Theravada

Paṭṭhāna - 2. Ārammaņapaccayo (Kondisi objek)

Paṭṭhāna - 2. Ārammaņapaccayo  (Kondisi objek)

2. Ārammaņapaccayo  (Kondisi objek)

 

Ārammaṇa  berarti  objek,  dan  paccaya  berarti  kondisi,  jadi

Ārammaṇa paccaya berarti kondisi objek.Terdapat enam jenis

objek (Ārammaṇa) :

 1. objek penglihatan,

 2. objek pendengaran (suara),

 3. objek penciuman (bau/wewangian),

 4. objek rasa (makanan/minuman),

 5. objek sentuhan, dan

 6. objek batin.

 

Ke-6  objek  inilah  yang  merupakan  kondisi-kondisi  objek, Ārammaṇa paccaya.

Munculnya batin yang lobha (serakah), batin dosa (kebencian/ketidakpuasan),  batin  moha  (ketidaktahuan),  batin alobha  (dermawan), batin adosa (meta/cinta kasih) atau batin amoha  kebijaksanaan ) dibutuhkan minimal sebuah objek. Tanpa objek, tidak akan ada batin yang muncul. Dengan kata lain, tidak ada  seorang pun yang dapat memunculkan batin jika tidak ada objek. Akan tetapi jika ada objek, maka batin akan muncul.

 

Dengan demikian, batin muncul hanya karena adanya objek dan yang ada hanyalah  objek,  citta  (kesadaran)  dan  cetasika  (faktor-faktor mental). Tidak ada yang disebut dengan makhluk, tidak ada orang, tidak ada diri, tidak ada dia atau siapapun yang terlibat. Jadi batin muncul dengan bergantung pada objek. Batin itu bagaikan orang cacat. Sama sepert orang yang sudah tua, orang sakit atau orang cacat hanya dapat berdiri dengan bantuan tali, bantuan orang ataupun bantuan penyangga, demikian pula batin muncul dengan bergantung pada objek.

Saat kita sedang  tidur,  kesadaran  kelangsungan  hidup (bhavaṅga) muncul dan berlangsung. Kesadaran bhavaṅga juga memiliki objek  tetapi  bukan  objek  masa  sekarang;  kesadaran bhavaṅga mengambil objek masa lampau yang merupakan objek pada saat maraṇāsanna (menjelang kematian).

Untuk melihat  sebuah  objek,  kondisi-kondisi  berikut  harus terpenuhi : 

  • Terdapat cakkhupasāda mata (landasan mata) yakni pupil mata,
  • Terdapat objek di depannya,
  • Ada perhatian, dan
  • Ada cahaya.

 

Tidak   seorang   pun   dapat   menghalangi   munculnya cakkhuviññāṇa (kesadaran  mata)  jika  seluruh  kondisi  ini terpenuhi.  Sebaliknya, jika  tidak  ada  cakkhupasāda,  tidak  da  objek,  tidak  ada  perhatian,  dan  tidak  ada  cahaya,  maka tidak  ada  seorang  pun  yang  dapat  menyebabkan  munculnya cakkhuviññāṇa  (kesadaran  mata).  Bahkan Sang  Buddha  juga tidak dapat menyebabkan munculnyacakkhuviññāṇa . Dhamma sangatlah pasti. Di manakah orang? Di manakah diri? Di manakah saya? Di manakah dia?

Secara singkat,  hanya  terdapat  tiga  jenis  citta  (kesadaran) yang muncul pada setap orang, baik orang berkedudukan tinggi atau  rendah,  pada  seorang  anak  ataupun  pada  hewan,  yaitu kusala  citta,  akusala  citta,  dan  abyākata  citta.  Abyākata citta juga disebut vipāka citta atau kiriya citta. Terlebih dahulu akan dijelaskan sedikit mengenai akusala citta.

Ketika akusala citta (kesadaran yang tidak bajik) muncul, cetasika (faktor-faktor mental) berupa lobha, dosa, māna (kesombongan), issā  (iri  hati),  macchariya  (  kekikiran  ),  atau vicikicchā  (keragu-raguan),  dan  sebagainya  juga  termasuk  di dalamnya. Saat akusala citta muncul, sifatnya kotor dan disertai kesalahan, ketika membuahkan akibat, ia juga menghasilkan akibat yang buruk sehingga ini disebut akusala.

Di sisi lain, ketika kusala citta (kesadaran yang bajik) muncul, alobha, adosa (mettā), atau amoha (paññā) termasuk di dalamnya. Ketika ia muncul, sifatnya sangat bersih dan bebas dari kesalahan, pada saat membuahkan akibat juga menghasilkan akibat yang  baik,  sehingga  disebut  kusala.  Contohnya ketika melakukan dāna, berpikir bahwa dengan melakukan dāna ini, semoga  Buddha  sāsanā  (ajaran  Buddha)  berkembang  dan bertahan  lama,  pemikiran  ini  merupakan  kusala.  Kusala citta sangat bersih dan bebas dari kesalahan serta memberikan akibat yang baik.

Sekarang akan dijelaskan mengenai abyākata. Ketika ia muncul, sifatnya tidaklah kotor maupun bersih, karena abyākata bukan kusala bukan pula akusala.  Singkatnya, rūpa adalah abyākata. Vipāka citta (kesadaran hasil) juga merupakan abyākata. Pada saat kita tidur, bhavaṅga citta yang muncul juga disebut vipāka citta.  Ketika vipākacitta muncul, hetu (akar) juga  termasuk  di dalamnya, tetapi ini bukan kusala citta bukan pula akusala citta. Ini hanya vipāka citta yang juga disebut abyākata yang muncul.

 Tetapi pada batin Buddha dan para Arahat, kusala maupun akusala tidak dapat muncul, hanya kiriyā abyākatacitta (kesadaran yang bersifat fungsional) yang dapat muncul. Walaupun Buddha dan  para  Arahat  juga  melakukan  perbuatan  bajik  (kusala), contohnya,  memancarkan  mettā  (cinta  kasih),  membabarkan  Dhamma,  dan  sebagainya  demi  manfaat  makhluk-makhluk;  dengan  melakukan  perbuatan-perbuatan  bajik  (kusala)  ini, tidak dapat dikatakan bahwa Buddha dan para Arahat memiliki kusala citta,  sebagaimana  yang  terjadi  pada  orang  yang  belum  mencapai  kesucian  (puthujjana) dan para makhluk suci (ariya) pada tataran-tataran kesucian sebelum mencapai Arahat.

Buddha dan para Arahat memiliki batin yang disebut kiriyā abyākata citta karena tidak akan menghasilkan akibat di masa yang akan datang. Karena para Buddha dan para Arahat tidak memiliki kegelapan batin  dan  kemelekatan,  maka  tindakan yang  mereka  lakukan  hanyalah  tindakan;  perbuatan  mereka, cetana  atau  niat  mereka  tidak  termasuk  kamma  yang  dapat menghasilkan akibat.

Sebagaimana yang  telah  disebutkan  sebelumnya,  batin tidak dapat muncul tanpa adanya objek. Apakah keenam objek tersebut?

  1. Rūpāyatana merupakan objek penglihatan.
  2. Saddāyatana merupakan objek suara.
  3. Gandhāyatana merupakan objek penciuman.
  4. Rasāyatana merupakan objek rasa.
  5. Phoṭṭhabbāyatana  merupakan   objek   sentuhan, yaitu apapun yang dapat disentuh oleh orang, dapat tersentuh oleh tempat tidur, oleh selimut atau dapat disentuh oleh apapun.
  6. Selain  dari  lima  objek  yang  telah  disebutkan,  objek-objek yang lainnya disebut dhammāyatana. Tidak ada objek-objek lain selain dari enam jenis objek ini.

Mari  kita  lihat  objek  paṭisandhi  Bodhisatta  (calon  Buddha Gotama).   Paṭisandhi   secara   kasar   dapat   diterjemahkan  sebagai  “kelahiran  kembali”,  “menghubungkan  kembali”,  atau “menghubungkan  kelahiran  kembali”.  Biasanya  kita  melihat banyak makhluk yang berbeda-beda di  dunia  ini,  pria,  wanita, hewan  dan  sebagainya,  semua  dengan  penampilan  dan  sifat yang  berbeda. Secara  umum,  kamma baik atau buruklah yang  menentukan  keberadaan  kelahiran  seseorang  pada  saat paṭisandhi untuk kehidupan selanjutnya.

Ketika semua dewa dan brahma memohon pada Bodhisatta dewa, yang pada saat itu tnggal di alam surga Tusitā, “Mohon mengambil paṭisandhi  di  alam manusia dan menjadi Buddha untuk menyelamatkan semua makhluk”. Bodhisatta kemudian melihat waktu yang cocok untuk menjadi Buddha dan memancarkan mettā kepada semua makhluk.

Apakah memancarkan mettā termasuk kusala atau akusala citta?

Mari kita mengulang, apa saja yang termasuk enam hetu?

Hetu mana yang termasuk dalam memancarkan mettā?

 Mettā  adalah  adosa.  Adosa  hetu,  jadi  yang  muncul  adalah adosa citta atau kusala citta. Bodhisatta selalu mengembangkan kusala selama empat asaṅkheyya dan seratus ribu siklus dunia dalam merampungkan pāramī  hingga Beliau terlahir kembali di alam  surga  Tusitā.  Kemudian,  sebelum  mengambil  paṭisandhi untuk kehidupan berikutnya yang merupakan kehidupan terakhir Beliau, Beliau memancarkan mettā mengambil objek semua makhluk sebagai dhammāyatana (objek batin). Setelah itu Beliau wafat dari alam surga Tusitā dan mengambil paṭisandhi  dalam rahim ratu Māyādevī. Pada saat paṭisandhi Beliau, tidak hanya terdapat paṭisandhi citta, tetapi juga cetasika dan kammajarūpa. Kammajarūpa  adalah  materi  yang  terbentuk  dari  kamma,  dan terdapat 30 kalāpa dalam Kammajarūpa, yaitu:

  • 10 Kāyadassaka kalāpa (kelompok materi tubuh),
  • 10 Bhāvadassaka kalāpa (kelompok materi jenis kelamin), dan
  • 10 Hadayadassaka  kalāpa (kelompok materi landasan jantung). 

Paṭisandhi citta dari Bodhisatta adalah citta yang pertama dari 8 Mahākusalacitta – somanassa-sahagataṁ ñāṇa-sampayutaṁ asaṅkhārika citta. Ini  merupakan  citta  terbaik  di  antara  8  jenis mahākusala  citta. Hetu  dari  paṭisandhi  Beliau  di  antaranya: alobha (ketidakserakahan), adosa (ketidakbencian) dan amoha (paññā)  dikarenakan  kusala  dari  memancarkan  mettā  kepada semua makhluk pada saat Beliau berada di alam surga Tusitā.

Terdapat  tiga  jenis  tingkatan  (tinggi,  menengah,  rendah) pada citta pertama dari mahākusala citta. Paṭisandhicitta Beliau merupakan yang tertinggi.  Oleh sebab itu, di antara paṭisandhi citta  semua  makhluk,  amoha  (paññā)  pada  paṭisandhicitta Bodhisatta  merupakan  yang  tertinggi  dan  yang  paling  tajam, dan paññā dari paṭisandhicitta Bodhisatta merupakan akar untuk mencapai Sabbaññuta Ñāṇa (Pengetahuan Maha Tahu).

  • Patisandhi Citta pada  beberapa  orang  sangat  rendah, dan di dalamnya tidak terdapat akar bajik sepert alobha, adosa  and  amoha. Jadi ketika mereka lahir, mereka mungkin terlahir buta, bisu atau tuli. Karena kamma-nya rendah, maka rūpa-nya juga menjadi rendah.
  • Pada beberapa orang, paṭisandhi citta mereka adalah jenis yang menengah.

 

Akar (hetu) alobha, adosa termasuk dalam paṭisandhi citta mereka, tetapi akar amoha (paññā) tidak termasuk di dalamnya. Jadi ketika mereka lahir, kebijaksanaan pengetahuan (ñāṇa) mereka rendah. Secara bertahap kebijaksanaan (ñāṇa) mereka akan menjadi sedikit lebih tinggi karena mereka belajar, tetapi ñāṇa mereka tidak akan menjadi lebih tajam karena mereka tidak memiliki paññā hetu pada paṭisandhi citta.

  • Pada beberapa orang, mereka memiliki paṭisandhi citta yang superior. Semua akar yang bajik : alobha, adosa dan amoha termasuk dalam paṭisandhi citta mereka. Sejak mereka masih muda, ñāṇa mereka tajam. Secara bertahap ñāṇa mereka menjadi semakin tajam dan semakin tajam karena mendapat pendidikan.

 

Pada kehidupan sehari-hari, kita perlu merenungkan apakah akusala hetu (akar tidak bajik) atau kusala hetu (akar bajik) yang muncul pada batin kita. Kemudian kita perlu merenungkan dengan mengambil objek apa akusala dankusala tersebut muncul dalam batin kita. Jika kita berpikir secara mendalam mengenai hal ini, kita akan tahu bahwa segalanya hanya terdiri dari citta, cetasika dan rūpa. Tidak ada yang disebut sebagai orang, tidak ada makhluk, tidak ada dia dan tidak ada yang disebut sebagai saya atau aku.

 

Mari kita sedikit memperluas mengenai ārammaṇa paccaya (kondisi objek). Terdapat banyak objek di dunia ini. Alam manusia merupakan alam Kāma (alam nafsu indera ) di mana lobha yang memimpin dan merupakan tempat tinggal bagi mereka yang memiliki hasrat keinginan. Oleh sebab itu, kita memiliki banyak lobha. Di hari sejak bayi terlahir hingga ia dapat membuka matanya, orang tua ataupun kerabat telah membujuk, mendorong (atau menggodanya) untuk memiliki hasrat.

Dunia ini merupakan alam Kāma (alam nafsu indera ). Batin dari bayi juga dipimpin oleh lobha citta, yang melekat pada kehidupan ini. Semakin kita menggoda bayi dengan objek yang disenanginya, semakin banyak lobha citta yang muncul padanya. Ketika ia tumbuh sedikit lebih besar, orang tua memberikannya makanan, maka ia memiliki hasrat terhadap makanan. Ketika orang tua menyanyikan lagu untuknya, ia pun memiliki hasrat untuk mendengarkan lagu. Karena alam ini adalah alam Kāma, bayi diperlakukan atau diberikan objek menyenangkan. Secara bertahap hasratnya juga bertambah.

Sebuah perumpamaan dalam kitab ulasan Jātaka mengumpamakan lobha manusia dengan tanduk dari seekor sapi jantan. Ketika seekor sapi tumbuh besar, tanduk tersebut tidak akan menjadi semakin pendek. Semakin sapi tumbuh, tanduknya akan semakin panjang. Demikian pula manusia, ketika mereka lahir, citta mereka dimulai dengan lobha, melekat pada kehidupan ini. Semakin mereka tumbuh besar, semakin besar lobha yang mereka miliki. Tetapi pada masa leluhur kita, mereka tidak memiliki banyak lobha, karena pada saat itu tidak banyak objek menyenangkan. Pada saat itu tidak ada mobil, sehingga tidak ada hasrat untuk memiliki mobil. Tidak ada bangunan bata saat itu, sehingga tidak ada keinginan untuk memiliki bangunan bata. Sekarang semakin banyak objek menyenangkan, maka hasrat juga semakin meningkat. Pada zaman dahulu, kejahatan tidak banyak. Sekarang kejahatan semakin meningkat. Mengapa? Ini dikarenakan semakin banyaknya objek menyenangkan danlobha juga meningkat. Sehingga kejahatan juga semakin banyak.

Ketika lobha muncul, dosa juga akan mengikuti jika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dengan cara ini, dosa menjadi semakin kuat. Karena kuatnya dosa, cittajarūpa yang dihasilkan oleh batin tidak dapat dikendalikan, sehingga semakin banyak kejahatan, semakin banyak pelanggaran. Lalu lobha, dosa, māna (kesombongan), issā (iri hati), dan macchariya (kekikiran) juga menjadi semakin kuat dan semakin kuat.

Pada zaman dulu, perpecahan karena bisnis di antara kakak beradik jarang terjadi. Sekarang marak terjadi perpecahan di antara kakak beradik yang disebabkan bisnis. Hal ini dikarenakan oleh lobha, dosa mengikuti dan issā, macchariya juga turut hadir sehingga terdapat banyak akusala.

 

Oleh sebab itu, Sang Buddha mengajarkan kepada brahmaṇa Māgaṇḍiya di dalam Māgaṇḍiya Sutta -Majjhima Nikāya, hal yang berhubungan dengan objek menyenangkan yang disenangi oleh orang-orang. Pandangan dari brahmaṇa tersebut adalah bahwa seseorang perlu menikmati melihat objek penglihatan, mendengarkan objek suara dan sebagainya. Tetapi Sang Buddha mengatakan bahwa seseorang seyogianya tidak mengikuti kenikmatan dari objek penglihatan, objek suara dan sebagainya. Oleh sebab itu, Māgaṇḍiya menyalahkan Sang Buddha bahwa Sang Buddha menghancurkan dunia (loka).

Suatu hari, ia bertemu dengan Sang Buddha dan ia mengatakan kepada Sang Buddha bahwa ia memiliki pandangan yang demikian dan demikian. Sang Buddha berkata kepadanya, “Māgaṇḍiya, batin dari semua makhluk menyenangi objek. Jika mereka mengikuti objek-objek menyenangkan, mereka akan mendapatkan banyak penderitaan”. Sang Buddha memberikan perumpamaan penyakit kusta atau lepra untuk menyenangi objek yang menyenangkan. Seseorang yang menderita penyakit kusta, cairan keluar dari lukanya. Karena rasa gatal dari luka, ia menggaruk dan memanggang lukanya di api. Setelah itu cairan mengering dan rasa gatal lenyap, tetapi tidak lenyap sepenuhnya, rasa gatal tersebut hanya lenyap sebentar saja. Sesaat kemudian, luka kembali terasa gatal dan ia kembali menggaruknya, cairan pada luka keluar lagi dan ia kembali memanggang lukanya di api. Dengan melakukan hal demikian, penderitaan hanya berkurang sedikit, tetapi penyakit kustanya menjadi bertambah parah.

 

Akhirnya, ia menjalani pengobatan dengan seorang dokter yang baik dan penyakitnya sembuh total. Di lain waktu ketika temannya melihat api dan memintanya untuk memanggang lukanya, ia akan menolak dan berkata, “Sebelumnya, saya memanggangnya dengan api karena penyakit saya. Sekarang saya tidak sakit lagi dan api ini akan membuat saya menderita”.

Demikian pula, menyenangi objek yang menyenangkan itu bagaikan memanggang luka pada api. Ketika seseorang mendengarkan pertunjukan hiburan musik, ia tidak dapat mengendalikan diri dan ingin melihatnya. Ini bagaikan memanggang luka. Setelah melihat pertunjukan, menghabiskan banyak waktu dan uang, ia berhenti dan memutuskan untuk tidak melihat lagi. Tetapi setelah berlalunya waktu, ketika ia mendengar hiburan musik demikian lagi, ia tidak dapat mengendalikan diri dan pergi melihat pertunjukan lagi. Ini bagaikan kembali memanggang luka pada api lagi. Di sini hanya diberikan contoh objek penglihatan dan objek suara. Sama halnya dengan objek penciuman, objek rasa dan objek sentuhan. Anda dapat mencoba memahami lebih lanjut.

Jika seseorang memiliki sedikit paññā (kebijaksanaan), ia berpikir bahwa hal ini membuatnya menderita, menghabiskan banyak waktu dan uang, kemudian ia menjaga sīla dan mempraktekkan Dhamma. Hanya setelah ia merealisasi Dhamma, ia dapat melihat keburukan dari hiburan dan menyenangi objek yang menyenangkan. Dan saat ia kembali mendengar atau seseorang mengajaknya melihat hal demikian, ia tidak lagi ingin menikmati hal tersebut.

Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, brahmaṇa Māgaṇḍiya sangat menyukainya dan memohon kepada Sang Buddha untuk menahbiskannya menjadi seorang bhikkhu. Kemudian ia mempraktekkan Dhamma dan segera mencapai tingkat kesucian Arahat. Ia pun secara total terbebas dari seluruh penyakit-penyakit kilesā ( kekotoran batin ).

 

Sekarang, walaupun kita semua belum terbebas dari penyakit-penyakit kilesā, jika kita dapat merenungkan dengan paññā, maka kita akan sedikit terbebas dari penyakit. Ini dikarenakan semakin kita mengikuti objek-objek, semakin banyak akar tidak bajik (akusala hetu) yang kita miliki dan semakin banyak kita menimbun akusala. Setiap hari, kita hidup dengan dua paccaya ini dan mendapatkan kusala maupun akusala.

Sekarang akan dijelaskan makna kalimat Pāḷi yang berhubungan dengan mata.

Mari membaca kalimat Pāḷi :

R ū p ā y a t a n a ṁ , c a k k h u v i ñ ñ ā ṇ a d h ā t u y ā taṁsampayuttakānañca dhammānaṁ, ārammaṇapaccayena paccayo.

Jika diterjemahkan kata per kata, rūpāyatanaṁ adalah objek penglihatan; cakkhuviññāṇadhātuyā adalah kesadaran mata; taṁsampayuttakānañca dhammānaṁ berarti cetasika (faktor-faktor batin) yang menyertai.Ārammaṇapaccayena berarti dengan kondisi objek. Paccayo berarti menyebabkan munculnya. Jadi secara keseluruhan kalimat Pāḷi ini berarti : “Objek penglihatan menyebabkan munculnya kesadaran mata dan cetasika(faktor-faktor batin) yang menyertainya melalui kondisi objek”.

 

Ketika objek penglihatan dipantulkan pada landasan mata (cakkhupasāda), kesadaran mata (cakkhuviññāṇa) beserta cetasika yang menyertainya muncul. Di sini kita perlu mengetahui bahwa objek penglihatan tidak memiliki kesadaran mata; landasan mata juga tidak memiliki kesadaran mata. Contohnya ketika seseorang memukul gendang dengan sebuah tongkat, suara muncul. Pada kasus ini, gendang tidak memiliki suara, demikian pula tongkat. Hanya karena proses memukul gendang dengan tongkat, suara muncul. Gendang seperti landasan mata (cakkhupasāda) dan tongkat seperti objek penglihatan. Suara dari gendang seperti kesadaran mata (cakkhuviññāṇa).

Untuk menjelaskan objek suara (saddāyatanaṁ), mari kita lafalkan bersama :

S a d d ā y a t a n a ṁ , s o t a v i ñ ñ ā ṇ a d h ā t u y ā taṁsampayuttakānañca dhammānaṁ, ārammaṇapaccayena paccayo.

Objek suara menyebabkan munculnya kesadaran telinga (sotaviññāṇa) dan cetasika (faktor-faktor batin) yang menyertainya melalui kondisi objek (ārammaṇa paccaya). Ketika objek suara dipantulkan pada landasan telinga (sotapasāda), kesadaran telinga dan cetasika yang menyertainya muncul.

Untuk menjelaskan objek penciuman (gandhāyatana), mari kita lafalkan bersama :

G a n d h ā y a t a n a ṁ , g h ā n a v i ñ ñ ā ṇ a d h ā t u y ā taṁsampayuttakānañca dhammānaṁ, ārammaṇapaccayena paccayo.

Objek penciuman menyebabkan munculnya kesadaran hidung (ghānaviññāṇa) dan cetasika yang menyertainya melalui kondisi objek (ārammaṇa paccaya). Ketika objek penciuman dipantulkan pada landasan hidung (ghānapasāda), kesadaran hidung dan cetasika yang menyertainya muncul.

Untuk menjelaskan objek rasa (rasāyatana), mari kita lafalkan bersama :

R a s ā y a t a n a ṁ , j i v h ā v i ñ ñ ā ṇ a d h ā t u y ā taṁsampayuttakānañca dhammānaṁ, ārammaṇapaccayena paccayo.

Objek rasa menyebabkan munculnya kesadaran lidah (jivhāviññāṇa) dan cetasika yang menyertainya melalui kondisi objek (ārammaṇa). Ketika objek rasa dipantulkan pada landasan lidah (jivhāpasāda), kesadaran lidah dan cetasika yang menyertainya muncul.

Untuk menjelaskan objek sentuhan (phoṭṭhabbāyatana), mari kita lafalkan bersama:

p h o ṭ ṭ h a b b ā y a t a n a ṁ , k ā y a v i ñ ñ ā ṇ a d h ā t u y ā taṁsampayuttakānañca dhammānaṁ, ārammaṇapaccayena paccayo.

Objek sentuhan menyebabkan munculnya kesadaran tubuh (kāyaviññāṇa) dan cetasika yang menyertainya melalui kondisi objek (ārammaṇa paccaya). Ketika objek sentuhan dipantulkan pada landasan tubuh (kāyapasāda), kesadaran tubuh dancetasika yang menyertainya muncul.

Rūpāyatanaṁ saddāyatanaṁ gandhāyatanaṁ rasāyatanaṁ phoṭṭhabbāyatanaṁ manodhātuyātaṁsampayuttakānañca dhammānaṁ, ārammaṇapaccayena paccayo. Manodhātu berarti elemen/unsur batin. Elemen batin terdiri dari pañcadvārāvacanacitta(kesadaran yang mengarahkan pada pintu indera) dan dua sampaṭicchana citta (kesadaran penerima). Arti dari kalimat lengkap di atas adalah objek penglihatan, suara, aroma, rasa dan objek sentuhan menyebabkan munculnya pañcadvārāvacanacitta dan dua sampaṭicchana citta beserta cetasika yang menyertainya melalui kondisi objek (ārammaṇa paccaya).

S a b b e d h a m m ā , m a n o v i ñ ñ ā ṇ a d h ā t u y ā taṁsampayuttakānañca dhammānaṁ, ārammaṇapaccayena paccayo.

Dalam kalimat Paḷi ini, Sabbe dhammā berarti keenam jenis objek. Kata terakhirpaccayoberarti menyebabkan munculnya. Manoviññāṇadhātu berarti citta–citta selain dari dvipañcaviññāṇa dan manodhātu yaitu santīraṇacitta, voṭṭhapanacitta, javanacitta, dan sebagainya. Taṁsampayuttakānañca dhammānaṁ berarti cetasika yang menyertainya. Ārammaṇapaccayena berarti melalui kondisi objek. Secara keseluruhan kalimat ini berarti : keenam jenis objek menyebabkan munculnya manoviññāṇadhātu (santīraṇa citta, voṭṭhapana citta, javanacitta, dan sebagainya) beserta cetasika yang menyertainya melalui kondisi objek (ārammaṇa paccaya). Di sisi lain, manoviññāṇadhātu berarti “kesadaran batin”, dan ini menunjukkan 76 citta dengan pengecualian dvipañcaviññāṇa dan manodhātu.

Yaṁ yaṁ dhammaṁ ārabbha ye ye dhammā uppajjanti cittacetasikā dhammā, te te dhammā tesaṁ tesaṁ dhammānaṁ, ārammaṇapaccayena paccayo.

Kalimat Paḷi ini berarti, “Dengan mengambil objek-objek tersebut, citta dan cetasika yang menyertainya muncul. Objek-objek tersebut menyebabkan munculnya citta–citta tersebut dan cetasika yang menyertainya melalui kondisi objek (ārammaṇapaccaya).”

Ketika melihat objek penglihatan, jika mendengar suara, batin akan menuju pada objek yang baru tersebut. Oleh sebab itu, batin muncul dengan bergantung pada objek. Magga citta dan phala citta muncul dengan mengambil objek Nibbāna. Ini merupakan kondisi objek (ārammaṇa paccaya).

Batin muncul dengan rangkaian kesadarannya masing-masing. Jika tidak ada objek pada masa sekarang, maka kesadaran kelangsungan hidup (bhavaṅga citta) muncul dan selalu muncul, proses rangkaian kesadaran masing-masing kembali muncul. Secara umum ada dua jenis proses rangkaian kesadaran: proses rangkaian kesadaran pintu batin dan proses rangkaian kesadaran kelima pintu indra.

 

Apakah kelima pintu indera tersebut? Pintu mata, pintu telinga, pintu hidung, pintu lidah, pintu tubuh. Contohnya, melihat bunga, pada saat itu cakkhuviññāṇa muncul pada pintu mata karena adanya objek bunga, rangkaian kesadaran pintu mata yang normal adalah:

 

  1. bhavaṅga (kesadaran kelangsungan hidup yang menghubungkan kehidupan agar tidak berhenti),
  2. atīta bhavaṅga (kesadaran melewati satu bhavaṅga),
  3. bhavaṅgacalana (kesadaranbhavaṅga yang bergetar),
  4. bhavaṅgupaccheda (kesadaran bhavaṅga pemotong),
  5. pañcadvārāvacana (kesadaran pengarah pada kelima pintu indra),
  6. cakkhuviññāṇa (kesadaran mata),
  7. sampaṭicchana (kesadaran penerima),
  8. santīraṇa (kesadaran penyelidik),
  9. voṭṭhapana (kesadaran yang memutuskan),
  10. javana – 1 (kesadaran yang menikmati objek),
  11. javana– 2 ( kesadaran yang menikmati objek ),
  12. javana – 3 ( kesadaran yang menikmati objek ),
  13. javana – 4 ( kesadaran yang menikmati objek ),
  14. javana– 5 ( kesadaran yang menikmati objek ),
  15. javana – 6 ( kesadaran yang menikmati objek ),
  16. javana – 7 ( kesadaran yang menikmati objek ),
  17. 2 tadārammaṇa (kesadaran pencatat).

Secara keseluruhan terdapat 17 momen proses batin. Jangka hidup dari satu rūpa (dalam hal ini adalah objek penglihatan) adalah 17 momen batin. Setelah 17 momen batin, objek penglihatan tersebut (bunga) lenyap. Setelah itu, pintu batin lanjut mengambil objek tersebut dan proses rangkaian kesadaran pintu batin muncul.

Rangkaian kesadaran pintu batin dapat muncul berkali-kali. Saat cakkhuviññāṇa muncul, ia hanya melihat tanpa mengetahui bahwa objek penglihatan tersebut adalah sebuah bunga. Hanya setelah proses rangkaian kesadaran pintu batin muncul minimal empat kali, ia akan mengetahui bahwa itu adalah sebuah bunga. Ia mengetahui bahwa objek penglihatan tersebut adalah bunga karena ia pernah melihat bunga sebelumnya (batin sangatlah cepat). Proses rangkaian kesadaran pintu batin normal adalah: manodvārāvacana, 7 javana dan 2 tadārammaṇa.

Segala hal terjadi dengan proses. Contohnya benih menjadi tunas setelah 7 hari. Walaupun tidak terjadi secara langsung, ia terus berubah setiap waktunya. Jika anda melihat orang yang sudah lama tidak anda lihat, anda mungkin berpikir bahwa ia telah menjadi tua. Faktanya, ia tidak langsung menjadi tua, penampilannya berubah setiap waktu. Berjalan juga merupakan rentetan proses. Makan juga terdiri dari rentetan proses.

Mari kita mengakhiri ārammaṇa paccaya. Batin tidak dapat muncul tanpa objek. Apakah ini sulit? Paccayaniddesa tidak dijelaskan secara singkat, tidak pula secara terperinci. Pada bagian paññāvāra, hal ini dijelaskan dengan sangat terperinci.

Vajra World

Vajra World

Comments