Paṭṭhāna – 24 Avigatapaccayo (Kondisi ketidaklenyapan)

12
Buddha

24 Avigatapaccayo (Kondisi ketidaklenyapan)

Avigata berarti “ketidaklenyapan”. Avigata paccaya adalah suatu kondisi yang mendukung munculnya akibat sebelum kondisi itu padam atau sebelum tanpa kondisi itu. Avigata paccaya dan atthi paccaya adalah sama. Oleh karena itu, anda dapat menggunakan terjemahan dari atthi paccaya untuk avigata paccaya. Anda hanya perlu mengganti kata atthi menjadi avigata. Atthi berarti ‘hadir’ dan avigata berarti ‘tidak lenyap’. Jadi dapat dikatakan bahwa jika ia masih hadir, ia belum lenyap. Atau dengan kata lain,ia belum lenyap karena ia masih hadir/ada.

Sayadaw Kuṇḍalābhivaṁsa mengatakan arti dari kedua kata ini : atthi dan avigata adalah sama seperti anantara dan samanantara, natthi dan vigata. Sang Buddha telah menguraikan secara terperinci kedua kondisi-kondisi ini secara terpisah karena harapan dari murid-muridnya dan individu-individu lain. Beberapa individu dapat mengerti ketika diuraikan sebagai Kondisi Kehadiran sedangkan individu lain dapat mengerti ketika diuraikan sebagai Kondisi Ketidaklenyapan. Oleh karena itu, Sang Buddha menguraikan kondisi yang sama secara terpisah untuk memuaskan harapan dari individu-individu yang berbeda.

Perumpamaan dari avigata paccaya adalah seperti lautan yang menyokong makhluk-makhluk yang hidup di dalamnya seperti ikan-ikan, kura-kura, dan lain-lain, yang hidup dengan bahagia di lautan melalui kondisi ketidaklenyapan.

Secara keseluruhan terdapat 24 paccaya. Jika kita melihat hal-hal yang terjadi di sekitar kita, tidak ada yang terbebaskan dari 24 paccaya. Suatu hal terjadi tidak hanya disokong oleh satu kondisi (paccaya). Mereka disokong oleh banyak kondisi-kondisi (paccaya) secara bersamaan. Dengan mempelajari paṭṭhāna, kita akan mengerti sebab-sebab dan akibat-akibat. Jika kita mengerti sebab-sebab dan akibat-akibat, keraguan akan hilang dan kita dapat memilih hanya kondisi-kondisi yang baik. Jika kita dapat memilih kondisi yang baik saja, kita juga hanya akan mendapat hasil/akibat yang baik. Jika kita dapat menghentikan sebab-sebab secara total, maka tidak ada lagi akibat-akibat.

Demikianlah ceramah Dhamma Paṭṭhāna ini. Ceramah Dhamma Paṭṭhāna ini terutama berlandaskan pada 2 sumber yang dijelaskan oleh Ashin Janakābhivaṁsa dan rektor kami Sayadaw Ashin Dr. Nandamālābhivaṁsa. Di samping kedua sumber ini, saya ingin mengekspresikan penghormatan saya kepada penulis-penulis berikut yang juga merupakan sumber yang saya andalkan. Mereka adalah : Ledi Sayadaw, Ashin Kundalābhivaṁsa, Ashin Dr. Silānanda dan Pa-auk Sayadawgyi.

Semoga Anda semua hidup dengan kondisi-kondisi yang baik dengan memahami paṭṭhāna dhamma sebanyak yang anda bisa dan dapat menghentikan penderitaan! Mari berbagi jasa kebajikan kita dari menjelaskan Paṭṭhāna Dhamma dan mendengarkan/mempelajari Paṭṭhāna Dhamma kepada semua makhluk hidup.

Idaṃ me puññaṃ āsavakkhayā-vahaṃ hotu.

Idaṃ me puññaṃ nibbānassa paccayo hotu.

Mama puññabhāgaṃ sabbasattānaṃ bhājemi,

te sabbe me samaṃ puññabhāgaṃ labhantu.

Semoga dengan jasa kebajikan ini, menuntun saya menuju lenyapnya kekotoran batin.

Semoga dengan jasa kebajikan saya ini, mengkondisikan pencapaian Nibbāna.

Saya melimpahkan jasa kebajikan ini kepada semua makhluk, dan

semoga semua makhluk mendapatkan jasa kebajikan yang sama seperti yang saya limpahkan tersebut.

Paṭṭhāna dalam kehidupan sehari-hari

Disusun oleh : Sayalay Santagave