Paṭṭhāna –8. Nissayapaccayo (Kondisi ketergantungan)

44
Buddha

8. Nissayapaccayo (Kondisi ketergantungan)

Paccaya selanjutnya adalah Nissaya paccayo, kondisi ketergantungan. Dalam kitab komentar memberi perumpamaan bumi sebagai nissaya paccaya. Bumi eksis atau ada lebih awal dari pohon. Bumi merupakan landasan, di mana pohon bergantung padanya untuk bisa tumbuh. Pohon tidak dapat berdiri tanpa bumi. Sebagaimana pepohonan bergantung dan tumbuh di atas bumi, demikian pula akibat muncul dengan bergantung pada sebab. Perumpamaan lainnya adalah lukisan. Terdapat kain kanvas untuk melukis lukisan. Lukisan bergantung pada kain kanvas. Lukisan tidak akan ada tanpa kain kanvas. Demikian pula ketika kita duduk di lantai. Kita bergantung pada lantai. Kita tidak akan dapat berdiri tanpa adanya lantai.

Ini disebut nissaya paccaya, yang terdiri dari dua jenis yakni sahajātanissaya dan purejātanissaya. Sahajātanissaya sama dengan sahajāta paccaya. Saya akan terlebih dulu menjelaskan Sahajātanissaya. Sahajāta berarti muncul bersamaan, nissayaberarti ketergantungan. Sebab dan akibat muncul secara bersamaan, akibat muncul dengan bergantung pada sebab.

Cattāro khandhā arūpino aññamaññaṃ nissayapaccayena paccayo.

Empat gugusan batin (nāmakkhandhā) saling menyokong satu sama lain melalui kondisi ketergantungan (nissayapaccaya). Mereka lahir bersamaan sehingga disebut sahajātanissaya.

Cattāro mahābhūtā aññamaññaṃ nissayapaccayena paccayo.

Empat unsur utama saling menyokong satu sama lain melalui kondisi ketergantungan (nissaya paccaya). Mereka juga muncul bersamaan sehingga disebut sahajātanissaya.

Okkantikkhaṇe nāmarūpaṃ aññamaññaṃ nissayapaccayena paccayo.

Pada momen konsepsi (paṭisandhi), nāma dan rūpa (batin dan materi) saling menyokong satu sama lain melalui kondisi ketergantungan (nissaya paccaya). Mereka juga muncul bersamaan sehingga disebut sahajātanissaya.

Cittacetasikā dhammā cittasamuṭṭhānānaṃ rūpānaṃ nissayapaccayena paccayo.

Citta dan cetasika (nāmakkhandhā) menyebabkan munculnya cittajarūpa (materi yang dihasilkan oleh kesadaran) melalui kondisi ketergantungan (nissaya paccaya). Citta, cetasika dan cittajarūpa muncul bersamaan sehingga disebut sahajātanissaya.

Mahābhūtā upādārūpānaṃ nissayapaccayena paccayo.

Mahābhūta (4 unsur utama) menyokong upādārūpa (materi turunan) pada masing-masing rūpa kalāpa melalui kondisi ketergantungan (nissaya paccaya). Mereka juga muncul bersamaan sehingga disebut sahajātanissaya.

Dari cattāro khandhā arūpino hingga mahābhūtā upādārūpāṁ, sebab dan akibat muncul bersamaan, dan beberapa sebab dan akibat saling bergantung satu sama lain. Walaupun beberapa sebab dan akibat tidak saling bergantung satu sama lain, bagaimanapun hanya akibat yang bergantung pada sebab. Ini disebut sahajātanissaya.

Selanjutnya adalah purejātanissaya. Purejāta berarti kemunculan lebih awal atau dengan kata lain berarti lahir lebih awal, nissaya adalah ketergantungan. Ini berarti sebab muncul sebelum akibat dan kemunculan sebab merupakan landasan untuk munculnya akibat.

Cakkhāyatanaṃ cakkhuviññāṇadhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ nissayapaccayena paccayo.

Cakkhāyatana adalah landasan mata. Disebut juga dengan cakkhupasāda (zat bening pada mata).Cakkhupasāda menyebabkan munculnya kesadaran mata (cakkhuviññāṇa) beserta cetasika (faktor-faktor batin) yang menyertainya melaui kondisi ketergantungan (nissaya paccaya). Cakkhupasāda lahir lebih awal daripada cakkhuviññāṇa serta menjadi llandasan untuk munculnya cakkhuviññāṇa. Sehingga disebut purejātanissaya. Untuk mengetahui seberapa lama jangka waktu cakkhupasāda lahir lebih awal dibandingkan cakkhuviññāṇa, mari kita lihat cakkhudvāravīthi (rangkaian kesadaran mata).

Jangka hidup dari setiap citta (kesadaran) hanya 3 sub momen kesadaran yaitu : waktu kemunculan (uppāda), waktu keberadaan/keberlangsungan (thiti) dan waktu kepadaman/ lenyap (bhaṅga). Pada momen kemunculan setiap citta, banyak cittajarūpa (materi yang terbentuk dari kesadaran) dan banyak kammajarūpa (materi yang terbentuk dari kamma) yang dihasilkan.

Cittajarūpa dihasilkan oleh masing-masing citta dan kammajarūpa dihasilkan oleh kamma. Cakkhudassaka kalāpa, sotadassaka kalāpa, ghānadassaka kalāpa, jivhādassaka kalāpa,kāyadassaka kalāpa, hadayadassaka kalāpa disebut kammajarūpa. Jadi terdapat banyak cakkhudassaka kalāpa di mata kita. Setiap cakkhudassaka kalāpa terdiri dari sepuluh rūpa, dan cakkhupasāda merupakan salah satu dari sepuluh rūpa tersebut.

Jadi di antara banyak cakkhudassaka kalāpa pada mata kita, bagaimana kita mengetahui cakkhupasāda dari cakkhudassaka kalāpa yang mana yang menjadi landasan untuk munculnya cakkhuviññāṇa?

Saya akan menjelaskan sedikit. Pada momen munculnya atītabhavaṅga citta, banyak cakkhudassaka kalāpa yang muncul. Di antara banyak cakkhudassaka kalāpa ini, cakkhupasāda dari satu cakkhudassaka kalāpa menjadi landasan untuk munculnya cakkhuviññāṇa dan cetasika yang menyertainya. Ini berarti cakkhupasāda lahir 4 citta lebih awal daripada cakkhuviññāṇa dan menjadi landasan untuk munculnya cakkhuviññāṇa, sehingga disebut juga purejātanissaya.

Demikian pula dengan munculnya sotaviññāṇa, ghānaviññāṇa,  jivhāviññāṇa dan kāyaviññāṇa. Bagaimana kita dapat mengetahui semua hal ini jika Sang Buddha tidak ada di dunia ini. Semakin kita memahami pengetahuan pencerahan dari Sang Buddha, kita akan semakin mengagumi Beliau.

Sotāyatanaṃ sotaviññāṇadhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ nissayapaccayena paccayo.

Landasan telinga (sotapasāda) menyebabkan munculnya kesadaran telinga (sotaviññāṇa) beserta cetasika yang menyertainya melalui kondisi ketergantungan (nissaya paccaya). Sotapasāda lahir lebih awal daripada sotaviññāṇa. Kapan sotapasāda muncul ? Kemarin telah dijelaskan mengenai munculnya cakkhuviññāṇa. Sotapasāda lahir pada sub momen kemunculan dari atītabhavaṅga citta dan ia menjadi landasan bagi munculnya sotaviññāṇa dan cetasika yang menyertainya. Sotapasāda ini muncul empat citta lebih awal daripada sotaviññāṇa, sehingga disebut purejātanissaya.

Ghānāyatanaṃ ghānaviññāṇadhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ nissayapaccayena paccayo.

Landasan hidung (ghānapasāda) menyebabkan munculnya kesadaran hidung (ghānaviññāṇa) dan cetasika yang menyertainya melalui kondisi ketergantungan (nissayapaccaya). Kapan ghānapasāda muncul ? …..

Jivhāyatanaṃ jivhāviññāṇadhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ nissayapaccayena paccayo.

Landasan lidah (jivhāpasāda) menyebabkan munculnya kesadaran lidah (jivhāviññāṇa) dan cetasika yang menyertainya melalui kondisi ketergantungan (nissayapaccaya). Kapan jivhāpasāda muncul ? …..

Kāyāyatanaṃ kāyaviññāṇadhātuyā taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ nissayapaccayena paccayo.

Landasan tubuh (kāyapasāda) menyebabkan munculnya kesadaran tubuh (kāyaviññāṇa) dan cetasika yang menyertainya melalui kondisi ketergantungan (nissaya paccaya). Kapan kāyapasāda muncul ? …..

Yaṃ rūpaṃ nissāya manodhātu ca manoviññāṇadhātu ca vattanti, taṃ rūpaṃ manodhātuyā ca manoviññāṇadhātuyā ca taṃsampayuttakānañca dhammānaṃ nissayapaccayena paccayo.

Apakah yang menjadi landasan bagi munculnya manodhātu dan manoviññāṇadhātu? Secara keseluruhan kalimat ini berarti :“Bergantung pada landasan jantung ini (hadayavatthu), manodhātu dan manoviññāṇadhātu muncul. Hadayavatthu itu menyebabkan munculnya manodhātu dan manoviññāṇadhātu beserta cetasika yang menyertainya melalui kondisi ketergantungan (nissaya paccaya).”

Hadayavatthu merupakan landasan bagi munculnya manodhātu dan manoviññāṇadhātu. Hadayavatthu ini juga muncul lebih awal dari manodhātu dan manoviññāṇadhātu. Seberapa lama hadayavatthu ini muncul lebih awal daripada manodhātu dan manoviññāṇadhātu? Ini berbeda dengan proses munculnya pañcaviññāṇa (5 kesadaran indera).

Mari kita kembali melihat cakkhu–dvāra vīthi (rangkaian kesadaran pintu mata). Apakah yang dimaksud dengan manodhātu dan manoviññāṇadhātu? Banyak hadayadassaka kalāpa yang dihasilkan oleh kamma pada sub momen kemunculan citta apapun sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Kapan hadayavatthu muncul untuk menyebabkan munculnya atītabhavaṅga citta? Atītabhavaṅga citta muncul dengan bergantung pada hadayavatthu dari satu hadayadassaka kalāpa yang telah muncul pada sub momen kemunculan dari bhavaṅgacitta ( 1 citta sebelum Atītabhavaṅga citta).

Demikian juga dengan bergantung pada hadayavatthu yang telah muncul pada sub momen kemunculan dari atītabhavaṅga citta, bhavaṅgacalana citta muncul. Dengan bergantung pada hadayavatthu yang telah muncul pada momen kemunculan bhavaṅgacalana citta, bhavaṅgupaccheda citta muncul. Dengan bergantung pada hadayavatthu yang telah muncul pada sub momen kemunculan bhavaṅgupaccheda citta, pañcadvārāvacana citta muncul.

Cakkhuviññāṇa bukan manodhātu, juga bukan manoviññāṇadhātu. Proses kemunculan cakkhuviññāṇa telah dijelaskan. Apakah yang menjadi landasan bagi munculnya cakkhuviññāṇa? Kapan ia muncul ? Dengan bergantung pada hadayavatthu yang telah muncul pada sub momen kemunculan dari cakkhuviññāṇa citta, sampaṭicchana citta muncul. Sama halnya, manoviññāṇadhātu lainnya muncul dengan bergantung pada hadayavatthu yang telah muncul pada sub momen kemunculan dari 1 citta sebelumnya.

Di sini saya ingin bertanya:

  • Untuk memunculkan santīraṇa citta, apa landasannya dan kapan ia muncul ?
  • Untuk kemunculan javana citta yang pertama, apa landasannya dan kapan ia muncul?
  • Untuk kemunculan javana citta yang ketujuh, apa landasannya dan kapan ia muncul?
  • Untuk kemunculan tadārammaṇa citta yang kedua, apa landasannya dan kapan ia muncul?
  • Untuk kemunculan sotaviññāṇa, apa landasannya dan kapan ia muncul?

Sejauh ini kita telah mempelajari 8 jenis kondisi (8 paccaya). Agar anda lebih memahami kondisi-kondisi ini dalam kehidupan sehari-hari, saya akan mencoba menjelaskan bagaimana kondisikondisi ini berlaku dalam tubuh dan batin kita dengan beberapa contoh perbuatan buruk.

Ketika anda melakukan sesuatu, nyamuk datang dan menggigit anda. Anda langsung memukulnya. Ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Dalam kasus ini, nyamuk adalah ārammana paccaya. Dosa yang muncul ketika anda memukulnya adalah hetupaccaya. Karena dosa, pemikiran dosa dan tindakan dosa muncul. Cittajarupa atau rūpa yang dihasilkan oleh batin dosa memukul nyamuk secara tiba-tiba. Dalam satu detik, dosa vīthi muncul lebih dari 1 triliun kali. Jadi dosa citta dan cetasika muncul lebih dari 1 triliun kali. Anantara dan samanantara paccaya menyebabkan munculnya dosa citta satu demi satu sebanyak bermilyar-milyar kali. Dosacitta dan cetasika (4 nāmakhandhā) muncul secara bersamaan jadi sahajāta paccaya juga termasuk dalam kasus ini. Dosa citta dan cetasika ini saling menyokong dan bergantung satu sama lain.Kondisi ini adalah aññamañña paccaya dan nissayapaccaya. Dalam kasus memukul nyamuk secara tiba-tiba, adhipati paccaya tidak termasuk. Dalam kasus memukul nyamuk, seekor hewan kecil, berapa kondisi yang termasuk di dalamnya ? (= 7 paccaya).

Ketika seseorang membunuh hewan yang besar, dosa nya lebih kuat dibandingkan dengan membunuh nyamuk. Akusala nya juga lebih kuat daripada membunuh nyamuk. Ketika menghasilkan akibat, ia akan dibunuh oleh orang lain. Tidak hanya pada satu kehidupan; ia akan dibunuh dalam banyak kehidupan, karena ketika ia membunuh nyamuk atau hewan lain dalam waktu satu detik, 1 triliun akusalacitta muncul pada saat itu. Setiap citta dapat menghasilkan akibatnya masing-masing. Di sini akan diceritakan satu cerita mengenai pembunuhan.

Suatu hari seorang ibu rumah tangga pergi ke pasar untuk membeli daging dengan tujuan menjamu tamu khusus. Karena ia tidak mendapatkan daging di manapun, ia membunuh seekor domba kecil yang dipelihara di rumahnya. Tamu dan suaminya sangat puas dengan daging tersebut. Tetapi ketika ia meninggal, ia terlahir di neraka, di mana ia mengalami penderitaan dalam waktu yang sangat lama. Setelah itu ia terlahir sebagai hewan berkali-kali sebanyak jumlah bulu dari domba yang dibunuhnya. Dalam setiap kehidupannya sebagai hewan, ia dibunuh dengan dipotong di lehernya, sebagaimana ia membunuh domba kecil tersebut. Betapa menderitanya dia ? Beberapa orang, tidak membunuh, tetapi mereka marah dalam jangka waktu yang lama. Waspadalah!

Ketika membunuh manusia, dosa lebih kuat dibandingkan dengan membunuh hewan, karena usaha yang dibutuhkan lebih banyak. Ketika membunuh orang suci, akusaladan pelanggaran juga jauh lebih kuat. Bhante Devadatta berusaha untuk membunuh Sang Buddha dengan cara menggulingkan batu besar dari Bukit Gijjhakuṭa. Dalam batin ia memiliki dosa tetapi yang sangat kuat. Akusala yang kuat membuat ia mengalami penderitaan di neraka avīci. Apakah anda tahu, seberapa lama ia telah mengumpulkan pāramī? Ia telah mengumpulkan pāramīselama dua asaṅkheyya untuk menjadi Paccekabuddha. Hanya butuh seratus ribu siklus dunia lagi waktu yang dibutuhkan untuk merampungkan pāramī dan menjadi Paccekabuddha. Dibandingkan dengan beliau, kita tidak ada apaapanya. Sepanjang kita belum mencapai sotāpattimagga, kita masih bisa menjadi orang yang jahat. Kita harus sangat berhatihati.  Ada berapa paccaya dalam kasus beliau? (= 8 paccaya). Ini adalah kondisi yang berhubungan dengan pāṇātipāta.

Mari kita lihat kondisi yang berhubungan dengan adinnādāna.

Mencuri tidak hanya mengambil barang milik orang lain, tetapi juga ketika anda menjual sesuatu, anda menimbangnya lebih ringan. Ketika anda membeli sesuatu, anda menimbangnya lebih berat. Dan berhubungan dengan beras atau padi, ketika menjual, anda menjual dengan keranjang pengukur kecil, tetapi ketika membeli, anda menggunakan keranjang pengukur yang besar, kemudian juga, menjual barang-barang palsu seperti emas, perhiasan dan lain-lain dengan menganggapnya barang yang asli. Semua tindakan ini juga termasuk dalam adinnādāna. Untuk melakukan adinnādāna, tidak hanya mencuri, tetapi termasuk juga menipu dan berbohong untuk mendapat kepercayaan orang lain.

Dalam kasus menjual, membeli atau mencuri, lobha hetu yang memimpin. Lobhamenyebabkan munculnya pikiran lobha, ucapan lobha dan perbuatan lobha. Apakah objek dari pikiran lobha? Barang-barang yang anda jual, beli atau curi dan orang yang anda tipu adalah objek (ārammaṇa paccaya). Karena ārammaṇapaccaya ini, lobha hetu muncul. Pikiran lobha adalah citta dan cetasika (4 nāmakkhandhā). Pemikiran lobha muncul satu demi satu dengan cara anantara dan samanantarapaccaya. Keempat nāmakkhandhā muncul bersama, jadi termasuk sahajāta paccaya. Mereka saling mendukung satu sama lain, jadi termasuk aññamañña paccaya. Keempat nāmakkhandhā saling bergantung satu sama lain, jadi termasuk nissayapaccaya. Jika objek diambil dengan kuat, maka termasuk ārammaṇādhipati.

Jika chanda, vīriya atau citta disertai dengan lobha yang dominan, maka termasuk adhipatipaccaya. Jika tidak dominan, adhipati paccaya tidak termasuk dalam kasus ini. Berapa paccaya yang termasuk pada saat mengambil barang milik orang lain walaupun hanya sedikit ? Ketika akibatnya muncul, maka ia akan miskin atau kehilangan harta bendanya baik dengan satu cara atau dengan cara lain karena mengambil barang milik orang lain dengan menipu. Ini tidak akan hanya dibayar pada satu kehidupan saja; ia akan menderita pada banyak kehidupan karena ketika ia menipu orang lain, sangat banyak lobha citta yang muncul, lebih dari 1 triliun lobha citta dalam satu detik. Jika ia menipu atau mencuri barang milik orang lain dalam waktu 5 menit, berapa banyak lobha citta yang muncul pada saat itu? Setiap  citta dapat membuahkan masing-masing akibatnya. Anda bayangkan saja hal tersebut.

Dan ketika anda berbohong (musāvādā) karena lobha, pikiran lobha, ucapan lobha dan tindakan lobha muncul. Pikiran lobha adalah lobha citta dan cetasika, ucapan atau suara pada saat berbohong adalah cittajarūpa. Lobha adalah hetu paccaya. Objek dari kebohongan anda adalah ārammaṇa paccaya. Pikiran lobha muncul satu demi satu maka termasuk anantara dan samanantara paccaya. Lobha citta, cetasika muncul bersamaan : sahajātapaccaya. Lobha citta, cetasika saling mendukung satu sama lain secara timbal balik : aññamañña paccaya. Lobhacitta, cetasika bergantung satu sama lain adalah nissaya paccaya. Dan jika objek diambil dengan sangat kuat, maka termasuk ārammaṇādhipati. Jika chanda, vīriya atau citta disertai lobha yang dominan untuk berbohong, maka termasuk adhipati paccaya. Demikianlah, banyak paccaya yang bergabung dalam kasus berbohong. Ketika menghasilkan akibat, juga akan menghasilkan akibat pada banyak kehidupan.

Cobalah anda perluas pemahaman dengan mencoba memahami kasus dalam pelanggaran sīla lainnya dan setiap batin akusala yang muncul dengan cara demikian. Ini adalah beberapa contoh perbuatan buruk dalam kehidupan sehari-hari kita sehubungan dengan 8 paccaya yang telah kita pelajari.

Mari kita lihat contoh baik dalam kehidupan sehari-hari sehubungan dengan 8 paccaya. Ketika anda mendanakan sesuatu kepada orang lain, batin yang murah hati muncul dalam diri anda, ini adalah alobha. Karena alobha, muncul pikiran alobha dan tindakan alobha. Pikiran alobha adalah alobha citta dan cetasika. Tindakan alobha adalah mendanakan sesuatu kepada penerima (cittajarūpa). Alobha adalah hetupaccaya. Penerima atau materi yang didermakan adalah ārammaṇa paccaya. Pikiran alobha (alobha citta dan cetasika yang menyertainya – 4 nāmakkhandhā) muncul satu demi satu dengan kondisi anantara dan samanantara paccaya.

Mereka muncul bersama sehingga termasuk sahajāta paccaya. Mereka saling menyokong satu sama lain, jadi aññamañña paccaya. Mereka bergantung satu sama lain, jadi nissaya paccaya. Jika objek dominan, maka termasuk ārammanādhipati. Jika chanda, vīriya, citta atau vīmaṁsa disertai alobha yang dominan, maka termasuk adhipatipaccaya. Dalam kasus mendanakan sesuatu walau hanya sedikit, ada berapa paccaya yang termasuk ? Ketika menghasilkan akibat, ia akan menjadi kaya atau mendapatkan apapun yang dibutuhkannya. Tidak hanya pada satu kehidupan. Ia akan menjadi kaya dalam banyak kehidupannya, karena pada saat ia berdana sangat banyak alobha citta yang muncul, lebih dari 1 triliun alobha citta dalam satu detik. Contohnya jika anda mendermakan makanan, untuk mempersiapkan makanan dan mempersembahkan makanan mungkin butuh waktu 10 menit atau bahkan lebih. Banyak alobha citta yang muncul bermilyar-milyar kali. Setiap citta dapat menghasilkan akibatnya.

Dan ketika anda penuh kesadaran terhadap napas masuk dan napas keluar, maka pada saat itu amoha hetu yang memimpin. Objeknya adalah napas masuk dan napas keluar. Dalam kasus ini, ada berapa paccaya yang termasuk? Jika anda bermeditasi selama 1 jam atau 2 jam berapa banyak amoha citta yang dapat muncul pada saat itu? Setiap citta dapat membuahkan hasil. Dan ketika membuahkan hasil, anda akan terlahir sebagai seorang makhluk tihetuka, anda akan menjadi orang yang cerdas atau bijaksana untuk memahami dhamma yang lebih tinggi dengan lebih mudah. Ini adalah beberapa contoh perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari kita sehubungan dengan 8 paccaya yang telah kita pelajari. Mari kita selesaikan nissaya paccaya sampai di sini.

Paṭṭhāna dalam kehidupan sehari-hari

Disusun oleh : Sayalay Santagave