnya cittajarūpa; tetapi citta cetasika (yang merupakan nāma) dan cittajarūpa tidak saling mendukung kemunculan satu sama lain. Hanya nāma yang menyebabkan munculnya cittajarūpa, tetapi cittajarūpa tidak dapat menyebabkan munculnya nāma. Oleh sebab itu, kata aññāmañña (saling mendukung satu sama lain) tidak terdapat di dalam kalimat ini : Cittacetasikā dhammā cittasamuṭṭhānānaṃ rūpānaṃ sahajātapaccayena paccayo. Nāma dan rūpa seperti orang tua dan anak. Orang tua (nāma) menyebabkan kelahiran dan menyokong untuk mempertahankan anak-anak (rūpa), tetapi anak-anak tidak dapat menyebabkan kelahiran dan menyokong orang tua. Di sisi lain, orang tua (ayah dan ibu) bagaikan nāma, dan mereka dapat saling mendukung satu sama lain.

Mahābhūtā upādārūpānaṃ sahajātapaccayena paccayo.

Mahābhūtā adalah empat unsur utama. Upādārūpa adalah materi turunan. Sahajātapaccayena adalah melalui kondisi kemunculan bersama dan paccayo berarti untuk mempertahankan. Jadi secara keseluruhan, kalimat ini berarti “Empat unsur utama mendukung untuk mempertahankan materi turunan melalui kondisi kemunculan bersama (Sahajāta paccaya).”

Dengan kata lain, terdapat 28 jenis rūpa : 4 mahābhūta dan 24 upādārūpa. Setiap rūpakalāpa terdiri dari mahābhūta dan upādārūpa. Dalam setiap rūpakalāpa, mahābhūta mendukung untuk mempertahankan upādārūpa melalui kondisi kemunculan bersama. Upādārūpa tidak dapat mendukung untuk mempertahankan mahābhūta; oleh sebab itu, di sini juga tidak terdapat kata aññāmañña (saling mendukung satu sama lain).

Rūpino dhammā arūpīnaṃ dhammānaṃ kiñci kāle sahajātapaccayena paccayo, kiñci kāle na sahajātapaccayena paccayo.

Di sini rūpino dhammā berarti hadayavatthu dari hadayadassaka kalāpa yang terdapat di dalam jantung. Arūpīnaṃdhammānaṃ adalah batin (nāma). Kiñci kāle berarti kadang-kadang. Sahajātapaccayena adalah melalui kondisi kemunculan bersama dan paccayo berarti menyebabkan kemunculan. Napaccayo berarti tidak menyebabkan kemunculan. Jadi secara keseluruhan kalimat ini berarti : “hadayavatthu terkadang menyebabkan munculnya nāma (batin) melalui kondisi kemunculan bersama dan terkadang tidak menyebabkan kemunculannya melalui kondisi kemunculan bersama”.

Agar lebih dipahami akan dijelaskan lebih lanjut. Sebagaimana yang anda ketahui, untuk munculnya cakkhuviññāṇa (kesadaran mata), dibutuhkan 4 kondisi yakni landasan mata, objek, perhatian dan cahaya. Setiap citta bergantung pada sebuah landasan untuk muncul. Jadi hadayavatthu merupakan landasan bagi manodhātu dan manoviññāṇadhātu untuk muncul.

Landasan mata (Cakkhuvatthu atau cakkhupasāda) merupakan landasan bagi cakkhuviññāṇa (kesadaran mata) untuk muncul. Sotavatthu atau sotapasāda merupakan landasan bagi sotaviññāṇa (kesadaran telinga) untuk muncul. Ghānavatthuatau ghānapasāda merupakan landasan bagi ghānaviññāṇa (kesadaran hidung ) untuk muncul. Jivhāvatthu atau jivhāpasāda merupakan landasan bagi jivhāviññāṇa (kesadaran lidah) untuk muncul. Dan kāyavatthu atau kāyapasāda merupakan landasan bagi kāyaviññāṇa (kesadaran tubuh) untuk muncul. Demikian juga, hadayavatthu selalu menjadi landasan bagi kemunculan batin dengan pengecualian dvipañcaviññāṇa tetapi terkadang dengan kondisi kemunculan bersama, terkadang tidak dengan kondisi kemunculan bersama. Kata kiñci kāle (kadangkadang) di sini maksudnya hanya pada momen paṭisandhi. Hanya pada momen paṭisandhi, hadayavatthu menyebabkan munculnya batin paṭisandhi melalui kondisi kemunculan bersama (sahajātapaccaya). Pada saat yang lain, hadayavatthu merupakan landasan bagi munculnya batin (manodhātu dan manoviññāṇadhātu) tidak dengan kondisi kemunculan bersama, tetapi dengan kondisi kemunculan lebih awal (yang disebut purejātapaccaya).

Paccaya ini akan dijelaskan nanti. Paccaya lainnya seperti aññamañña paccaya dan beberapa nissaya paccaya juga memiliki sifat seperti sahajātapaccaya, tetapi hanya Sang Buddha yang dapat membedakan sifatsifat dari paccaya. Karena terdapat berbagai jenis sifat dalam satu paccaya, Sang Buddha membabarkannya dalam paccaya yang terpisah sesuai dengan sifatnya. Dengan mempelajari ini, kita semakin mengagumi pengetahuan pencerahan dari Sang Buddha.

Paṭṭhāna dalam kehidupan sehari-hari

Disusun oleh : Sayalay Santagave