Relative and absolute truth ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

6

Relative and absolute truth ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

In Buddhist philosophy, anything that is perceived by the mind did not exist before the mind perceived it; it depends on the mind. It doesn’t exist independently, therefore it doesn’t truly exist. That is not to say that it doesn’t exist “somewhat”. Buddhists called the perceived world relative truth – a truth that is measured and labeled by our ordinary minds. In order to qualify as ultimate truth, it must not be fabricated, it must not be a product of the imagination, and it must be independent of interpretation.

from the book Not for Happiness: A Guide to the So-Called Preliminary Practices

Kebenaran yang relatif dan absolut ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Dalam filsafat Buddhis, apapun yang bisa dicerap oleh batin, tidak akan muncul sebelum batin mencerapnya; Pencerapan tergantung pada batin. Segala sesuatu tidak bisa berdiri secara mandiri, oleh sebab itu, segala sesuatu disebut tidaklah benar – benar eksis. Tetapi kita bukan mengatakan bahwa segala sesuatu itu "tidak ada". Umat Buddha menyebut kebenaran dunia yang dicerap sebagai sebuah kebenaran yang bisa diukur dan diberi label oleh batin biasa kita. Agar memenuhi syarat sebagai kebenaran tertinggi / ultimit, hal tersebut tidak boleh dibuat – buat, bukan produk imajinasi, dan harus terlepas dari interpretasi.

Dari buku Not for Happiness: A Guide to the So-Called Preliminary Practices